Rugaiya Usman, Pendamping Setia Jenderal Wiranto, Berpulang
Jakarta, Apaberita – Hj. Rugaiya Usman binti Usman, istri dari mantan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan sekaligus mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) TNI Wiranto, mengembuskan ...
Jakarta, Apaberita – Hj. Rugaiya Usman binti Usman, istri dari mantan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan sekaligus mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) TNI Wiranto, mengembuskan napas terakhir pada Sabtu (1/3) pukul 04.30 WIB di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Soebroto, Jakarta Pusat. Almarhumah wafat dalam usia 72 tahun setelah menjalani perawatan intensif selama dua pekan akibat komplikasi penyakit degeneratif.
Kabar duka tersebut dikonfirmasi oleh Adi Wiranto, putra sulung almarhumah, melalui keterangan tertulis yang diterbitkan pada pagi hari.
“Innalillahi wainna ilaihi rajiun. Telah berpulang ke rahmatullah, ibu kami tercinta, Hj. Rugaiya Usman, pada pagi tadi. Kami memohon doa dan maaf atas segala khilaf beliau,”tulis Adi.
Jenazah akan disemayamkan di kediaman pribadi di Jalan Ampera Raya, Cilandak, Jakarta Selatan, sebelum dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata pada Ahad (2/3) siang. Prosesi pemakaman direncanakan menggunakan upacara penghormatan militer yang dipimpin oleh Kepala Staf Angkatan Darat sebagai bentuk penghormatan atas dukungan almarhumah selama mendampingi salah satu putra terbaik TNI.
Profil dan Latar Keluarga
Rugaiya Usman dilahirkan di Jakarta pada 10 Maret 1953 dari pasangan H. Usman bin H. Abdul Aziz dan Hj. Siti Romlah. Ia merupakan anak bungsu dari tujuh bersaudara. Sejak kecil, Rugaiya dikenal sebagai pribadi yang santun dan tekun beribadah, yang kelak menjadi fondasi kokoh dalam mendukung suaminya. Pendidikannya dimulai di Sekolah Rakyat, lalu SMP Negeri 3 Jakarta, dan berlanjut ke SMA Negeri 3 Jakarta. Selepas itu, ia mengikuti pendidikan di Akademi Sekretaris dan sempat bekerja sebagai sekretaris di perusahaan swasta sebelum akhirnya menikah dan memilih untuk sepenuhnya mendampingi suami.
Pernikahan dengan Wiranto dilangsungkan pada 1 Agustus 1975, saat sang suami masih berpangkat Letnan Dua dan baru menamatkan pendidikan di Akademi Militer Nasional Magelang. Selama 50 tahun pernikahan, mereka dikaruniai tiga orang anak: Adi Wiranto, Rina Wiranto, dan Wira Wiranto, serta sembilan cucu. Dalam berbagai kesempatan, keluarga selalu menampilkan keharmonisan yang menjadi teladan di lingkungan perwira TNI.
Pendamping Setia dalam Setiap Medan Tugas
Sebagai istri prajurit, Rugaiya menjalani ritme dinas yang penuh perpindahan. Dari penugasan pertama Wiranto di Kalimantan hingga menduduki jabatan tinggi seperti Kepala Staf Umum TNI dan kemudian Panglima TNI pada 1998-1999, Rugaiya hadir sebagai pilar ketenangan. Mantan ajudan Wiranto, yang enggan disebutkan namanya, mengenang sosok almarhumah sebagai penasihat yang bijak.
“Ibu adalah tempat Pak Wiranto berbagi beban di saat-saat genting, terutama saat reformasi. Beliau selalu mengingatkan agar tetap memegang teguh konstitusi dan mengedepankan kepentingan bangsa. Itu nasihat yang sangat berarti,”ujarnya.
Ketika Wiranto memasuki dunia politik dan mendirikan Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura) pada 2006, Rugaiya tetap setia mendampingi dalam setiap safari politik hingga ke pelosok daerah, meski kondisi kesehatannya mulai menurun. Ia tak pernah menuntut perlakuan khusus, justru kerap membaur dengan anggota partai secara sederhana. Sikap ini membuatnya dihormati di lintas kalangan.
Jejak Pengabdian Sosial
Di luar peran sebagai istri, Rugaiya meninggalkan jejak pengabdian di bidang sosial. Selama bertahun-tahun ia aktif di Dharma Pertiwi, organisasi istri prajurit TNI, dan sempat menjabat sebagai Ketua Seksi Sosial pada masa jabatan Wiranto sebagai Kepala Staf TNI Angkatan Darat. Bersama rekan-rekannya, ia menggagas berbagai program bantuan bagi keluarga prajurit yang gugur dalam tugas. Lebih dari itu, pada 2003 ia mendirikan Yayasan Amaliah Asri, sebuah lembaga yang fokus pada pendidikan anak yatim dan ekonomi dhuafa di Jakarta Selatan.
Hingga menjelang akhir hayat, almarhumah masih menyempatkan diri menghadiri pengajian rutin dan bakti sosial di Masjid Al-Ikhlas dekat kediaman. Keteguhan ibadahnya menjadi teladan di lingkungan tempat tinggalnya. Seorang tetangga mengisahkan bahwa Rugaiya kerap diam-diam memberikan sumbangan bagi warga yang membutuhkan tanpa ingin dipublikasikan.
Wafatnya Rugaiya Usman tidak hanya membawa duka bagi keluarga besar Wiranto, tetapi juga bagi para perwira tinggi TNI dan kolega politik suaminya. Presiden Joko Widodo melalui juru bicara pribadi menyampaikan ucapan belasungkawa.
“Negara kehilangan ibu teladan yang telah memberikan dukungan penuh keikhlasan kepada suaminya dalam mengabdi kepada bangsa. Semoga amal ibadah beliau diterima di sisi Allah,”demikian pernyataan resmi Istana.
Prosesi pemakaman pada Ahad pagi akan dimulai dengan pemberangkatan jenazah dari rumah duka pukul 09.00 WIB menuju Masjid Istiqlal untuk dishalatkan, kemudian dilanjutkan ke Taman Makam Pahlawan Kalibata. Upacara militer dengan penghormatan terakhir dari pasukan TNI akan menutup perjalanan hidup pendamping setia Jenderal Wiranto yang telah mengabdikan dirinya dalam sunyi.
Comments (0)