Terduga Pencuri Ayam di Buleleng Tewas, Sempat Serahkan Uang Sekolah

Warga Desa Sidatapa, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, Bali, digemparkan oleh penemuan jenazah seorang pria berinisial KD (42) pada Minggu (26/7/2026) sore. Pria yang sehari-hari bekerja sebagai b...

Terduga Pencuri Ayam di Buleleng Tewas, Sempat Serahkan Uang Sekolah

Warga Desa Sidatapa, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, Bali, digemparkan oleh penemuan jenazah seorang pria berinisial KD (42) pada Minggu (26/7/2026) sore. Pria yang sehari-hari bekerja sebagai buruh tani tersebut diduga kuat sebagai pelaku pencurian ayam dan sempat dilaporkan hilang selama tiga hari. Fakta mengejutkan terungkap: sebelum menghilang, KD secara sadar menyerahkan uang sebesar Rp2.700.000 untuk biaya pendidikan anaknya ke sekolah, sebuah tindakan yang kini menjadi sorotan di tengah penyelidikan polisi.

Kepala Kepolisian Sektor Banjar, AKP I Made Sudarma, dalam keterangannya kepada pewarta, Senin (27/7/2026), menegaskan bahwa penyidik masih mendalami penyebab kematian KD.

“Kami menemukan sejumlah luka pada tubuh korban, namun belum dapat menyimpulkan apakah itu akibat tindak kekerasan atau insiden lain. Saat ini kami menindaklanjuti dengan olah TKP dan pemeriksaan saksi-saksi,”
tegasnya.

Kronologi kejadian dimulai ketika KD tidak pulang ke kediamannya di Banjar Dinas Sidatapa sejak Kamis (23/7/2026) pagi. Istri korban, Ni Luh Sari, menyatakan bahwa suaminya pamit tanpa menyebut tujuan yang jelas.

“Saya dan warga mencari selama tiga hari. Dia terakhir bilang sudah menyerahkan uang SPP anak ke sekolah, setelah itu tidak ada kabar,”
ungkap Sari di rumahnya dengan suara bergetar.

Kunjungan ke Sekolah dan Dugaan Pencurian

Sebelum raib, pada Rabu (22/7/2026) sekitar pukul 10.00 WITA, KD mendatangi langsung SD Negeri 1 Sidatapa. Ia menyerahkan uang tunai Rp2,7 juta kepada petugas tata usaha untuk melunasi tunggakan dan membayar uang pembangunan bagi anaknya yang duduk di kelas 4. Kepala SDN 1 Sidatapa, I Gusti Ayu Sri Wulandari, membenarkan fakta tersebut.

“Benar, bersangkutan datang sendiri dan menyerahkan biaya pendidikan untuk tiga bulan ke depan. Kami tidak menduga apa pun,”
ujarnya.

Bersamaan dengan itu, gelombang laporan kehilangan ayam kampung mencuat di desa setempat. Berdasarkan catatan kepolisian, laporan pertama diterima dari I Ketut Artana (45) pada Rabu malam, yang mengaku kehilangan tiga ekor ayam pejantan. Dua laporan lain menyusul pada Kamis pagi dengan total tujuh ekor ayam raib, ditaksir bernilai sekitar Rp1,4 juta. Olah TKP awal menemukan bulu ayam dan karung yang mengarah pada KD sebagai pelaku. Rekaman kamera pemantau milik warga juga merekam sosok yang diduga KD membawa karung pada Rabu dini hari. Status terduga pun ditetapkan oleh penyidik berdasarkan bukti permulaan itu.

Penemuan Jenazah dan Langkah Hukum

Jenazah KD ditemukan oleh seorang pencari rumput di jurang sedalam kurang lebih 15 meter di perbukitan Banjar Dinas Tegalasih, Desa Sidatapa, pada Minggu sore. Kondisinya sudah membusuk dengan luka robek di bagian belakang kepala serta memar di dada. Tim Identifikasi Polres Buleleng segera mengevakuasi jenazah ke Instalasi Forensik RSUD Buleleng untuk pemeriksaan ilmiah.

