Prabowo Resah: RI Sukses B50, tapi Piala Dunia Masih Jauh

Suasana di Istana Kepresidenan mendadak serius ketika Presiden Prabowo Subianto menggelar rapat terbatas dengan dua sosok kunci: Ketua Umum PSSI Erick Thoh

Jul 09, 2026 - 16:52
0 0

Suasana di Istana Kepresidenan mendadak serius ketika Presiden Prabowo Subianto menggelar rapat terbatas dengan dua sosok kunci: Ketua Umum PSSI Erick Thohir dan Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Purbaya Yudhi Sadewa. Rapat yang berlangsung di kompleks Istana, Jakarta, pada awal pekan ini, digelar secara tertutup dan langsung dipimpin Presiden. Dari balik pintu rapat, keresahan Presiden terbaca jelas: Indonesia kini mampu merekayasa dan memproduksi bahan bakar biodiesel B50—campuran 50 persen minyak sawit dan 50 persen solar—yang menjadi pencapaian teknologi tinggi, namun Tim Nasional (Timnas) Indonesia belum juga mampu menembus putaran final Piala Dunia.

Kepada kedua pembantunya, Prabowo melontarkan pertanyaan tajam yang menjadi poros pembicaraan. Sejumlah sumber yang mengetahui jalannya rapat menyebut Presiden menggunakan perbandingan antara keberhasilan di sektor energi dan kegagalan di sektor sepak bola nasional.

“Kita bisa bikin B50. Riset dan teknologinya kita kuasai. Pertamina dan perguruan tinggi kita sudah uji coba. Tapi untuk masuk Piala Dunia saja kita masih pontang-panting. Ini tidak masuk akal. Saya minta Anda berdua duduk bersama, cari jalan keluarnya,” ujar Prabowo dengan nada tinggi, seperti ditirukan salah satu peserta rapat.

Kutipan tersebut merefleksikan betapa Presiden melihat kontras mencolok antara kemandirian energi yang terus dipacu dan prestasi olahraga paling populer sedunia yang seakan berjalan di tempat. Mandatori B50 memang belum resmi berlaku; saat ini Indonesia baru menerapkan B35 dan bersiap menuju B40. Namun uji coba B50 telah dilakukan di jalan dan menunjukkan hasil yang menjanjikan. Di sisi lain, Timnas Indonesia saat ini berjuang di putaran ketiga Kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Asia. Meski ada kemajuan dengan lolos ke Piala Asia 2023 dan menembus fase grup, asa ke Piala Dunia masih jauh. Ranking FIFA Indonesia, yang sempat naik ke posisi 130-an awal 2025, belum cukup untuk otomatis lolos.

Panggil Erick dan Purbaya, Cari Solusi Terintegrasi

Kehadiran Erick Thohir dan Purbaya Yudhi Sadewa dalam satu meja bukan kebetulan. Erick diminta memaparkan peta jalan PSSI menuju Piala Dunia 2030 atau 2034, lengkap dengan kendala yang dihadapi. Mulai dari pembinaan usia dini, kompetisi domestik yang stabil, hingga program naturalisasi pemain diaspora yang sedang gencar dijalankan.

Sementara itu, Purbaya sebagai ekonom dan arsitek kebijakan ekonomi nasional dihadirkan untuk mengkaji sisi pembiayaan. Sebab, ambisi menembus Piala Dunia memerlukan dana besar yang tidak bisa hanya ditopang oleh sponsor dan hak siar. Presiden meminta DEN mencarikan skema pendanaan kreatif di luar APBN, misalnya melalui kerja sama dengan badan usaha, investasi sektor swasta di infrastruktur sepak bola, atau obligasi khusus olahraga. Dengan kapasitas Purbaya yang paham seluk beluk pasar keuangan dan kebijakan fiskal, Prabowo berharap ada formula yang bisa mempercepat modernisasi sepak bola nasional.

Apa Arti B50 untuk Sepak Bola?

B50 yang menjadi simbol keberhasilan riset dalam negeri sebenarnya tidak punya kaitan langsung dengan sepak bola. Namun Prabowo menggunakan pencapaian ini sebagai metafora bahwa kemampuan teknis dan sumber daya Indonesia sudah tinggi, sehingga ketertinggalan di ranah lain semestinya bisa dikejar. Jika teknologi biodiesel kelas dunia bisa dibuat oleh anak bangsa, mestinya prestasi sepak bola kelas dunia juga bisa dicapai dengan manajemen, pembinaan, dan pendanaan yang tepat.

Rapat terbatas itu menghasilkan tiga instruksi langsung Presiden. Pertama, Erick Thohir diminta mempercepat penyelesaian cetak biru pembangunan training camp berstandar internasional yang akan tersebar di sejumlah wilayah; target PSSI setidaknya lima pusat pelatihan dengan standar FIFA pada 2027. Kedua, Purbaya Yudhi Sadewa diberi tugas menyusun proposal insentif fiskal bagi perusahaan yang berinvestasi di pembinaan sepak bola usia muda, termasuk pengembangan akademi sepak bola di daerah. Ketiga, keduanya diwajibkan menyusun laporan bersama setiap bulan yang langsung dilaporkan ke Presiden.

Erick Thohir seusai rapat mengatakan siap menjalankan arahan. Disebutkannya bahwa PSSI telah mengantongi dukungan pemerintah daerah untuk membangun tiga training camp baru di Kalimantan Timur, Jawa Tengah, dan Nusa Tenggara Barat. Ia juga menekankan bahwa target realistis PSSI adalah lolos ke Piala Dunia 2030 dengan basis pemain muda hasil pembinaan jangka panjang yang dimulai sejak 2023. Program naturalisasi, tegas Erick, hanyalah jembatan sementara.

Dari pihak DEN, Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan akan segera berkoordinasi dengan Kementerian Keuangan dan Otoritas Jasa Keuangan untuk merancang skema pembiayaan non-APBN. Salah satu ide awal yang akan dikaji adalah penerbitan instrumen pendapatan tetap bertema olahraga yang bisa dibeli publik, sehingga partisipasi masyarakat dalam membangun prestasi sepak bola nasional dapat terakomodasi sekaligus menjadi alternatif investasi.

Analis kebijakan publik dari Universitas Indonesia, Aditya Perdana, menilai keresahan Presiden ini bisa menjadi momentum politik yang baik jika ditindaklanjuti dengan perencanaan matang dan eksekusi yang terukur.

“Kalau hanya retorika, tidak akan mengubah apa pun. Tapi jika Presiden benar-benar mengawal dari sisi anggaran dan kelembagaan, bukan mustahil Indonesia bisa menembus Piala Dunia lebih cepat. Kuncinya di kompetisi domestik yang sehat dan pembinaan massal, bukan sekadar proyek mercusuar.”

Apakah keresahan itu bisa menjadi titik balik prestasi sepak bola nasional? Waktu akan menjawab. Yang pasti, keberhasilan B50 telah memberi Presiden amunisi untuk menagih kemajuan di sektor lain: jika teknologi serumit itu bisa, mengapa sepak bola tidak?

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User