Raja Yordania Abdullah II Tiba di Indonesia Jumat, Agenda dan Profil
Jakarta – Raja Yordania Abdullah II bin Al-Hussein dijadwalkan tiba di Jakarta pada Jumat, 14 Juni 2024, dalam rangkaian kunjungan kenegaraan yang akan memperkuat hubungan bilateral kedua negara. Ke...
Jakarta – Raja Yordania Abdullah II bin Al-Hussein dijadwalkan tiba di Jakarta pada Jumat, 14 Juni 2024, dalam rangkaian kunjungan kenegaraan yang akan memperkuat hubungan bilateral kedua negara. Kepala Negara Kerajaan Hasyimiah Yordania itu akan diterima langsung oleh Presiden Joko Widodo di Istana Merdeka pada pukul 10.00 WIB, sebelum melanjutkan serangkaian pertemuan strategis dengan pemangku kepentingan nasional.
Kunjungan Raja Abdullah II—sebutan resminya—menjadi momen penting yang ditunggu setelah pertemuan terakhir kedua pemimpin pada Konferensi Tingkat Tinggi G20 di Bali, November 2022. Menteri Luar Negeri Retno Marsudi, dalam keterangan pers di Jakarta, Rabu (12/6), menyebut bahwa lawatan ini merupakan tindak lanjut dari komitmen bersama untuk memperdalam kerja sama di bidang perdagangan, investasi, pertahanan, dan diplomasi kawasan.
“Kunjungan Raja Yordania ini bukan sekadar seremoni protokoler, tetapi menjadi landasan bagi penguatan kemitraan strategis yang sudah terbangun puluhan tahun. Fokus utama kami adalah peningkatan nilai perdagangan yang saat ini masih di bawah potensi, serta kolaborasi di isu Palestina yang menjadi perhatian bersama,”
tegas Retno.
Agenda Kenegaraan dan Bisnis
Berdasarkan agenda yang diterima Apaberita, Raja Abdullah II akan disambut dengan upacara kenegaraan lengkap di halaman Istana Merdeka, diiringi dentuman meriam dan inspeksi pasukan. Setelah pertemuan bilateral tertutup, kedua pemimpin akan menyaksikan penandatanganan setidaknya enam nota kesepahaman (MoU). Bidang yang akan disepakati meliputi kerja sama energi terbarukan, industri halal, pendidikan tinggi, pertahanan, penghapusan pajak berganda, dan fasilitasi perdagangan.
Direktur Jenderal Asia Pasifik dan Afrika Kementerian Luar Negeri, Abdul Kadir Jailani, merinci bahwa salah satu MoU paling strategis adalah pembentukan Joint Business Council yang diharapkan mampu mendorong volume perdagangan bilateral menembus angka 500 juta dolar AS pada tahun 2026. Data resmi menunjukkan bahwa total perdagangan Indonesia-Yordania pada 2023 tercatat sebesar 387,2 juta dolar AS, dengan surplus bagi Indonesia sebesar 112 juta dolar AS.
Pada siang harinya, Raja Abdullah II dijadwalkan menghadiri jamuan santap siang di Istana Negara bersama Presiden Jokowi, didampingi Ibu Negara Iriana dan Ratu Rania Al-Abdullah. Ratu Rania sendiri memiliki agenda terpisah, yakni mengunjungi pusat pemberdayaan perempuan dan anak yang dikelola Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak di kawasan Pasar Rebo, Jakarta Timur.
Profil Abdullah II: Penerus Hasyimiah yang Modern
Abdullah II bin Al-Hussein lahir di Amman pada 30 Januari 1962, sebagai putra sulung Raja Hussein bin Talal dan Putri Muna al-Hussein. Ia naik takhta pada 7 Februari 1999 setelah wafatnya sang ayah, yang secara mengejutkan mengubah garis suksesi dari adiknya, Pangeran Hassan, menjadi Abdullah hanya dua minggu sebelum wafat.
