Prabowo Sebut Pemimpin yang Anjurkan Pembakaran sebagai Pengkhianat
Jakarta – Presiden Prabowo Subianto secara tegas menyatakan bahwa tokoh atau pemimpin yang menganjurkan tindakan kekerasan seperti pembakaran merupakan pengkhianat bangsa. Pernyataan tersebut disamp...
Jakarta – Presiden Prabowo Subianto secara tegas menyatakan bahwa tokoh atau pemimpin yang menganjurkan tindakan kekerasan seperti pembakaran merupakan pengkhianat bangsa. Pernyataan tersebut disampaikan dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Partai Gerakan Indonesia Raya di Sentul, Bogor, pada Selasa (14/7/2026), yang dihadiri oleh jajaran pengurus pusat dan daerah serta para menteri pendukungnya.
Di hadapan peserta rakornas, Presiden menegaskan bahwa perbedaan pilihan politik bukanlah masalah, melainkan bagian dari dinamika demokrasi. Namun, ia memberikan peringatan keras terhadap pihak yang memanfaatkan perbedaan itu untuk menciptakan perpecahan dan menganjurkan aksi bakar-bakar. “Saudara-saudara, perbedaan partai itu tidak apa-apa. Yang tidak boleh adalah menggunakan perbedaan untuk memecah belah bangsa. Siapa pun pemimpin yang menganjurkan bakar-bakar, itu pemimpin pengkhianat,” ucap Prabowo dengan nada tinggi, disambut tepuk tangan ratusan kader yang hadir.
Presiden tidak merinci secara eksplisit siapa pihak yang dimaksud, tetapi ia mengaitkan ajakan tersebut dengan upaya sekelompok orang yang tidak bertanggung jawab untuk menciptakan instabilitas nasional. “Tindakan seperti itu bukan tanda patriotisme, melainkan bentuk pengkhianatan terhadap NKRI dan Pancasila. Tugas pemimpin adalah mendinginkan suasana, bukan memperkeruh dengan hasutan yang bisa merugikan rakyat sendiri,” tambahnya.
Peringatan Keras dan Penegasan Supremasi Hukum
Dalam pidato yang berlangsung sekitar 45 menit itu, Kepala Negara menyinggung sejumlah peristiwa kelam dalam sejarah bangsa yang diawali oleh provokasi dan hasutan untuk melakukan kekerasan. Ia merujuk pada kerusuhan yang pernah terjadi di berbagai belahan dunia sebagai pelajaran bahwa retorika yang membakar emosi massa hanya akan menghasilkan kehancuran. “Kita sudah melihat banyak contoh. Negara yang rakyatnya saling serang, ujungnya rakyat kecil yang paling menderita. Maka negara tidak boleh kalah dengan provokator,” tegasnya.
Prabowo memerintahkan aparat penegak hukum untuk bertindak tegas terhadap segala bentuk hasutan yang mengarah pada aksi pembakaran atau kekerasan fisik, apalagi yang melibatkan fasilitas publik dan tempat ibadah. Ia meminta seluruh elemen masyarakat untuk tidak terpancing oleh propaganda yang disebarkan melalui media sosial. “Jangan mau diadu domba. Laporkan jika ada yang menyebarkan ajakan-ajakan tersebut. Keamanan dan kesatuan bangsa di atas segalanya,” kata Presiden.
Menurut Sekretaris Jenderal Partai Gerindra, Ahmad Muzani, pernyataan Presiden tersebut merupakan respons terhadap munculnya narasi “bakar-bakar” di sejumlah platform digital menjelang agenda politik nasional. “Beliau sangat prihatin dengan adanya oknum yang mencoba mengganggu stabilitas dengan cara-cara primitif. Presiden ingin memastikan tidak ada ruang bagi pengkhianat untuk merusak negeri ini,” ujar Muzani saat ditemui seusai acara.
