Sisa Perkampungan di Dasar Bendungan Karian Muncul Kala Kemarau Panjang
Penurunan drastis permukaan air Bendungan Karian di Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, selama puncak musim kemarau tahun ini menyingkap pemandangan yang telah lama tenggelam. Struktur fondasi rumah-rum...
Penurunan drastis permukaan air Bendungan Karian di Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, selama puncak musim kemarau tahun ini menyingkap pemandangan yang telah lama tenggelam. Struktur fondasi rumah-rumah tua, sisa-sisa pagar beton, pecahan tangga, dan jalan setapak berbatu yang dahulu menjadi bagian dari sebuah perkampungan padat penduduk kini kembali terlihat di atas permukaan tanah yang retak akibat kekeringan. Masyarakat setempat menyebut fenomena ini sebagai kemunculan kembali "kampung yang hilang"—sebuah istilah yang merujuk pada permukiman yang ditenggelamkan saat proyek strategis nasional Bendungan Karian diresmikan dan mulai menggenangi area tersebut beberapa tahun silam.
Berdasarkan data dari Balai Besar Wilayah Sungai dan instansi pengelola sumber daya air setempat, volume tampungan Bendungan Karian saat ini berada pada titik terendah dalam tiga tahun terakhir. Tinggi muka air waduk dilaporkan menyusut hingga lebih dari 12 meter dari ambang normal, memperlihatkan area seluas puluhan hektare yang biasanya terendam sepenuhnya. Di atas hamparan tanah kering yang sebelumnya menjadi dasar waduk itulah sisa-sisa permukiman lama mulai tampak secara kasatmata.
Jejak Peradaban yang Kembali ke Permukaan
Reruntuhan yang tersingkap bukan sekadar bongkahan material bangunan. Di beberapa titik, struktur ruangan seperti bekas dapur dengan lantai keramik motif lama masih bisa dikenali. Tiang-tiang penyangga rumah dari kayu jati yang telah lapuk sebagian masih berdiri miring, sementara sumur-sumur tua yang dahulu menjadi sumber air bagi ratusan keluarga kini menganga kosong, dasarnya dipenuhi tanah mengeras. Sisa sebuah mushala kecil dengan mihrab yang menghadap ke arah barat menjadi pemandangan yang paling menyentuh bagi warga yang datang melihat langsung. Nisan-nisan di pemakaman kecil yang terletak di perbatasan kampung juga mulai menyembul, meskipun sebagian besar masih tertutup lapisan lumpur kering.
Pengamatan lapangan yang dilakukan tim pemantau pada Kamis lalu (24/7) mencatat setidaknya terdapat tiga klaster utama bangunan yang masih dapat diidentifikasi. Klaster pertama berada di sebelah timur area waduk yang mencakup sekitar 15 pondasi rumah, klaster kedua di bagian tengah dengan sisa-sisa bangunan publik, dan klaster ketiga di sisi barat yang didominasi oleh bekas lahan pertanian dengan pematang sawah yang polanya masih bisa ditelusuri.
Kenangan Warga yang Tak Kunjung Surut
Kehadiran kembali sisa-sisa kampung lama ini membangkitkan gelombang nostalgia di kalangan warga eks penghuni dan keturunannya. Sejumlah warga dari desa transmigrasi lokal dan permukiman relokasi yang kini tersebar di beberapa kecamatan sekitar Lebak sengaja mendatangi lokasi tersebut begitu kabar tentang surutnya air menyebar.
Ujang, seorang pria berusia 62 tahun yang kini menetap di Kecamatan Rangkasbitung, menceritakan bahwa dirinya merupakan generasi ketiga yang lahir dan tumbuh di kampung yang kini berada di dasar waduk tersebut. "Rumah saya dulu persis di dekat pohon asam besar itu. Sekarang tinggal tunggulnya doang. Tapi masih kelihatan bentuk pondasinya, ini yang bikin saya merinding sendiri," ujarnya ketika ditemui di sekitar area waduk yang mengering. Ujang turut membawa anak dan cucunya untuk menyaksikan langsung tanah leluhur mereka yang selama ini hanya ada dalam cerita dan foto-foto usang.
