Program Mangrove NHM di Kao Tumbuh Pesat, Tingkat Keberhasilan Capai 90%
Apaberita.com, Halmahera Utara – Tiga tahun berselang, program penanaman mangrove yang digagas Nusa Halmahera Minerals (NHM) di pesisir Desa Kao, Kecamatan Kao, menuai hasil membanggakan. Dari 600
Apaberita.com, Halmahera Utara – Tiga tahun berselang, program penanaman mangrove yang digagas Nusa Halmahera Minerals (NHM) di pesisir Desa Kao, Kecamatan Kao, menuai hasil membanggakan. Dari 600 bibit yang ditanam, sekitar 90 persen berhasil tumbuh subur dan kini menghijaukan bantaran Sungai Naul. Kawasan yang semula gersang dan terdegradasi itu perlahan berubah menjadi sabuk hijau pelindung pesisir.
Program seluas 0,8 hektar ini merupakan buah kolaborasi erat antara NHM, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Maluku Utara, DLH Kabupaten Halmahera Utara, Pemerintah Desa Kao, dan Komunitas Green Kaidati. Lokasi penanaman sendiri berada di dalam Kawasan Ekosistem Esensial (KEE), menjadikannya area prioritas pemulihan ekologis yang terpantau ketat.
Kolaborasi Multipihak Jadi Kunci
Keberhasilan ini tak lepas dari model pengelolaan partisipatif. NHM tidak sekadar menyerahkan bibit lalu pergi; perusahaan tambang emas itu mendorong Komunitas Green Kaidati sebagai ujung tombak perawatan. Merekalah yang setiap hari memantau pertumbuhan, membersihkan sampah yang terbawa arus, hingga menyulam tanaman yang mati. Pola ini menciptakan rasa memiliki di tingkat akar rumput, sehingga jagawana lokal benar-benar berfungsi.
“Awalnya kami ragu, karena dulu di sini airnya keruh dan tanahnya berlumpur asam. Tapi setelah tiga tahun, lihatlah sekarang — kepiting bakau, ikan gelodok, dan burung pantai sudah banyak yang kembali. Mangrove benar-benar menghidupkan Sungai Naul,” ujar Rahman, anggota Komunitas Green Kaidati, saat berbincang dengan Apaberita.com di sela pemantauan rutin, pekan lalu.
Habitat Baru, Harapan Baru
Transformasi ekologis yang terjadi tidak main-main. Rimbunnya Rhizophora dan Avicennia kini menjadi tempat bertelur ikan, persembunyian kepiting, sekaligus area mencari makan bagi burung air. Kehadiran fauna-fauna itu menjadi indikator bahwa rantai makanan sudah bekerja kembali — sesuatu yang mustahil ditemukan saat lahan masih berupa hamparan lumpur terbuka tiga tahun lalu.
Abrasi pun mulai terkendali. Garis pantai yang sebelumnya mundur beberapa meter per tahun kini cenderung stabil. Mangrove dewasa berfungsi sebagai peredam gelombang alami, sekaligus menyerap karbon dalam jumlah signifikan — manfaat ganda yang kian relevan di tengah krisis iklim global. Pemerintah Desa Kao kini menggodok konsep ekowisata mangrove untuk memberdayakan ekonomi warga, menjadikan area ini sebagai laboratorium alam sekaligus destinasi edukasi lingkungan.
DLH Maluku Utara menyebut capaian ini sebagai best practice yang pantas direplikasi. “Ini bukti bahwa perusahaan bisa menjadi mitra strategis pemulihan ekosistem, bukan sekadar subjek pengawasan. Kami berharap perusahaan lain terinspirasi,” kata seorang pejabat DLH yang enggan disebutkan namanya. Sementara itu, NHM mengonfirmasi rencana perluasan program serupa ke wilayah pesisir lain di lingkar tambang Gosowong. Ke depan, mereka menargetkan tambahan 5 hektar lahan mangrove baru dalam tiga tahun mendatang, dengan tetap mengandalkan skema pendampingan komunitas sebagai jantung keberlanjutan.
Comments (0)