Rahasia Kanker Paru Lumpuhkan Kekebalan Terungkap di Cell
JAKARTA — Sebuah studi mutakhir yang dimuat di jurnal bergengsi Cell pada pertengahan Mei mengungkapkan mekanisme baru yang digunakan kanker paru-paru untuk melumpuhkan sistem pertahanan alami tubuh...
JAKARTA — Sebuah studi mutakhir yang dimuat di jurnal bergengsi Cell pada pertengahan Mei mengungkapkan mekanisme baru yang digunakan kanker paru-paru untuk melumpuhkan sistem pertahanan alami tubuh. Temuan ini mengupas bagaimana sel-sel tumor memanfaatkan persarafan nosiseptif—serabut saraf yang lazim menghantarkan sinyal nyeri—untuk menghambat pembentukan struktur limfoid tersier (TLS), pusat komando imun yang seharusnya mengenali dan menghancurkan sel kanker. Publikasi ini menjadi titik terang setelah bertahun-tahun para peneliti bergulat dengan misteri mengapa kanker paru-paru sering kali kebal terhadap respons imun meskipun dikepung oleh sel-sel imun.
Peran Kunci Struktur Limfoid Tersier
Struktur limfoid tersier merupakan agregat sel imun yang terbentuk di dalam jaringan yang mengalami peradangan kronis, termasuk tumor. Di dalam TLS, sel B dan sel T mengalami pematangan, sehingga dapat menghasilkan antibodi dan respons seluler yang spesifik terhadap antigen kanker. Keberadaan TLS yang matang di sekitar tumor telah terbukti berkorelasi dengan prognosis yang lebih baik pada berbagai jenis kanker, termasuk kanker paru-paru bukan sel kecil (NSCLC). Namun, penelitian yang dipimpin oleh tim peneliti dari Dana-Farber Cancer Institute dan Massachusetts Institute of Technology ini menemukan bahwa pada kanker paru-paru, proses pembentukan TLS secara sistematis dihambat.
Dr. Lisa M. Coussens, salah satu penulis senior studi tersebut, menegaskan, “Kami mendokumentasikan untuk pertama kalinya bahwa serabut saraf nosiseptif yang tumbuh di lingkungan mikro tumor mengeluarkan neuropeptida yang secara langsung menekan diferensiasi sel T folikular dan arsitektur TLS.” Dengan menggunakan model tikus dan analisis jaringan pasien, tim peneliti mengidentifikasi bahwa saraf-saraf tersebut melepaskan calcitonin gene-related peptide (CGRP) yang berikatan dengan reseptor pada sel dendritik dan sel T, sehingga mengganggu sinyal yang diperlukan untuk memulai pembentukan TLS. Data yang dipublikasikan menunjukkan bahwa penghentian sinyal persarafan nyeri secara genetik maupun farmakologis memulihkan kuantitas dan kualitas TLS, serta meningkatkan respons terhadap imunoterapi.
Mekanisme Persarafan Nyeri yang Mengejutkan
Temuan ini mengubah paradigma tentang peran saraf dalam biologi kanker. Selama ini, persarafan di sekitar tumor dipandang sebagai penumpang pasif, atau sekadar terlibat dalam persepsi nyeri yang dialami pasien. Studi yang berjudul lengkap “Nociceptive innervation limits tertiary lymphoid structures to promote lung cancer” itu menunjukkan bahwa saraf nosiseptif merupakan pemain aktif dalam imunosupresi. Dengan menggunakan teknologi pencitraan canggih dan sekuensing RNA sel tunggal, para peneliti memetakan interaksi antara ujung saraf dan sel imun di dalam nodul kanker paru-paru. Mereka menemukan bahwa semakin tinggi densitas serabut saraf nosiseptif di dalam tumor, semakin rendah jumlah TLS yang terbentuk.
