Psikolog Ungkap Makna Ucapan 'Aku Benci Mama' dari Anak

Jakarta — Ucapan seorang anak yang secara tiba-tiba menyatakan kebencian terhadap orang tuanya kerap menimbulkan kegelisahan mendalam bagi ayah dan ibu. Psikolog Klinis Anak dan Remaja Vera Itabilia...

Oct 10, 2026 - 18:22
0 0
Psikolog Ungkap Makna Ucapan 'Aku Benci Mama' dari Anak

Jakarta — Ucapan seorang anak yang secara tiba-tiba menyatakan kebencian terhadap orang tuanya kerap menimbulkan kegelisahan mendalam bagi ayah dan ibu. Psikolog Klinis Anak dan Remaja Vera Itabiliana Hadiwidjojo menegaskan bahwa kalimat semacam itu pada umumnya tidak dapat dimaknai secara harfiah sebagai bentuk permusuhan terhadap orang tua. Menurutnya, luapan kata tersebut lebih mencerminkan kondisi emosional anak yang belum mampu diutarakan dengan tepat.

"Ucapan tersebut biasanya bukan berarti anak benar-benar benci orang tuanya. Anak mungkin sedang sangat marah, kecewa, frustrasi, atau merasa tidak dipahami, tetapi belum mampu menemukan kata yang tepat," ujar Vera dalam keterangannya kepada media beberapa waktu lalu.

Berdasarkan penjelasan tersebut, orang tua dituntut untuk menelaah emosi dan kebutuhan yang tersembunyi di balik ucapan anak, alih-alih terpaku pada kata "benci" yang tersampaikan. Pendekatan ini dinilai penting agar komunikasi antara orang tua dan anak tetap terbangun secara konstruktif.

Menjaga Ketahanan Emosi Orang Tua

Vera menyatakan bahwa ketika anak melontarkan kalimat yang menyakitkan, orang tua sebaiknya berupaya mempertahankan ketenangan dan tidak membalas dengan perkataan yang berpotensi melukai perasaan anak. Reaksi yang emosional dikhawatirkan hanya memperkeruh situasi dan menutup ruang dialog.

Ia menyarankan orang tua untuk tetap menerima emosi anak, namun sekaligus menetapkan batasan mengenai cara penyampaiannya. Sebagai contoh, orang tua dapat mengutarakan pemahaman terhadap kemarahan anak sembari mengingatkan bahwa penggunaan kata-kata yang menyakiti tidak dibenarkan.

"Mama tahu kamu sedang sangat marah, tapi kita tidak menggunakan kata-kata yang menyakiti," ujar Vera mencontohkan kalimat yang dapat disampaikan orang tua.

Dengan pola pengasuhan demikian, anak diharapkan belajar bahwa perasaan marah atau kecewa merupakan hal yang wajar dirasakan, tetapi tetap terdapat batasan dalam mengungkapkannya. Vera menambahkan, setelah anak lebih tenang, orang tua barulah diajak berdialog mengenai penyebab kemarahannya.

Membantu Anak Mengenali dan Menamai Emosi

Lebih lanjut, Vera mengemukakan bahwa orang tua dapat membantu anak memberikan nama pada emosi yang tengah dirasakan. Misalnya, ketika anak marah karena tidak diizinkan bermain, orang tua dapat merefleksikan perasaan tersebut dengan menyebutkan bahwa anak sedang kecewa.

Menurut Vera, anak juga perlu dibimbing untuk mengenal kalimat alternatif dalam menyampaikan perasaannya, seperti menyatakan bahwa dirinya marah atau kecewa. Langkah ini dinilai mampu memperkuat kemampuan anak dalam mengelola emosi secara sehat sejak dini.

Dengan pemahaman tersebut, ucapan "aku benci Mama" atau "aku benci Papa" dapat diposisikan sebagai sinyal kebutuhan emosional anak yang belum tersalurkan, bukan sebagai penolakan terhadap figur orang tua. Orang tua diimbau untuk merespons dengan empati, ketenangan, dan bimbingan yang konsisten agar tumbuh kembang emosional anak berlangsung optimal.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
bagus-nugroho

Reporter Kebijakan Publik. Fokus pada APBN, otonomi daerah, dan reformasi birokrasi.

Comments (0)

User