Pertamina Mulai Distribusikan B50 Sebanyak 37,92 Juta Liter
PT Pertamina Patra Niaga resmi memulai distribusi bahan bakar biodiesel B50 menyusul diberlakukannya mandatori B50 oleh pemerintah per 1 Juli 2026. Pada tahap awal, perusahaan pelat merah tersebut me
PT Pertamina Patra Niaga resmi memulai distribusi bahan bakar biodiesel B50 menyusul diberlakukannya mandatori B50 oleh pemerintah per 1 Juli 2026. Pada tahap awal, perusahaan pelat merah tersebut menyalurkan sebanyak 37,92 juta liter B50 ke berbagai wilayah di Indonesia. Langkah ini menjadi tonggak penting dalam transisi energi nasional menuju pemanfaatan bahan bakar nabati yang lebih tinggi.
Tahap Awal Distribusi B50
Vice President Corporate Communication Pertamina Patra Niaga, Kitty Andhora, mengonfirmasi bahwa distribusi perdana ini mencakup hampir sebagian besar wilayah di Indonesia. "Untuk di awal ini akan didistribusikan 37,92 juta liter hampir di sebagian besar wilayah di Indonesia," ujarnya saat dihubungi Apaberita.com, Kamis (2/7/2026).
"Untuk di awal ini akan didistribusikan 37,92 juta liter hampir di sebagian besar wilayah di Indonesia," ujar Kitty Andhora saat dihubungi Apaberita.com.
B50 merupakan campuran bahan bakar diesel dengan 50% biodiesel yang berasal dari minyak sawit. Penerapan mandatori ini merupakan peningkatan dari sebelumnya B35, sejalan dengan komitmen pemerintah untuk mengurangi ketergantungan pada impor solar serta mendorong penggunaan energi terbarukan. Dalam pelaksanaannya, Pertamina Patra Niaga berkoordinasi dengan berbagai pihak, termasuk Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) serta asosiasi produsen biodiesel, untuk memastikan ketersediaan pasokan dan kesiapan teknis.
Infrastruktur Penyaluran Disiapkan Matang
Guna menunjang distribusi B50, Pertamina Patra Niaga telah menyiapkan infrastruktur dari hulu ke hilir. Mulai dari Terminal Bahan Bakar Minyak (TBBM) yang dilengkapi fasilitas pencampuran dan penyimpanan biodiesel, hingga lembaga penyalur seperti Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) dan Agen Premium Minyak Solar (APMS). Langkah antisipatif ini diharapkan dapat meminimalkan kendala teknis di lapangan, mengingat karakteristik B50 yang sedikit berbeda dari B35, terutama dari segi stabilitas oksidasi dan potensi penyumbatan filter pada suhu rendah.
Kitty Andhora menambahkan bahwa perusahaan telah melakukan uji coba dan penyesuaian di berbagai TBBM sejak beberapa bulan sebelum implementasi. "Kami memastikan seluruh rantai distribusi siap, termasuk penyesuaian tangki timbun dan sistem perpipaan agar kompatibel dengan B50," jelasnya. Selain itu, seluruh lembaga penyalur diwajibkan mengikuti prosedur penanganan khusus untuk menjaga kualitas B50 hingga sampai ke konsumen.
Dampak Positif bagi Lingkungan dan Ekonomi
Penerapan B50 diharapkan memberikan dampak ganda, yaitu pengurangan emisi gas rumah kaca hingga 40-50% dibandingkan solar murni, serta mendorong pertumbuhan industri kelapa sawit domestik. Dengan volume distribusi awal mencapai 37,92 juta liter, pemerintah optimistis target bauran energi terbarukan dalam bauran energi nasional dapat tercapai lebih cepat. Konsumen pengguna kendaraan diesel, terutama sektor transportasi dan industri, diimbau untuk melakukan pengecekan berkala pada sistem bahan bakar guna menyesuaikan dengan spesifikasi B50.
Ke depan, Pertamina Patra Niaga akan terus memantau penyerapan B50 di masyarakat dan melakukan evaluasi berkala. Rencana penambahan volume distribusi akan disesuaikan dengan permintaan pasar serta kesiapan infrastruktur di daerah-daerah yang belum terjangkau pada tahap awal. Dengan langkah ini, Indonesia semakin memantapkan posisinya sebagai salah satu pelopor pemanfaatan biodiesel di dunia.
Comments (0)