Kisah serupa disampaikan oleh Saroh, perempuan paruh baya yang semasa kecilnya sering bermain di sepanjang jalan setapak yang kini muncul kembali di antara retakan tanah. "Dulu di sini ada warung Bu Rahma, tempat kami jajan waktu kecil. Sekarang saya bisa tunjukin ke anak-anak saya, 'Nah, itu bekas tempat ibu main dulu'," tuturnya dengan mata berkaca-kaca. Saroh mengaku telah menyimpan foto-foto yang diambilnya menggunakan telepon genggam sebagai arsip keluarga, karena ia sadar bahwa begitu musim hujan tiba, seluruh pemandangan ini akan kembali ditelan air.
Sejarah Pembangunan dan Penenggelaman Kampung
Bendungan Karian merupakan proyek infrastruktur sumber daya air berskala besar yang mulai direncanakan pada dekade 2000-an sebagai bagian dari upaya pemerintah mengatasi krisis air di wilayah Banten dan sekitarnya, termasuk pasokan ke ibu kota. Pembangunan bendungan ini memerlukan pembebasan lahan yang mencakup beberapa desa di wilayah aliran Sungai Ciujung. Proses pembebasan lahan berlangsung selama bertahun-tahun dan melibatkan negosiasi panjang antara pemerintah, pemerintah daerah, dan masyarakat setempat.
Menurut dokumen yang tercatat di dinas terkait, sedikitnya tiga dusun dengan populasi gabungan mencapai lebih dari 1.500 jiwa harus direlokasi untuk memberikan ruang bagi genangan waduk. Warga yang terdampak kemudian dipindahkan ke lokasi transmigrasi lokal yang telah disiapkan, lengkap dengan rumah pengganti, lahan garapan, dan kompensasi sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku. Penggenangan dimulai secara bertahap pada awal dekade 2020-an setelah konstruksi utama bendungan dinyatakan rampung. Sejak saat itu, kampung-kampung tersebut berada di bawah permukaan air yang tenang.
Kepala Bidang Pengelolaan Sumber Daya Air pada instansi teknis setempat menyatakan bahwa fenomena surutnya air hingga menampakkan kembali struktur bangunan lama merupakan siklus alamiah yang terjadi pada musim kemarau panjang. "Ini konsekuensi dari pola curah hujan yang rendah tahun ini. Debit inflow ke waduk sangat minim, sementara kebutuhan air untuk irigasi dan air baku tetap harus dipenuhi," jelasnya dalam keterangan tertulis yang dirilis pekan lalu. Pihaknya juga menegaskan bahwa kondisi ini tidak membahayakan integritas struktur bendungan dan masih dalam batas toleransi operasional.
Pantauan dan Antisipasi Musim Hujan
Meskipun fenomena ini menarik perhatian publik dan menjadi objek kunjungan warga bernostalgia, pihak otoritas setempat mengimbau agar masyarakat berhati-hati saat berada di area dasar waduk. Struktur bangunan yang telah terendam bertahun-tahun kondisinya rapuh dan berpotensi ambruk. Selain itu, endapan lumpur di beberapa titik masih bersifat labil dan dapat membahayakan pengunjung yang tidak waspada.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi bahwa musim kemarau di wilayah Banten bagian selatan masih akan berlangsung hingga akhir September, dengan kemungkinan hujan mulai turun pada awal Oktober. Apabila prediksi ini akurat, maka sisa-sisa kampung yang kini tersingkap masih akan dapat disaksikan selama beberapa pekan ke depan sebelum genangan air kembali menutupinya. Pemandangan serupa pernah tercatat pada musim kemarau panjang beberapa tahun sebelumnya, namun surutnya air kali ini disebut sebagai yang paling signifikan dalam catatan pengelola bendungan.
Bagi warga eks penghuni dan generasi penerusnya, kemunculan kembali kampung tenggelam ini menjadi pengingat fisik tentang tanah asal-usul mereka yang tak lagi bisa dihuni, namun tetap hidup dalam ingatan kolektif komunitas. Setiap retakan tanah dan sisa pondasi yang muncul ke permukaan membawa cerita tentang kehidupan sebelum air datang, tentang rumah-rumah yang dulu ramai oleh suara anak-anak dan aktivitas keseharian, kini hanya tinggal jejak yang terlihat sekilas di sela-sela siklus antara kemarau dan hujan.
Comments (0)