Jakarta — Guru besar bidang kehutanan Universitas Gadjah Mada, Prof. Satyawan Pudyatmoko, ditetapkan sebagai calon Kepala Badan Pengelola Gambut dan Mangrove Nasional (BPGMN). Penetapan tersebut disampaikan oleh Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menko Polkam) Dudung Abdurachman dalam keterangan resminya di Jakarta, Senin (21/8). Satyawan saat ini masih menjabat sebagai Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Kementerian Kehutanan.
Menurut Dudung, pengalaman Satyawan di bidang pendidikan, penelitian, dan konservasi satwa liar menjadi pertimbangan utama dalam penetapan tersebut. "Beliau memiliki rekam jejak yang panjang di bidang kehutanan dan pelestarian ekosistem, baik sebagai akademisi maupun sebagai pejabat struktural," ujar Dudung.
BPGMN merupakan badan yang dibentuk untuk menangani pengelolaan ekosistem gambut dan mangrove secara terpadu. Berdasarkan peraturan yang berlaku, badan ini bertugas menyusun kebijakan, melakukan restorasi, serta mengoordinasikan pemantauan kawasan gambut dan mangrove di seluruh Indonesia.
Latar Belakang Pendidikan dan Karier Akademik
Satyawan Pudyatmoko lahir di Boyolali pada 9 Agustus 1971. Ia menempuh pendidikan sarjana di Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada dan lulus pada 1995. Pada tahun yang sama, ia mulai mengabdi sebagai staf pengajar di almamaternya.
Pendidikan magister ditempuh di Georg-August-Universität Göttingen, Jerman, dengan spesialisasi kehutanan tropika, dan diselesaikan pada 2001. Tesis magisternya mengkaji ekologi burung raja udang di Taman Nasional Baluran, Jawa Timur. Ia kemudian meraih gelar doktor dari universitas yang sama pada 2005 melalui penelitian tentang ekologi banteng di kawasan konservasi yang sama.
Latar belakang pendidikannya tersebut berkaitan erat dengan bidang yang ia tekuni, yakni pengelolaan hutan, konservasi satwa liar, dan pelestarian ekosistem. "Konservasi bukan sekadar menjaga satwa, tetapi juga memastikan keseimbangan ekosistem bagi kehidupan manusia," kata Satyawan dalam sebuah forum diskusi di Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.
Jabatan Struktural dan Organisasi
Selama berkarier di UGM, Satyawan pernah menduduki sejumlah posisi struktural. Ia menjabat sebagai Kepala Laboratorium Satwa Liar, Ketua Jurusan Konservasi Sumber Daya Hutan, serta terlibat dalam berbagai organisasi yang berfokus pada perubahan iklim dan kehutanan.
Pengalamannya di dunia akademik dinilai relevan dengan tugas BPGMN yang membutuhkan pendekatan ilmiah dalam pengelolaan gambut dan mangrove. "Pengelolaan gambut dan mangrove memerlukan dasar penelitian yang kuat, bukan sekadar kebijakan teknis," ujar Satyawan.
Selain aktif di kampus, ia juga dipercaya menduduki jabatan sebagai Direktur Jenderal KSDAE di Kementerian Kehutanan. Dalam kapasitas tersebut, ia menangani laporan mengenai penemuan spesies baru tumbuhan dan satwa liar, serta mengoordinasikan upaya konservasi di berbagai kawasan.
Tugas dan Tantangan BPGMN
Badan Pengelola Gambut dan Mangrove Nasional menghadapi tantangan besar, terutama terkait degradasi lahan gambut akibat kebakaran dan alih fungsi lahan. Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, luas lahan gambut di Indonesia mencapai sekitar 13,4 juta hektare, sedangkan hutan mangrove sekitar 3,3 juta hektare.
Restorasi kawasan gambut dan mangrove menjadi prioritas nasional karena berperan penting dalam penyimpanan karbon dan mitigasi perubahan iklim. "Gambut dan mangrove adalah benteng terakhir dalam menjaga keseimbangan iklim di Indonesia," tegas Satyawan dalam kesempatan terpisah.
Pelantikan Satyawan sebagai Kepala BPGMN dijadwalkan berlangsung dalam waktu dekat. Ia akan meninggalkan jabatannya sebagai Dirjen KSDAE dan fokus pada pengelolaan gambut dan mangrove nasional. Sejumlah pihak menilai penunjukan tersebut merupakan langkah strategis untuk memperkuat tata kelola lingkungan di tingkat nasional.
Dengan latar belakang akademik dan pengalaman struktural yang dimiliki, Satyawan diharapkan mampu mempercepat program restorasi gambut dan mangrove sesuai target pemerintah. "Ini bukan pekerjaan mudah, tetapi dengan kolaborasi lintas sektor, kita bisa mencapai hasil yang signifikan," pungkasnya.
Comments (0)