Landasan Hukum dan Konstitusional
Pakar hukum tata negara dari Universitas Indonesia, Refly Harun, menilai pernyataan Presiden Prabowo memiliki dasar yang kuat dalam konstitusi. Dalam keterangannya pada Rabu (15/7/2026), ia menjelaskan bahwa Pasal 27 Ayat (1) UUD 1945 menegaskan kesamaan kedudukan warga negara di mata hukum, karenanya hasutan untuk menghancurkan milik umum atau melakukan kekerasan adalah pelanggaran serius. “Ajakan ‘bakar-bakar’ bertentangan dengan UU No. 7 Tahun 2012 tentang Penanganan Konflik Sosial dan juga dapat dijerat dengan pasal makar dalam KUHP,” katanya.
Refly menambahkan bahwa penyebutan istilah “pengkhianat” oleh Presiden merupakan narasi politik yang kuat, sekaligus mengingatkan bahwa setiap pemimpin di level mana pun wajib menjaga persatuan. “Apa yang disampaikan Presiden adalah bentuk perlindungan negara terhadap ancaman nonmiliter. Ini bukan soal partai, melainkan soal eksistensi Indonesia sebagai bangsa yang berdaulat,” jelasnya.
Respons Lembaga dan Pengusutan Polda Metro Jaya
Sehari setelah pidato tersebut, Kepala Kepolisian Daerah Metro Jaya, Inspektur Jenderal Whisnu Hermawan Februanto, menyatakan bahwa pihaknya tengah menelusuri sejumlah akun media sosial yang diduga menyebarkan konten ajakan bakar-bakar. “Kami sudah membentuk tim siber untuk mengidentifikasi dan memproses hukum akun-akun tersebut. Polda Metro Jaya tidak akan mentoleransi hasutan kekerasan,” tegas Whisnu dalam konferensi pers di Mapolda Metro Jaya, Rabu pagi.
Whisnu mengungkapkan bahwa hingga saat ini telah ditemukan tiga akun anonim dengan konten serupa yang menargetkan fasilitas umum dan kantor partai politik tertentu. “Kami bekerja sama dengan Kemenkominfo untuk pemblokiran dan penegakan hukum. Kami imbau masyarakat jangan menyebarluaskan konten tersebut karena bisa terjerat pidana,” ucapnya.
Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Indonesia, Arsjad Rasjid, turut memberikan dukungan atas ketegasan Presiden. Menurutnya, stabilitas keamanan merupakan prasyarat utama bagi pertumbuhan ekonomi nasional. “Isu bakaran bisa langsung berdampak pada kepercayaan investor. Kami mengapresiasi pernyataan Pak Prabowo yang menempatkan kepentingan nasional di atas segalanya,” tutur Arsjad dalam siaran persnya.
Panggilan Untuk Pemersatu
Dalam akhir pidatonya di Rakornas Gerindra, Presiden Prabowo kembali menyerukan kepada seluruh elemen elite politik untuk menjadi teladan bagi rakyat. Ia mengajak tokoh nasional untuk menyudahi retorika yang mengadu domba dan fokus pada pembangunan. “Pemimpin sejati adalah pemimpin yang merangkul, bukan yang membakar. Bangsa ini butuh darah sejuk, bukan darah panas yang bisa menciptakan luka berkepanjangan,” ujarnya.
Rakornas yang berlangsung hingga malam itu ditutup dengan deklarasi Gerindra yang menyatakan komitmen untuk mendukung penuh kebijakan Presiden dalam menjaga kedaulatan dan keamanan nasional. Para pengurus daerah diminta segera turun ke masyarakat untuk memberikan pemahaman dan meredam potensi konflik. “Kita semua adalah benteng terakhir persatuan. Jangan biarkan pengkhianat merusak rumah kita sendiri,” demikian pesan akhir Presiden yang disambut dengan yel-yel persatuan oleh ribuan kader.
Baca juga:
Comments (0)