Prabowo Groundbreaking Blok Masela, Target Produksi Gas 2029-2030
JAKARTA — Presiden Prabowo Subianto dijadwalkan melakukan peletakan batu pertama atau groundbreaking proyek strategis nasional Lapangan Abadi, Blok Masela, di Kepulauan Tanimbar, Provinsi Maluku, da...
JAKARTA — Presiden Prabowo Subianto dijadwalkan melakukan peletakan batu pertama atau groundbreaking proyek strategis nasional Lapangan Abadi, Blok Masela, di Kepulauan Tanimbar, Provinsi Maluku, dalam waktu dekat. Proyek gas alam cair raksasa ini ditetapkan sebagai salah satu Program Strategis Nasional yang masuk dalam peta jalan ketahanan energi jangka panjang, dengan target awal produksi antara tahun 2029 hingga 2030.
Kepastian jadwal groundbreaking tersebut disampaikan oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia dalam keterangan resmi, Selasa. Menurut Bahlil, agenda kerja presiden di lokasi proyek akan menjadi tonggak penting setelah lebih dari dua dekade pengembangan lapangan gas itu tertunda akibat dinamika negosiasi fiskal, perubahan skema pengembangan, serta pembahasan ulang rencana pengembangan lapangan atau plan of development (POD).
"Presiden Prabowo akan hadir langsung di lokasi untuk memulai konstruksi Blok Masela. Ini bentuk komitmen pemerintah mempercepat hilirisasi gas bumi dan menjadikan Indonesia sebagai pemain utama di pasar LNG global," ujar Bahlil.
Blok Masela dikelola oleh kontraktor kontrak kerja sama INPEX Corporation asal Jepang bersama mitra-mitranya. Proyek ini memiliki cadangan terbukti mencapai lebih dari 10,7 triliun kaki kubik gas alam, menjadikannya salah satu aset gas non-konvensional terbesar di Asia Pasifik. Kementerian ESDM mencatat, investasi untuk pengembangan blok tersebut diproyeksikan menembus 20 miliar dolar AS, meliputi pembangunan fasilitas produksi lepas pantai, kilang pencairan gas di darat, serta infrastruktur pipa bawah laut.
Komitmen Presiden dan Percepatan Jadwal
Bahlil menegaskan, kehadiran Prabowo di lokasi proyek bukan sekadar seremoni. Pemerintah telah menginstruksikan seluruh kementerian teknis, pemerintah daerah, dan SKK Migas untuk merampungkan seluruh perizinan dan pembebasan lahan sebelum pelaksanaan groundbreaking. "Kami meminta tidak ada lagi kendala administratif. Presiden ingin proyek ini berjalan sesuai jadwal yang ditetapkan dalam revisi POD yang sudah mendapat persetujuan," tegas Bahlil.
Dalam revisi POD yang disahkan tahun lalu, skema pengembangan Masela dialihkan dari fasilitas pengapalan lepas pantai menjadi kilang LNG di darat, sesuai arahan pemerintah untuk memaksimalkan dampak pengganda ekonomi di Maluku dan sekitarnya. Perubahan skema ini sempat memicu negosiasi ulang parameter keekonomian antara pemerintah dan kontraktor, namun akhirnya mencapai kesepakatan pada paruh pertama 2026.
Target Produksi dan Pasar Ekspor
Berdasarkan dokumen rencana kerja yang telah disetujui, Blok Masela akan memproduksi hingga 9,5 juta metrik ton LNG per tahun pada kapasitas penuh. Selain LNG, proyek ini juga akan memasok gas pipa untuk kebutuhan domestik melalui jaringan transmisi yang akan terhubung ke sistem kelistrikan Maluku dan berpotensi ke wilayah timur Indonesia lainnya. Kementerian ESDM menargetkan gas pertama mengalir pada triwulan akhir 2029 atau paling lambat awal 2030.
"Dengan kapasitas 9,5 juta ton LNG per tahun, produksi Masela akan langsung menaikkan volume ekspor gas Indonesia lebih dari 30 persen, sekaligus mengisi pasar premium di Jepang, Korea Selatan, dan Tiongkok yang kontrak jangka panjangnya akan jatuh tempo pada 2030-an," ujar Bahlil.
SKK Migas sebelumnya melaporkan bahwa proyek Masela akan menjadi penyumbang terbesar kedua bagi produksi LNG nasional setelah Kilang Tangguh di Papua Barat. Pada masa konstruksi puncak, proyek ini diperkirakan menyerap 30.000 tenaga kerja langsung dan menciptakan puluhan ribu lapangan kerja tidak langsung di sektor logistik, konstruksi, perhotelan, dan jasa pendukung.
Dampak Ekonomi dan Kemasyarakatan
Pemerintah Provinsi Maluku telah menyambut rencana groundbreaking tersebut. Gubernur Maluku menyatakan bahwa pihaknya telah menyiapkan kawasan ekonomi khusus di sekitar Saumlaki, ibu kota Kabupaten Kepulauan Tanimbar, untuk mendukung aktivitas logistik proyek. "Kami berkomitmen memfasilitasi seluruh kebutuhan lahan dan tenaga kerja lokal agar kontribusi Blok Masela benar-benar terasa bagi masyarakat Kepulauan Tanimbar dan Maluku secara keseluruhan," ujar Gubernur.
Di tingkat pusat, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian mencatat bahwa proyek Masela diproyeksikan menyumbang penerimaan negara hingga 17 miliar dolar AS selama masa kontrak, di luar pajak-pajak daerah dan efek berganda lainnya. Pendapatan itu diharapkan menjadi pendorong utama bagi program hilirisasi gas bumi nasional yang digagas Presiden Prabowo sejak awal masa pemerintahannya.
Sejumlah kalangan pelaku usaha energi menyambut positif penetapan jadwal groundbreaking tersebut. Analis senior dari lembaga riset energi independen menilai bahwa keberhasilan mengerek proyek Masela ke tahap konstruksi akan memperbaiki citra iklim investasi hulu migas Indonesia, yang dalam satu dekade terakhir mengalami defisit cadangan akibat minimnya temuan besar baru. "Masela adalah game changer. Jika berhasil, ini akan membuka kembali minat eksplorasi di cekungan-cekungan prospektif Indonesia timur," ujarnya.
Hingga berita ini diturunkan, tim teknis Kementerian ESDM bersama SKK Migas dan INPEX sedang melakukan verifikasi lapangan tahap akhir untuk memastikan seluruh prasyarat groundbreaking terpenuhi. Keamanan di sekitar lokasi proyek pun telah dikoordinasikan dengan TNI dan Polri guna mendukung kelancaran agenda presiden di Kepulauan Tanimbar.
Comments (0)