Pemkot Depok Imbau Ayah Antar Anak di Hari Pertama Sekolah

Depok – Pemerintah Kota Depok secara resmi menerbitkan Surat Edaran yang mengatur pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) untuk Tahun Ajaran 2026/2027. Salah satu poin utama dalam sura...

Jul 12, 2026 - 23:09
0 0
Pemkot Depok Imbau Ayah Antar Anak di Hari Pertama Sekolah

Depok – Pemerintah Kota Depok secara resmi menerbitkan Surat Edaran yang mengatur pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) untuk Tahun Ajaran 2026/2027. Salah satu poin utama dalam surat tersebut adalah imbauan kepada seluruh ayah atau wali murid laki-laki agar mengantarkan langsung putra-putri mereka pada hari pertama masuk sekolah. Langkah ini dinyatakan sebagai bagian dari upaya penguatan peran keluarga dalam dunia pendidikan.

Keputusan itu tertuang dalam SE Wali Kota Depok Nomor 420/145-Huk/Disdik yang ditandatangani pada 10 Juli 2026. Surat edaran yang ditujukan kepada seluruh satuan pendidikan jenjang PAUD, SD, dan SMP sederajat—baik negeri maupun swasta—ini secara spesifik meminta pihak sekolah untuk menjadwalkan hari pertama MPLS dengan melibatkan figur ayah dalam prosesi pengantaran. Kebijakan yang diumumkan dalam rapat koordinasi Dinas Pendidikan Kota Depok pada 18 Juni 2026 ini mendapat perhatian luas dari masyarakat.

Poin Utama Surat Edaran

Dalam dokumen setebal empat halaman itu, disebutkan setidaknya enam instruksi teknis mengenai penyelenggaraan MPLS yang inklusif. Pada bagian keempat, dengan jelas dituliskan imbauan agar "setiap orang tua, khususnya ayah, mengantar anak di hari pertama sekolah untuk membangun kedekatan emosional dan memperkuat motivasi belajar siswa." Satuan pendidikan juga diminta untuk menyediakan area khusus bagi para ayah guna berinteraksi dengan guru kelas dan mendiskusikan rencana perkembangan akademik anak di awal semester.

Sekretaris Daerah Kota Depok, Mohamad Fitriawan, dalam keterangannya pada 14 Juli 2026 menegaskan bahwa surat edaran ini tidak bersifat memaksa melainkan ajakan moral. "Kami ingin menjadikan momen pertama masuk sekolah sebagai ruang pembiasaan baru, di mana ayah tidak hanya hadir secara administratif saat pendaftaran, tetapi juga secara emosional saat anak melangkah ke gerbang sekolah," ujarnya. Mohamad menambahkan, kebijakan ini terinspirasi dari berbagai studi yang menunjukkan bahwa keterlibatan ayah berkontribusi positif terhadap pembentukan karakter, kedisiplinan, dan rasa percaya diri peserta didik.

Landasan dan Tujuan Kebijakan

Penerbitan SE ini didasarkan pada evaluasi pelaksanaan MPLS tahun ajaran sebelumnya yang dinilai kurang memaksimalkan pelibatan figur ayah. Berdasarkan data Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kota Depok yang dirilis pada Maret 2026, sebanyak 68,3 persen siswa jenjang SD di Depok mengaku lebih sering diantar oleh ibu atau anggota keluarga perempuan. Angka tersebut dianggap sebagai indikator perlunya intervensi kebijakan untuk menyeimbangkan peran pengasuhan.

"Bapak Wali Kota menekankan bahwa penguatan ekosistem pendidikan tidak bisa hanya bertumpu pada sekolah. Keluarga—khususnya ayah—harus hadir secara aktif dalam setiap fase penting anak," kata Kepala Dinas Pendidikan Kota Depok, Siti Chaerijah, saat dikonfirmasi pada 14 Juli 2026. Ia menjelaskan, MPLS yang akan berlangsung pada 21–25 Juli 2026 disusun dengan tema "Keluarga Tangguh, Siswa Unggul". Tema ini merefleksikan komitmen Pemkot Depok untuk menjadikan kolaborasi tripusat pendidikan—sekolah, keluarga, dan masyarakat—lebih konkret.

Surat edaran juga memerintahkan sekolah untuk mengintegrasikan sesi "Ayah Bercerita" selama pekan MPLS. Pada sesi itu, perwakilan ayah dari komite kelas akan diundang membagikan pengalaman perjuangan dan nilai-nilai kehidupan kepada para siswa. Menurut Siti, format semacam ini sudah diujicobakan di 15 sekolah percontohan pada tahun 2025 dan menghasilkan respons positif, dengan peningkatan partisipasi ayah dalam pertemuan komite sebesar 41 persen.

Respons Sekolah dan Masyarakat

Kepala SDN Depok Jaya 1, Ahmad Nurdin, menyambut baik instruksi tersebut. "Kami segera menyampaikan sosialisasi melalui grup wali murid dan pertemuan tatap muka. Sebagian besar ayah yang kami hubungi menyatakan siap menyesuaikan jadwal kerja. Bahkan, beberapa perusahaan di sekitar lingkungan kami mengaku bersedia memberikan izin khusus bagi karyawan yang akan mengantar anak di hari pertama sekolah," ungkap Ahmad. Sekolahnya juga telah menyiapkan area foto bertema "Ayah dan Aku" untuk mengabadikan momen spesial itu.

Di sisi lain, sejumlah wali murid menyampaikan aspirasi. Wawan Hermawan, seorang pekerja pabrik di kawasan Cimanggis yang memiliki anak kelas satu SD, mengaku kebingungan karena jadwal shift-nya dimulai pukul 07.00. "Saya sangat ingin mengantar, tapi harus ada pengaturan lebih lanjut dengan pihak perusahaan. Mudah-mudahan ada dispensasi," harapnya. Menanggapi situasi tersebut, Kepala Dinas Ketenagakerjaan Kota Depok, Darmawan, menyatakan akan berkoordinasi dengan sektor industri untuk mendorong pemberian cuti singkat bagi para ayah pada 21 Juli 2026.

Pengamat pendidikan dari Universitas Indonesia, Dr. Rina Kusumawati, menilai kebijakan Pemkot Depok sebagai langkah progresif. "Menghadirkan ayah secara fisik di hari pertama sekolah adalah stimulasi psikologis yang kuat bagi anak. Ia akan merasa didukung oleh dua figur otoritatif dalam keluarga, sehingga rasa aman dan antusiasme belajarnya meningkat. Asalkan tidak berhenti di seremoni dan dilanjutkan dengan keterlibatan berkelanjutan, dampaknya akan signifikan," jelasnya saat dihubungi terpisah.

Dengan terbitnya surat edaran ini, Pemkot Depok berharap dapat menciptakan tradisi baru yang menempatkan ayah sebagai mitra utama dalam perjalanan akademik anak sejak hari pertama. Kegiatan MPLS 2026/2027 pun diproyeksikan tidak hanya menjadi ajang pengenalan lingkungan semata, melainkan juga titik awal penguatan kolaborasi antara sekolah dan keluarga secara lebih bermakna.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
hendra-wijaya

Editor Politik. Mantan jurnalis cetak dengan spesialisasi politik elektoral. Menulis analisis kebijakan dan reportase parlemen.

Comments (0)

User