Raja Abdullah II Tiba di Istana Merdeka untuk Kunjungan Kenegaraan
Raja Yordania Abdullah II bin Al-Hussein tiba di Istana Merdeka, Jakarta, pada Jumat (21/3/2025) dalam rangka kunjungan kenegaraan selama tiga hari yang bertujuan memperdalam kerja sama bilateral anta...
Raja Yordania Abdullah II bin Al-Hussein tiba di Istana Merdeka, Jakarta, pada Jumat (21/3/2025) dalam rangka kunjungan kenegaraan selama tiga hari yang bertujuan memperdalam kerja sama bilateral antara Yordania dan Indonesia. Upacara penyambutan resmi dipimpin langsung oleh Presiden Prabowo Subianto, disertai dentuman meriam sebanyak 21 kali dan pengalungan bunga sebagai simbol penghormatan. Kunjungan ini merupakan kunjungan kenegaraan pertama Raja Abdullah II ke Indonesia dalam satu dekade terakhir, sejak terakhir kali bertemu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 2014.
Berdasarkan keterangan Kementerian Luar Negeri, kedatangan Raja Abdullah II didampingi oleh Ratu Rania Al-Abdullah serta delegasi tingkat tinggi yang terdiri dari Menteri Luar Negeri Ayman Safadi, Menteri Perencanaan dan Kerja Sama Internasional Zeina Toukan, serta sejumlah penasihat ekonomi dan keamanan kerajaan. "Kunjungan ini menegaskan kembali komitmen kedua negara untuk membangun kemitraan strategis yang lebih solid, terutama dalam bidang perdagangan, investasi, pendidikan, dan stabilitas kawasan," ujar Menteri Luar Negeri Sugiono dalam keterangan pers di Jakarta.
Rangkaian Kunjungan Kenegaraan
Agenda kunjungan diawali dengan pertemuan empat mata antara Raja Abdullah II dan Presiden Prabowo di Ruang Kredensial Istana Merdeka, yang kemudian dilanjutkan dengan pertemuan bilateral diperluas bersama jajaran menteri dari kedua negara. Dalam sesi tersebut, kedua pemimpin membahas peningkatan volume perdagangan bilateral yang pada 2024 tercatat sebesar 540 juta dolar AS, dengan potensi ekspansi di sektor tekstil, produk halal, dan energi terbarukan. "Kami melihat Indonesia sebagai mitra utama di Asia Tenggara yang memiliki nilai-nilai kesamaan sebagai negara berpenduduk mayoritas Muslim moderat," demikian pernyataan resmi Kerajaan Yordania yang dikutip dalam rilis bersama.
Setelah pertemuan, Raja Abdullah II dijadwalkan meninjau pameran produk unggulan Indonesia di Jiexpo Kemayoran dan menghadiri forum bisnis yang diinisiasi oleh Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) bersama Jordan Investment Commission. Sebanyak 35 pelaku usaha Indonesia dan 28 perusahaan Yordania telah dikonfirmasi menghadiri forum tersebut untuk menjajaki kerja sama di bidang farmasi, pariwisata kesehatan, dan infrastruktur digital. Kunjungan kenegaraan ini juga akan ditutup dengan jamuan santap malam kenegaraan di Istana Negara serta kunjungan Raja Abdullah II ke Masjid Istiqlal untuk melaksanakan salat Jumat berjamaah dengan masyarakat.
Profil Raja Abdullah II bin Al-Hussein
Raja Abdullah II lahir di Amman pada 30 Januari 1962 sebagai putra sulung Raja Hussein bin Talal dan Putri Muna al-Hussein. Beliau menempuh pendidikan militer di Royal Military Academy Sandhurst, Inggris, sebelum melanjutkan studi Hubungan Internasional di Universitas Oxford dan Georgetown University, Amerika Serikat. Pada 1993, Abdullah II menyandang pangkat Mayor Jenderal dan menjabat sebagai Komandan Pasukan Khusus Yordania, yang kemudian menjadi bekal penting saat diangkat menjadi putra mahkota pada 24 Januari 1999, hanya dua pekan sebelum ayahandanya wafat. Ia resmi naik takhta sebagai Raja Kerajaan Hasyimiah Yordania pada 7 Februari 1999.
Selama lebih dari 25 tahun memimpin, Raja Abdullah II dikenal sebagai penggerak reformasi politik dan ekonomi di Yordania melalui visi "Jordan First" yang menekankan modernisasi birokrasi, perluasan partisipasi politik, dan diversifikasi ekonomi. Di kancah internasional, perannya sangat signifikan sebagai penjaga tempat-tempat suci umat Islam dan Kristen di Yerusalem berdasarkan perjanjian Wadi Araba 1994, sebuah mandat historis yang dijalankan oleh dinasti Hasyimiah. "Penjagaan ini adalah amanah yang tidak bisa ditawar, bagian dari identitas kami sebagai keturunan Nabi Muhammad SAW," tegasnya dalam Sidang Majelis Umum PBB 2023, sebagaimana dikutip dalam dokumen diplomatik.
Agenda Bilateral Strategis
Salah satu poin penting dalam kunjungan ini adalah penandatanganan nota kesepahaman (MoU) di bidang pendidikan tinggi, di mana Pemerintah Yordania akan meningkatkan kuota beasiswa bagi mahasiswa Indonesia di universitas-universitas terkemuka seperti University of Jordan dan Jordan University of Science and Technology. Selain itu, kedua negara menyepakati kerja sama industri pertahanan, termasuk kemungkinan transfer teknologi dan produksi bersama alat utama sistem persenjataan ringan di bawah koordinasi Kementerian Pertahanan RI. Di sektor energi, Pertamina dan Jordan Petroleum Refinery Company dikabarkan tengah menyelesaikan negosiasi pembangunan kilang minyak bersama di wilayah Zarqa.
Isu geopolitik juga mendominasi pembahasan bilateral, terutama situasi di Gaza dan upaya penghentian eskalasi di Tepi Barat. Raja Abdullah II menyampaikan apresiasi atas konsistensi Indonesia dalam mendukung solusi dua negara dan bantuan kemanusiaan yang telah disalurkan melalui Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA). "Indonesia dan Yordania memiliki sikap yang selaras dalam membela hak-hak rakyat Palestina; ini adalah fondasi moral yang membuat hubungan kita semakin kokoh," ujar Presiden Prabowo dalam keterangan pers usai pertemuan. Kunjungan kenegaraan ini diharapkan menghasilkan peta jalan kerja sama jangka panjang yang mencakup aspek politik, ekonomi, pertahanan, dan sosial-budaya hingga 2030.
Comments (0)