Babinsa Cibadak Evakuasi IRT Terjebak Selokan, Tertusuk Besi Cor
Hari menjelang senja di Kelurahan Cibadak, Kota Bandung, Rabu (17/7/2024). Serma Aprias, Bintara Pembina Desa (Babinsa) Koramil 1801/Cidadap, baru saja men
Hari menjelang senja di Kelurahan Cibadak, Kota Bandung, Rabu (17/7/2024). Serma Aprias, Bintara Pembina Desa (Babinsa) Koramil 1801/Cidadap, baru saja menuntaskan tugas harian dan memacu sepeda motor pulang ke rumah. Baru beberapa ratus meter melintas di jalan lingkungan, telinganya menangkap riuh rendah suara orang-orang yang bercampur jerit histeris dari sebuah gang. Ia menghentikan laju kendaraan dan bergegas mendekati sumber keributan. Pemandangan di depan membuat langkahnya terhenti sejenak: seorang ibu rumah tangga tergeletak di dalam selokan air sedalam nyaris 1,5 meter, tubuhnya terlihat lemas, dan sebatang besi cor bekas fondasi menembus betis kirinya.
Detik-detik Penemuan Korban
Menurut keterangan warga yang berada di lokasi, korban berinisial NH (42) adalah warga RT 03/RW 08 Kelurahan Cibadak. Sehari-hari ia bekerja sebagai pembantu rumah tangga di sebuah rumah tak jauh dari tempat kejadian. Peristiwa bermula sekitar pukul 16.30 WIB, saat NH berjalan di pinggir gang selebar kurang dari satu meter untuk pulang. “Saya mendengar suara keras seperti orang terpeleset, lalu suara seperti logam bergesekan dengan beton,” ujar Santi (45), tetangga korban yang pertama kali melongok dari jendela rumahnya.
“Saya langsung teriak minta tolong begitu lihat Bu NH sudah terguling di selokan. Ada besi mencuat dari betisnya, darahnya lumayan banyak,” kata Santi dengan suara bergetar.
Ternyata, selokan yang biasa tertutup cover beton itu dalam kondisi terbuka karena sedang diperbaiki warga. Korban yang tidak menyadari lubang menganga terperosok dan secara naas menimpa sisa besi cor berukuran panjang 30 sentimeter dan diameter 1 sentimeter yang masih menancap di dasar selokan.
Aksi Cepat Babinsa
Serma Aprias yang tiba di lokasi hanya berselang dua menit setelah kejadian langsung mengambil alih kendali. Ia meminta warga menghubungi nomor darurat 112 serta Puskesmas Cibadak. Tanpa menunggu lebih lama, Babinsa itu turun ke dalam selokan bersama dua warga laki-laki. Dengan sangat hati-hati, mereka menopang tubuh NH agar tidak memperparah luka tusukan. “Sulit rasanya melihat ibu itu menahan sakit, tapi kami harus tetap tenang,” ujar Serma Aprias saat ditemui usai evakuasi.
Karena besi tertanam di dasar selokan, evakuasi tidak bisa dilakukan dengan mencabut paksa. Tim memutuskan untuk memotong besi di pangkalnya menggunakan gergaji besi manual yang dipinjam dari bengkel terdekat. Selama proses pemotongan, Serma Aprias memegang erat betis korban agar stabil, sambil terus berbicara menenangkan. “Dia ingatkan saya untuk bernapas pelan-pelan, jangan lihat lukanya,” tutur NH dengan suara lirih dari atas tandu darurat.
“Setelah besi putus, kami angkat korban secara vertikal pelan-pelan. Saya dan dua warga menggotong ke atas, lalu korban langsung diletakkan di papan kayu dan dibawa ke pinggir jalan menunggu ambulans,” jelas Serma Aprias.
Penanganan Medis dan Kondisi Terkini
Sekitar 20 menit berselang, mobil ambulans Puskesmas Cibadak tiba. Tim medis segera memasang bidai darurat dan menghentikan perdarahan dengan teknik tourniquet di paha bawah korban sebelum dilarikan ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Bandung. “Luka tusuk cukup dalam, sekitar 8 sentimeter, tapi beruntung tidak mengenai pembuluh darah besar,” ujar dr. Farah, dokter jaga IGD RSUD Bandung, melalui pesan singkat.
NH saat ini masih menjalani observasi di ruang perawatan. Pihak keluarga mengapresiasi kesigapan Babinsa dan warga. “Kalau bukan karena Pak Babinsa, mungkin ibu saya bisa kehabisan darah,” kata Andi, putra sulung korban, di ruang tunggu IGD.
Kehati-hatian di Tengah Proyek Perbaikan Saluran
Kejadian ini menyisakan pelajaran penting. Kelurahan Cibadak tengah melakukan perbaikan beberapa titik saluran air, namun minimnya penerangan jalan dan rambu peringatan membuka celaka. Lurah Cibadak, Agus Hermawan, menyatakan akan segera memasang lampu peringatan dan pagar pengaman di lokasi-lokasi yang masih terbuka. “Kami evaluasi semua titik; keselamatan warga utama,” ucapnya singkat.
Peristiwa di Cibadak ini menjadi pengingat bahwa bahaya bisa hadir di lingkungan sehari-hari, dan kehadiran aparat kewilayahan seperti Babinsa yang responsif adalah jaring pengaman warga. Serma Aprias mungkin hanya menganggapnya bagian dari tugas, tetapi bagi NH dan keluarganya, sore itu ia adalah penolong yang datang tepat waktu.
Comments (0)