Latar belakang Abdullah II sangat kuat di bidang militer dan pendidikan internasional. Ia menempuh pendidikan dasar di Islamic Educational College Amman, lalu melanjutkan ke St. Edmund’s School di Surrey, Inggris, dan Eaglebrook School serta Deerfield Academy di Amerika Serikat. Penguasa ke-4 Kerajaan Hasyimiah ini kemudian menyelesaikan studi di Georgetown University Washington D.C., sebelum meniti karier di militer Inggris, tepatnya di Royal Military Academy Sandhurst.
Sekembalinya ke Yordania, ia bergabung dengan Angkatan Bersenjata Yordania dan memegang berbagai posisi strategis, termasuk Komandan Pasukan Khusus dan Komandan Komando Operasi Khusus. Pada 1998, ia dinaikkan pangkatnya menjadi Mayor Jenderal. Kecintaannya pada dunia militer membuat Raja Abdullah II dijuluki “Raja Prajurit”.
Di bawah kepemimpinannya, Yordania melakukan reformasi politik dan ekonomi yang moderat. Ia mendorong modernisasi sektor publik, liberalisasi investasi, serta menjadikan Yordania sebagai mitra stabil di kawasan Timur Tengah yang kerap bergolak. Ia juga dikenal sebagai pemimpin yang vokal menyuarakan solusi dua negara untuk Palestina dan menolak keras upaya pemindahan warga Palestina dari tanah mereka.
Penguatan Hubungan Bilateral yang Punya Sejarah Panjang
Hubungan diplomatik Indonesia dan Yordania telah terjalin sejak 1950, dan Kerajaan Hasyimiah adalah salah satu negara Arab pertama yang mengakui kemerdekaan Indonesia. Dukungan Raja Abdullah II terhadap kedaulatan Indonesia kembali ditegaskan dalam berbagai forum multilateral, termasuk saat Indonesia menghadapi sengketa teritorial.
Deputi Bidang Protokol dan Konsuler Kementerian Luar Negeri, Andy Rachmianto, menyatakan bahwa perjalanan kenegaraan kali ini akan semakin mempertegas posisi Indonesia sebagai poros kerja sama dunia Islam dan mitra strategis Yordania di Asia Tenggara.
“Ini kunjungan yang sangat simbolik sekaligus substantif. Kerajaan Yordania adalah penjaga situs-situs suci di Yerusalem, dan Indonesia selalu mendukung peran Hasyimiah tersebut. Pertemuan ini juga akan membahas pengiriman bantuan kemanusiaan untuk Gaza melalui koridor yang difasilitasi Yordania,”
ujar Andy.
Selain agenda politik, Raja Abdullah II diagendakan melakukan pertemuan dengan Ketua Kamar Dagang dan Industri Indonesia (KADIN) Arsjad Rasjid dan sejumlah CEO perusahaan BUMN dan swasta. Diskusi akan difokuskan pada potensi ekspor produk halal Indonesia, terutama daging unggas, obat-obatan, dan produk kosmetik yang makin diminati pasar Yordania. Sementara itu, Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) tengah mendorong investasi Yordania di sektor pariwisata dan infrastruktur, khususnya dalam proyek Ibu Kota Nusantara (IKN).
Kunjungan Raja Abdullah II ke Indonesia kali ini sekaligus menandai 75 tahun hubungan diplomatik kedua negara yang akan dirayakan pada 2025. Kedutaan Besar Yordania di Jakarta telah menyiapkan serangkaian kegiatan budaya dan forum bisnis bertajuk “Yordania-Indonesia: Menuju Kemitraan Emas” yang akan dihelat di Hotel Mulia, Jakarta, pada Sabtu (15/6).
Dengan seluruh rangkaian kegiatan yang dijadwalkan, lawatan kenegaraan ini diharapkan tidak hanya memperkokoh hubungan antarnegara, tetapi juga membuka akses baru bagi perdagangan, investasi, dan kerja sama kemanusiaan yang lebih erat di tengah dinamika global yang penuh tantangan.
Comments (0)