Pesona Lionel Messi Lintasi Benua, Ribuan Suporter Vietnam dan Meksiko Serbu Atlanta
Atlanta, Apaberita.com – Daya pikat megabintang tim nasional Argentina, Lionel Messi, kembali menunjukkan kekuatannya yang tak mengenal batas geografis. Da
Atlanta, Apaberita.com – Daya pikat megabintang tim nasional Argentina, Lionel Messi, kembali menunjukkan kekuatannya yang tak mengenal batas geografis. Dalam laga 16 besar Piala Dunia 2026 yang mempertemukan Argentina melawan Mesir di Stadion Mercedes-Benz, Atlanta, Amerika Serikat, gelombang suporter dari negara-negara yang bahkan tidak berlaga di pertandingan tersebut justru mencuri perhatian. Ribuan penggemar asal Vietnam dan Meksiko terpantau memadati kawasan pusat kota dan sekitar stadion, membuktikan bahwa La Pulga telah menjadi fenomena global yang melampaui rivalitas sepak bola tradisional.
Berdasarkan pantauan kontributor Apaberita.com di lapangan, sejak pagi hari sebelum kick-off, jalanan di sekitar downtown Atlanta dipenuhi oleh lautan jersey bernomor punggung 10, baik edisi Argentina, Barcelona, Inter Miami, maupun Paris Saint-Germain. Anehnya, banyak di antara mereka mengibarkan bendera Vietnam dan Meksiko, dua negara yang tim nasionalnya tidak terlibat dalam duel malam itu. Tim Vietnam sendiri gagal lolos ke putaran final Piala Dunia 2026, sementara Meksiko sudah tersingkir di babak penyisihan grup.
“Saya datang dari Hanoi khusus untuk melihat Messi. Ini mungkin Piala Dunia terakhirnya, dan saya tidak mau melewatkan kesempatan sekecil apa pun. Sepak bola bagi saya adalah Messi, bukan negara tertentu,” ujar Nguyen Thanh, seorang pegiat teknologi berusia 29 tahun yang rela menabung selama dua tahun demi mewujudkan perjalanan ini.
Fenomena serupa terlihat pada kelompok suporter asal Meksiko. Meskipun El Tri telah angkat koper lebih awal, ratusan penggemar tetap bertahan di Amerika Serikat untuk menyaksikan laga-laga fase gugur, dengan alasan utama: Lionel Messi. Veronica Castillo, seorang ibu rumah tangga dari Guadalajara yang datang bersama dua anaknya, mengaku sengaja memperpanjang masa tinggal di Atlanta setelah tersingkirnya Meksiko. “Kami sudah membeli tiket jauh-jauh hari, berharap Meksiko bisa mencapai babak 16 besar melawan Argentina. Ketika itu tidak terjadi, kami memutuskan untuk tetap menonton Messi. Dia adalah warisan hidup sepak bola dunia,” katanya kepada Apaberita.com.
Fenomena ini memicu diskusi di kalangan pengamat olahraga tentang kekuatan personal branding seorang atlet yang mampu menggeser loyalitas nasional dalam konteks tontonan global. Dr. Andi Santoso, sosiolog olahraga dari Universitas Indonesia yang dihubungi secara terpisah, menilai bahwa Messi telah mencapai status sebagai “monumen budaya” yang tidak lagi terikat pada identitas nasional Argentina semata. “Suporter Vietnam dan Meksiko yang hadir di Atlanta tidak datang sebagai fan Argentina, tetapi sebagai peziarah budaya pop. Mereka ingin menyaksikan langsung seorang seniman lapangan hijau yang karyanya akan dikenang selama puluhan tahun ke depan,” jelasnya.
Pihak penyelenggara pertandingan di Stadion Mercedes-Benz pun mengakui adanya lonjakan permintaan tiket dari segmen pasar yang tidak terduga. Data penjualan tiket resmi FIFA menunjukkan bahwa pembeli dari Vietnam menempati peringkat keempat tertinggi untuk laga ini, di bawah tuan rumah Amerika Serikat, Argentina, dan Mesir. Sementara itu, pembeli berkebangsaan Meksiko berada di posisi keenam. Jumlah ini jauh melampaui partisipasi suporter netral dari negara-negara lain yang memiliki sejarah sepak bola lebih kuat, seperti Brasil atau Jerman.
“Kami sudah mengantisipasi minat tinggi mengingat ini adalah Piala Dunia dan Messi adalah ikon global, tapi kami tidak menyangka Vietnam dan Meksiko akan mendominasi seperti ini,” ungkap seorang perwakilan panitia lokal yang enggan disebutkan namanya. Pihak keamanan juga terpaksa menambah personel untuk mengantisipasi membludaknya massa di luar stadion, termasuk menyediakan layar raksasa di beberapa titik kota bagi mereka yang tidak kebagian tiket.
Di dalam stadion, atmosfer terasa unik. Sorak sorai tidak hanya pecah ketika Argentina mencetak gol, tetapi juga setiap kali Messi melakukan gerakan khasnya—entah itu dribel pendek menusuk pertahanan, umpan tanpa melihat, atau eksekusi tendangan bebas yang melengkung indah. Para suporter Vietnam dan Meksiko ikut melantunkan nyanyian khas Argentina yang mereka hafal di luar kepala, menciptakan mozaik budaya yang jarang terjadi dalam sejarah Piala Dunia.
Bagi sebagian kalangan, fenomena ini menghadirkan optimisme baru bagi industri sepak bola global. Ketika sebuah pertandingan antara Argentina dan Mesir mampu menjadi melting pot bagi puluhan warga negara lain, hal itu menegaskan bahwa sepak bola modern tidak lagi sekadar soal negara melawan negara, melainkan soal siapa yang bertanding di lapangan. Dan selama Messi masih berlari di atas rumput hijau, panggung Piala Dunia akan selalu menjadi magnet yang menarik jutaan pasang mata dari seluruh penjuru bumi, melintasi segala sekat geografis, bahasa, dan loyalitas tradisional.
Comments (0)