Surabaya — Andie Peci, Bonek Penggerak Perdamaian, Meninggal Dunia
Langit Surabaya pagi itu terasa lebih kelam. Di ruang ICU RSUD dr Mohamad Soewandhie, puluhan bonek dan rekan sesama aktivis buruh bergantian datang. Merek
Langit Surabaya pagi itu terasa lebih kelam. Di ruang ICU RSUD dr Mohamad Soewandhie, puluhan bonek dan rekan sesama aktivis buruh bergantian datang. Mereka menahan tangis di balik masker, berharap ada keajaiban. Namun takdir berkata lain. Andie Peci, bonek tulen sekaligus aktivis buruh yang selama puluhan tahun menjadi jembatan antara suporter dan buruh, mengembuskan napas terakhirnya pada Senin dini hari pukul 03.15 WIB. Ia wafat setelah berbulan-bulan dirawat intensif akibat penyakit yang menggerogoti tubuhnya. “Selamat jalan, kawan. Surabaya kehilangan salah satu putra terbaiknya,” bisik seorang bonek senior yang ikut mengawal jenazah.
Dari Suara Kritis di Stadion hingga Garda Depan Buruh
Bagi ribuan buruh di Surabaya, Andie adalah suara yang tak bisa dibungkam. Sejak awal 2000-an, ia rajin menyuarakan aspirasi bonek di tribun selatan Stadion Gelora Bung Tomo. Namun jiwanya yang selalu gelisah terhadap ketidakadilan membawanya melangkah lebih jauh: menjadi aktivis buruh. Bersama sejumlah kolega, ia mendirikan simpul Aliansi Buruh Menggugat di kawasan industri SIER. Lebih dari 15 tahun ia habiskan untuk berdiri di garis depan unjuk rasa, memperjuangkan upah layak, jaminan sosial, dan hak berserikat. “Dia tidak pernah takut. Sekali dia angkat toa, suaranya menggetarkan gedung-gedung pabrik,” kenang Slamet, buruh PT X yang kerap turut aksi bersamanya.
Perjalanan itu tidak mulus. Andie beberapa kali berurusan dengan aparat, dijebloskan ke sel, bahkan sempat menjadi target intimidasi. Namun ia tak surut. Setiap kali bebas, ia langsung kembali ke barisan depan. Bagi Andie, bonek dan buruh adalah dua sisi dari satu koin yang sama: kaum marginal yang kerap diabaikan. Maka dari kedua identitas itu ia bangun simpul solidaritas yang hari ini mengakar kuat di Surabaya dan sekitarnya.
Merajut Kembali Benang Persaudaraan yang Putus
Namun mungkin yang paling dikenang dari sosok perokok berat ini adalah perannya sebagai penggerak perdamaian. Saat rivalitas antarsuporter memanas pasca-insiden Kanjuruhan 2022, Andie lantang menyerukan rekonsiliasi. Ia berulang kali memediasi pertemuan antara pentolan bonek dan Aremania di tempat netral.
“Bonek bukan perusuh. Kami hanya ingin suara kami didengar. Selama ini kami selalu jadi kambing hitam. Kini saatnya duduk bersama, saling mengerti,” ujarnya dalam sebuah forum diskusi di Universitas Airlangga, September tahun lalu.Kata-kata itu kemudian menjadi viral dan menjadi semacam manifesto gerakan damai dari akar rumput.
Bersama 17 simpul bonek yang tersebar di seluruh Jatim, Andie berhasil menyusun nota kesepahaman damai yang ditandatangani perwakilan suporter pada November 2023. Ia percaya, rivalitas di lapangan tak boleh memutus tali persaudaraan sesama rakyat kecil. “Musuh kita bukan saudara kita sendiri. Musuh kita adalah ketidakadilan,” begitu petuahnya yang selalu diingat kawan-kawannya.
Warisan Abadi: Suara yang Tak Bisa Dibungkam
Kepergian Andie langsung memantik gelombang duka di media sosial. Tagar #RIPAndiePeci menggema di Twitter, diiringi unggahan foto-fotonya saat memimpin aksi buruh atau saat bercengkerama dengan para bonek di tribun. Akun resmi Aliansi Buruh Menggugat menyebutnya sebagai “simbol perlawanan yang tak kenal lelah”. Sementara itu, Persebaya Surabaya lewat pernyataan resmi menyampaikan belasungkawa mendalam. “Beliau adalah contoh bagaimana seorang suporter sepak bola menjadi agen perubahan sosial yang sesungguhnya,” tulis manajemen Bajul Ijo.
Jenazah Andie disemayamkan di rumah duka di kawasan Rungkut, sebelum dimakamkan di TPU Keputih siang harinya. Ratusan buruh dan bonek beriringan mengantar ke peristirahatan terakhir, mengenakan kaus hitam bertuliskan “Bonek Rakyat” dan “Andie Peci Abadi”. Mereka berjalan kaki sejauh tiga kilometer, menyanyikan yel-yel khas bonek yang kali ini terdengar sendu. “Api perjuanganmu tak akan padam, Cak. Swargo katutmu,” pekik salah seorang buruh, dijawab serempak oleh barisan pelayat.
Kisah Andie Peci mungkin telah tamat, tetapi gaung suaranya akan terus memantul di setiap pabrik dan tribun stadion. Surabaya memang kehilangan putra kebanggaannya, namun warisan damai dan solidaritas yang ia bangun tetap hidup di hati ribuan rakyat kecil yang ia bela.
[TAGS]: Andie Peci, Bonek, Aktivis Buruh, Surabaya, Perdamaian Suporter [SOCIAL_TWEET]: Innalillahi… Andie Peci, bonek sejati & aktivis buruh penggerak perdamaian, telah berpulang. Surabaya berduka. Suara lantangnya kini jadi kenangan. Selamat jalan, kawan. Perjuanganmu akan terus menyala. #RIPAndiePeci #Bonek #BuruhBersatu #Surabaya [SOCIAL_FB]: Kota Pahlawan kembali berduka. Andie Peci, bonek yang mendedikasikan hidupnya untuk suara buruh dan perdamaian, telah tiada. Berikut kisah perjuangannya dari tribun stadion hingga garda depan aksi buruh. [SOCIAL_TG]: 🕊️ Andie Peci, bonek penggerak perdamaian dan aktivis buruh, meninggal dunia hari ini. Surabaya kehilangan putra terbaiknya. Selamat jalan, kawan. Warisan damaimu tetap hidup. [SOCIAL_THREADS]: Surabaya hari ini mendung. Andie Peci, bonek yang selalu teriak lantang demi buruh, akhirnya diam selamanya. Tenanglah, kawan. Suara kecil yang kau nyalakan di pabrik-pabrik dan tribun stadion tak akan padam.
Comments (0)