“Ini seperti tumor menanam kabel yang mengirimkan sinyal untuk membungkam pusat koordinasi imun,” ungkap Prof. Dr. Arlene Sharpe, ahli imunologi yang turut menulis studi tersebut. Eksperimen lebih lanjut menunjukkan bahwa pemberian botulinum toxin (Botox) lokal untuk memblokir sinyal nyeri pada tumor paru tikus mampu meningkatkan pembentukan TLS secara signifikan dan memperlambat pertumbuhan tumor. Temuan ini langsung membuka peluang uji klinis pada manusia, mengingat Botox sudah memiliki profil keamanan yang mapan untuk berbagai indikasi neurologis dan kosmetik.
Implikasi bagi Terapi Kanker Paru di Indonesia
Bagi Indonesia, yang mencatat lebih dari 34.000 kasus baru dan sekitar 30.000 kematian akibat kanker paru setiap tahun (Globocan 2020), temuan ini membawa aura harapan baru. Kanker paru di Tanah Air didominasi oleh pasien yang terdiagnosis pada stadium lanjut, ketika peluang pembedahan sudah kecil dan respons terhadap kemoterapi maupun imunoterapi sangat bervariasi. Ahli onkologi dari Rumah Sakit Kanker Dharmais, Dr. Sita Laksmi Andarini, Sp.P(K), menanggapi hasil studi ini dengan antusias. “Penelitian ini menjelaskan mengapa sebagian besar pasien kanker paru di Indonesia tidak merespons optimal terhadap inhibitor checkpoint imun. Jika kita dapat memblokade sinyal nyeri secara aman, kita mungkin bisa mengubah lingkungan mikro tumor dari dingin menjadi panas, sehingga imunoterapi bekerja lebih efektif,” katanya saat dihubungi di Jakarta, Kamis (22/5).
Lebih lanjut, pendekatan inovatif ini berpotensi menghemat biaya pengobatan jangka panjang karena memaksimalkan efektivitas obat-obatan yang sudah ada. Kementerian Kesehatan melalui Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan telah menganggarkan dana besar untuk pengobatan kanker, namun hasil pengobatan sering kali belum optimal karena resistensi obat. Dengan menambahkan terapi penargetan saraf seperti biosimilar Botox lokal pada protokol standar, diharapkan tingkat keberhasilan pengobatan dapat ditingkatkan. “Kami akan mengkaji kemungkinan uji klinis fase 1 di Indonesia bekerja sama dengan mitra internasional, karena beban kanker paru di sini sangat besar dan representasi populasi Asia dalam riset global masih minim,” ujar Dr. Andarini menambahkan.
Respons Regulator dan Langkah Ke Depan
Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menyatakan kesiapan untuk memfasilitasi percepatan pengkajian protokol riset translasional yang berangkat dari temuan dasar semacam ini. Kepala BPOM, Taruna Ikrar, dalam keterangan tertulisnya menyebutkan bahwa pihaknya akan memprioritaskan evaluasi proposal uji klinik yang bertujuan mengatasi kanker dengan pendekatan baru, sepanjang keamanan dan kemurnian substansi uji terjamin. “Kami membuka pintu lebar bagi inovasi yang berpotensi menurunkan angka kematian akibat kanker paru, yang merupakan salah satu penyumbang utama beban penyakit tidak menular di Indonesia,” bunyi pernyataan resmi tersebut.
Sementara itu, para peneliti di balik studi Cell ini mengisyaratkan bahwa temuan serupa mungkin berlaku pada jenis kanker lain yang juga dipengaruhi oleh persarafan, seperti kanker pankreas dan kanker kulit melanoma. Mereka kini tengah mengembangkan antibodi monoklonal yang secara spesifik memblokade reseptor CGRP pada sel imun di lingkungan tumor, dengan harapan dapat menciptakan terapi yang lebih tepat sasaran tanpa mengganggu fungsi normal saraf di bagian tubuh lain. Apabila strategi ini berhasil, dunia akan menyaksikan lahirnya kelas obat baru yang merekayasa ulang komunikasi antara sistem saraf dan sistem imun demi menaklukkan kanker. Bagi jutaan pasien di seluruh dunia, termasuk di Indonesia, studi ini bukan sekadar terobosan ilmiah, melainkan peta jalan menuju penyembuhan yang selama ini dianggap mustahil.
Baca juga:
Comments (0)