Swadaya Mandiri: Warga Lampung Bangun Sekolah dari Patungan, Atap Nipah Lalu Seng

Tanggamus – Keterbatasan akses pendidikan di pedalaman Lampung tidak menyurutkan semangat warga Pedukuhan Batu Nyangka, Pekon Tanjung Raja, Kecamatan Cukuh Balak, Kabupaten Tanggamus. Alih-alih meny...

Jul 13, 2026 - 17:29
0 0
Swadaya Mandiri: Warga Lampung Bangun Sekolah dari Patungan, Atap Nipah Lalu Seng

Tanggamus – Keterbatasan akses pendidikan di pedalaman Lampung tidak menyurutkan semangat warga Pedukuhan Batu Nyangka, Pekon Tanjung Raja, Kecamatan Cukuh Balak, Kabupaten Tanggamus. Alih-alih menyerah, mereka bahu-membahu secara swadaya mendirikan sekolah dasar yang menjadi satu-satunya harapan bagi anak-anak di wilayah tersebut.

Inisiatif ini lahir dari situasi genting. Sebelum bangunan sekolah berdiri, kegiatan belajar mengajar terpaksa digelar di rumah-rumah warga yang dipinjamkan. Jarak tempuh menuju sekolah terdekat yang mencapai puluhan kilometer serta kondisi jalan yang sulit membuat banyak anak tidak dapat mengecap pendidikan formal secara layak.

Cikal Bakal Sekolah: Patungan Beli Tanah dan Material Seadanya

Tokoh Masyarakat Batu Nyangka, Junaidi, menuturkan bahwa ide membangun sekolah muncul dari kegelisahan bersama. Warga yang mayoritas berprofesi sebagai petani kemudian sepakat mengumpulkan uang secara sukarela. Dari hasil patungan tersebut, mereka membeli sebidang tanah dari salah satu warga seharga Rp1,5 juta pada tahun 2000. "Dulu tanahnya dibeli dari warga, kami patungan," ujar Junaidi saat ditemui, Senin (13/7). Tanah itu kemudian dihibahkan kepada pemerintah agar statusnya jelas untuk fasilitas pendidikan.

Pada masa awal pendirian, struktur bangunan amat sederhana. Atapnya menggunakan nipah, sementara tiang dan dindingnya berasal dari kayu bulat yang dikumpulkan secara gotong royong. Tidak ada plafon atau asbes, sehingga siang hari suhu di dalam kelas terasa panas. "Bangunannya dulu beratap nipah, tiangnya dari kayu bulat hasil gotong royong masyarakat," kenang Junaidi. Ruang kelas yang minim ventilasi itu menjadi saksi bisu perjuangan awal.

Saat pertama kali dibuka, sekolah yang kemudian dikenal sebagai SDN 1 Tanjung Raja Kelas Jauh itu hanya menampung enam orang murid. Jumlah tersebut mencerminkan betapa sulitnya meyakinkan warga untuk menyekolahkan anak karena keterbatasan sarana dan stigma bahwa pendidikan bukan prioritas.

Gaji Guru Ditanggung Iuran Orang Tua

Persoalan tidak berhenti pada bangunan fisik. Warga juga harus memutar otak untuk mendatangkan tenaga pengajar. Pada masa itu, pemerintah belum menugaskan guru ke lokasi yang relatif terisolasi. Junaidi mengungkapkan bahwa mereka mendatangkan dua orang guru dari daerah Gunungsari. Bukan oleh pemerintah, melainkan oleh masyarakat sendiri. "Dulu gurunya dari Gunungsari, ada dua orang. Kami yang membayar gajinya," ucapnya. Setiap bulan, warga mengumpulkan iuran sebesar Rp100.000 per bulan untuk menggaji kedua pengajar itu.

Hayani, salah seorang guru pertama yang mengajar di sekolah tersebut, menjadi bagian penting dari sejarah ini. Ia bersama rekannya harus menempuh medan berat setiap hari untuk bisa sampai di kelas kayu beratap nipah itu. Dedikasi para guru honorer seperti Hayani menjadi penopang utama kegiatan belajar hingga akhirnya pemerintah daerah mengakui eksistensi sekolah itu dan menugaskan guru negeri secara bertahap.

Perbaikan Bertahap dan Harapan ke Depan

Seiring bertambahnya jumlah murid, warga terus berbenah. Atap nipah diganti dengan seng agar lebih tahan cuaca dan mengurangi panas. Material seperti asbes kemudian dipasang untuk plafon. Bangunan direhab secara swadaya setiap kali ada kerusakan. Meski demikian, standar kelayakan ruang kelas sebagaimana diatur dalam peraturan pemerintah masih belum sepenuhnya terpenuhi.

Saat ini, SDN 1 Tanjung Raja Kelas Jauh telah mengalami sejumlah peningkatan. Jumlah murid bertambah, dan pemerintah daerah mulai memberikan perhatian berupa bantuan rehabilitasi ringan serta pengiriman guru ASN. Namun, sarana pendukung seperti perpustakaan, listrik yang stabil, dan akses air bersih masih menjadi pekerjaan rumah.

Kisah di Pedukuhan Batu Nyangka ini menjadi cerminan nyata ketimpangan akses pendidikan di wilayah terpencil. Di sisi lain, semangat patungan dan gotong royong warganya menunjukkan bahwa keterbatasan tidak selalu berarti ketidakberdayaan. Model swadaya murni tanpa bantuan Lembaga Swadaya Masyarakat ini menjadi bukti bahwa kesadaran kolektif tentang pentingnya pendidikan dapat menggerakkan perubahan dari akar rumput.

Pemerhati pendidikan dari Universitas Lampung, yang menolak disebut namanya karena belum memiliki data resmi, menyebut bahwa praktik serupa terjadi di sejumlah titik di Provinsi Lampung. Ia mendorong agar pemerintah tidak hanya fokus pada pembangunan infrastruktur di perkotaan, tetapi juga memprioritaskan komunikasi dan pendampingan dengan komunitas pedalaman. "Ketika masyarakat sudah melangkah duluan, seharusnya negara tinggal memfasilitasi. Jangan malah mereka yang terus diminta menunggu," ujarnya singkat.

Junaidi, yang kini menjadi salah satu penjaga semangat di sekolah itu, berharap kisah perjuangan ini bisa menjadi pengingat bagi generasi muda dan pemangku kebijakan. "Kami hanya ingin anak-anak tidak putus sekolah. Kalau bangunannya masih seadanya, yang penting hatinya luas untuk menerima ilmu," tutupnya.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
rizky-amelia

Reporter Senior. Meliput dinamika politik nasional, kebijakan publik, dan isu parlemen selama 8 tahun. Alumni FISIP UI.

Comments (0)

User