Petani Pidie Jaya Sulap Lumpur Sisa Banjir Jadi Lumbung Bawang
JAKARTA, Apaberita – Hamparan lahan yang semula tertutup lumpur tebal akibat banjir bandang di Kecamatan Meurah Dua, Kabupaten Pidie Jaya, Aceh, kini disulap menjadi areal pertanian produktif. Petan...
JAKARTA, Apaberita – Hamparan lahan yang semula tertutup lumpur tebal akibat banjir bandang di Kecamatan Meurah Dua, Kabupaten Pidie Jaya, Aceh, kini disulap menjadi areal pertanian produktif. Petani setempat berhasil membudidayakan tanaman bawang merah dan cabai di atas tanah sedimentasi yang sempat dianggap tidak berguna. Transformasi ini menjadi bukti ketangguhan masyarakat dalam mengubah bencana menjadi peluang ekonomi.
Dari Bencana ke Lahan Subur
Banjir bandang yang menerjang kawasan Meurah Dua pada awal Maret 2026 meninggalkan lapisan lumpur setebal 30 hingga 50 sentimeter di ratusan hektare lahan warga. Material endapan yang berasal dari luapan Sungai Meureudu itu menimbun sawah, kebun, dan permukiman, sehingga sempat memicu kekhawatiran akan hilangnya mata pencaharian. Namun, setelah dilakukan pengujian oleh Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Pidie Jaya, diketahui bahwa lumpur tersebut mengandung unsur hara tinggi yang justru bermanfaat bagi tanaman hortikultura.
Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Pidie Jaya, Ir. Zulfikar, dalam keterangan tertulis yang diterima Apaberita, Kamis (17/7/2026), menyatakan, “Kami melakukan uji laboratorium terhadap sampel tanah di tiga titik lokasi terdampak. Hasilnya menunjukkan kandungan nitrogen, fosfor, dan kalium di atas rata-rata lahan pertanian biasa. Ini adalah temuan yang menggembirakan, karena dengan pengelolaan tepat, lahan tersebut bisa langsung ditanami tanpa harus menunggu bertahun-tahun.”
Kolaborasi Petani dan Pemerintah
Menindaklanjuti hasil uji laboratorium, Pemerintah Kabupaten Pidie Jaya melalui program Pemulihan Ekonomi Pascabencana langsung menggelar Rapat Koordinasi Lintas Sektor pada 24 Maret 2026. Rapat yang dihadiri perwakilan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Dinas Pertanian, penyuluh lapangan, dan kelompok tani itu menetapkan strategi percepatan tanam komoditas bawang merah dan cabai. Kedua komoditas dipilih karena memiliki siklus panen pendek dan permintaan pasar tinggi.
Sebanyak 75 hektare lahan yang berada di Gampong Meuko, Meurah Dua, dan sekitarnya disiapkan untuk penanaman perdana pada April 2026. Pemerintah daerah menyalurkan bantuan benih bawang merah varietas Bima Brebes sebanyak 75 ton, benih cabai keriting varietas Lembang-1 sebanyak 10 kilogram, serta pupuk organik dan anorganik sesuai dosis rekomendasi. Penyuluh pertanian lapangan (PPL) melakukan pendampingan intensif selama masa tanam hingga panen.
“Bapak-bapak petani awalnya ragu, karena belum pernah menanam di atas lumpur seperti ini. Namun setelah kami beri pelatihan dan jaminan pendampingan, mereka antusias. Sekarang hasilnya melampaui target,” ujar M. Nasir, Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Pertanian Pidie Jaya, saat meninjau lokasi panen.
Harga Stabil, Ekonomi Pulih
Panen perdana bawang merah dimulai pada pertengahan Juli 2026. Produktivitas tercatat mencapai 8,7 ton per hektare atau setara 652 ton dari total lahan yang ditanami. Sementara itu, panen cabai merah keriting diperkirakan menyusul dua minggu kemudian dengan potensi produksi 6,5 ton per hektare. Hasil ini jauh di atas rata-rata nasional yang berada pada kisaran 6 ton per hektare untuk bawang merah dan 5 ton per hektare untuk cabai.
Abdullah, petani asal Gampong Meuko yang lahan 0,5 hektarenya tertutup lumpur, mengaku tidak menyangka tanahnya kini lebih subur daripada sebelum bencana. “Dulu saya hanya tanam padi setahun sekali, itupun hasilnya pas-pasan. Sekarang dua bulan sudah bisa panen bawang, dan harganya bagus, di tingkat petani sampai Rp25.000 per kilogram. Alhamdulillah utang sudah terbayar,” tuturnya saat ditemui Apaberita di tengah kebunnya.
Berdasarkan data Dinas Perindustrian dan Perdagangan Pidie Jaya, harga bawang merah di tingkat produsen bertahan di rentang Rp22.000 hingga Rp26.000 per kilogram selama masa panen, tidak mengalami gejolak berarti. Bawang hasil petani Meurah Dua dipasok ke pasar induk di Sigli, Banda Aceh, hingga Medan melalui jaringan pedagang yang telah terjalin puluhan tahun.
Replikasi dan Keberlanjutan
Keberhasilan di Meurah Dua mendorong Pemerintah Kabupaten Pidie Jaya untuk mereplikasi model serupa di sembilan kecamatan lain yang juga terdampak banjir bandang, meskipun dengan skala lebih kecil. Bupati Pidie Jaya, H. Said Mulyadi, SE, M.Si., dalam sidang paripurna DPRK, 14 Juli 2026, menegaskan bahwa alokasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Kabupaten (APBK) Perubahan 2026 telah disiapkan untuk perluasan program.
“Ini pelajaran berharga. Bencana bukan alasan menyerah. Dengan koordinasi, riset sederhana, dan keberanian bertindak, lahan yang tadinya dianggap mati bisa menjadi sumber penghidupan baru bagi rakyat. Meurah Dua akan kami jadikan percontohan pertanian tangguh bencana di Aceh,” kata Bupati.
Pengamat pertanian dari Universitas Syiah Kuala, Dr. Ir. Hasanuddin, M.Agr., menyebut strategi budidaya di lahan sedimentasi sebagai langkah adaptif terhadap perubahan lingkungan. “Material vulkanik dan sedimen sungai yang terbawa banjir seringkali membawa mineral segar. Jika dikelola baik, itu adalah anugerah. Tapi perlu diwaspadai kandungan logam berat, sehingga pemantauan berkala mutlak dilakukan,” sarannya.
Dengan skema keberlanjutan yang mencakup rotasi tanaman, penambahan bahan organik, dan pengawasan kualitas tanah, ratusan petani di Meurah Dua optimistis lahan mereka dapat terus menghasilkan sepanjang tahun. Pemerintah daerah pun berkomitmen membangun infrastruktur irigasi sederhana dan jalan usaha tani untuk memudahkan distribusi hasil panen ke pasar-pasar utama.
Comments (0)