Petani Tepian Terap Sulap Limbah Tongkol Jagung Jadi Pakan Fermentasi Kambing

SANGKULIRANG — Limbah tongkol jagung yang selama bertahun-tahun hanya menjadi tumpukan sisa panen tanpa nilai ekonomi di Desa Tepian Terap, Kecamatan Sangk

Jul 08, 2026 - 14:55
0 0
Petani Tepian Terap Sulap Limbah Tongkol Jagung Jadi Pakan Fermentasi Kambing

SANGKULIRANG — Limbah tongkol jagung yang selama bertahun-tahun hanya menjadi tumpukan sisa panen tanpa nilai ekonomi di Desa Tepian Terap, Kecamatan Sangkulirang, Kabupaten Kutai Timur, kini menemukan fungsi barunya sebagai pakan ternak berkualitas. Melalui teknologi fermentasi sederhana, para petani setempat mengubah material yang sebelumnya dibuang menjadi silase bergizi tinggi untuk pakan kambing.

Inovasi ini menjawab dua persoalan sekaligus: akumulasi limbah pertanian pascapanen dan keterbatasan pakan ternak, terutama saat musim kemarau. Silase merupakan pakan hasil fermentasi anaerobik yang mempertahankan kadar air dan kandungan nutrisi bahan baku dalam jangka waktu lama. Tongkol jagung yang semula dianggap tidak bernilai kini diolah melalui proses pencacahan, pencampuran dengan aditif, dan penyimpanan kedap udara selama periode fermentasi tertentu.

Proses pembuatan silase dari tongkol jagung di Desa Tepian Terap melibatkan partisipasi aktif kelompok tani setempat. Mereka mencacah tongkol jagung hingga ukuran partikel ideal, menambahkan mikroorganisme fermentatif dan molase sebagai sumber gula, lalu memadatkannya ke dalam wadah tertutup rapat untuk mencegah kontak oksigen. Setelah dua hingga tiga pekan masa fermentasi, material itu berubah menjadi pakan dengan tekstur lunak dan aroma khas fermentasi yang disukai ternak kambing.

Data dari Dinas Pertanian dan Peternakan Kutai Timur menunjukkan bahwa produksi jagung di Kecamatan Sangkulirang mencapai titik surplus dengan volume limbah tongkol signifikan setiap musim panen. Selama ini, sekitar 70-80 persen tongkol berakhir sebagai limbah tanpa pengolahan. Konversi menjadi silase diperkirakan dapat menekan volume limbah hingga separuh serta menyediakan stok pakan untuk sedikitnya 50 ekor kambing milik peternak lokal selama periode paceklik hijauan.

Teknik Fermentasi dan Manfaat Nutrisional

Silase tongkol jagung yang dihasilkan mengandung serat kasar yang sesuai untuk ruminansia kecil sekaligus mempertahankan energi metabolis berkat proses fermentasi terkontrol. Peternak kambing di desa tersebut melaporkan peningkatan bobot harian ternak yang mengonsumsi silase sebagai pakan tambahan, dibandingkan ternak yang hanya mengandalkan hijauan segar. Kandungan asam laktat hasil fermentasi juga berperan sebagai pengawet alami, membuat silase dapat disimpan hingga enam bulan tanpa kerusakan berarti selama wadah tetap kedap udara.

"Dulu kami bingung menumpuk tongkol jagung sehabis panen. Sekarang setelah diolah jadi silase, kambing-kambing kami punya cadangan pakan sepanjang tahun. Bobot ternak juga lebih cepat naik,"

ujar Sumarno, salah satu peternak sekaligus petani jagung di Desa Tepian Terap (Jumat, 14/2).

Kegiatan ini merupakan bagian dari program pemberdayaan petani-peternak yang digulirkan oleh penyuluh pertanian lapangan Kecamatan Sangkulirang. Selain pelatihan teknis fermentasi, para peternak juga mendapat pendampingan manajemen pemberian pakan dan pencatatan performa ternak. Keberhasilan di Tepian Terap diharapkan menjadi model replikasi untuk desa-desa sekitar yang memiliki profil pertanian serupa.

Dampak Ekonomi dan Lingkungan

Pemanfaatan limbah tongkol jagung sebagai silase tidak hanya menekan biaya pakan yang kerap membebani peternak kecil. Ketergantungan terhadap pakan komersial pun berkurang signifikan, memberi ruang peningkatan margin keuntungan dari usaha ternak kambing di tingkat rumah tangga. Di sisi lingkungan, pengurangan pembakaran atau penimbunan limbah tongkol berkontribusi pada perbaikan kualitas udara dan estetika lanskap pertanian desa.

Pemerintah Kecamatan Sangkulirang mencatat, populasi kambing di wilayah tersebut mencapai 1.200 ekor per akhir tahun lalu, dengan potensi terus bertambah seiring tersedianya solusi pakan murah berbasis limbah pertanian lokal. Ke depan, pengembangan silase dari bahan baku lain seperti jerami padi dan kulit kopi juga mulai dijajaki oleh kelompok tani binaan untuk diversifikasi sumber pakan ternak ruminansia.

"Ini langkah awal yang menjanjikan. Kami akan perluas ke kelompok tani lain agar limbah pertanian tidak lagi terbuang percuma, melainkan menjadi aset produktif bagi peternak,"

kata Camat Sangkulirang saat meninjau lokasi pengolahan silase pekan lalu.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User