Dokter forensik RSUD Buleleng, dr. Putu Ayu Indrawati, dalam keterangan pers menyatakan bahwa penyebab pasti kematian masih menunggu hasil autopsi lengkap dan uji toksikologi.

“Luka yang kami temukan bisa disebabkan oleh pelbagai kemungkinan. Kami menangani ini sesuai standar prosedur penyelidikan kematian tidak wajar,”
paparnya.

AKP Made Sudarma menambahkan bahwa pihaknya tetap berpegang pada asas praduga tak bersalah sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana.

“Penetapan sebagai terduga pencuri ayam tidak otomatis menjadikan yang bersangkutan tersangka. Fokus penyelidikan saat ini adalah mengungkap fakta di balik kematian KD. Kami mengimbau warga menyerahkan proses ini kepada aparat dan tidak berspekulasi,”
tegasnya. Polisi menjadwalkan gelar perkara pada Selasa (28/7/2026).

Respons Pemerintah dan Sorotan Sosial

Kasus ini sontak memicu reaksi di tataran lokal hingga provinsi. Kepala Desa Sidatapa, I Wayan Suardika, menyayangkan terjadinya rangkaian peristiwa tragis ini dan menegaskan perlunya inventarisasi warganya yang masuk kategori miskin ekstrem.

“Kami sudah berkoordinasi dengan Dinas Sosial Buleleng. Dalam Rapat Koordinasi Kecamatan bulan lalu, isu kemiskinan dan anak putus sekolah memang menjadi perhatian utama. Kejadian ini memperlihatkan betapa desakan ekonomi bisa mendorong perbuatan melawan hukum,”
ujarnya.

Sementara itu, Anggota DPRD Buleleng dari Fraksi PDI Perjuangan, I Nyoman Sutrisna, mendorong agar program bantuan pendidikan daerah segera disinergikan dengan data warga miskin yang lebih akurat.

“Pemerintah Kabupaten harus menindaklanjuti Keputusan Bupati tentang Bantuan Operasional Sekolah Daerah agar tepat sasaran. Jangan sampai ada lagi warga yang mempertaruhkan nyawa hanya untuk menyekolahkan anak,”
cetusnya.

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Perwakilan Bali turun tangan. Ketua KPAI Daerah, Ni Komang Sri Lestari, menyampaikan bahwa pihaknya akan melakukan pendampingan psikologis kepada anak KD yang kini berstatus yatim.

“Kami meminta Dinas Sosial dan Dinas Pendidikan segera menerbitkan keputusan penetapan sebagai penerima Program Keluarga Harapan dan bantuan afirmatif. Hak pendidikan anak ini harus dipenuhi secara hukum sesuai UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional,”
tegasnya.

Tindak Lanjut Institusi Pendidikan

Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga Kabupaten Buleleng, Made Ariawan, menyatakan bahwa pihaknya telah berkoordinasi dengan kepala sekolah untuk memastikan anak KD tetap bersekolah.

“Melalui mekanisme dana BOS Afirmasi, seluruh biaya pendidikan anak tersebut ditanggung. Kami juga telah meminta guru agar memberikan pendampingan khusus,”
ucapnya. Sementara itu, SDN 1 Sidatapa menyatakan bahwa uang Rp2,7 juta yang telah diserahkan KD akan tetap dipergunakan sepenuhnya untuk kebutuhan pendidikan sang anak.

Hingga berita ini diturunkan, aparat masih mendalami kemungkinan keterlibatan pihak lain dalam kematian KD sekaligus menelusuri motif ekonomi yang melatarbelakangi dugaan pencurian. Kepolisian berjanji transparan. Kasus ini menandaskan potret getir di mana kebutuhan dasar warga berhadapan langsung dengan jerat pidana, sembari menagih komitmen nyata para pengambil keputusan untuk hadir lebih dekat ke lapangan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User