Puluhan Perusahaan Jepang Bangkrut Imbas Yen Melemah
Apaberita.com, Jakarta – Gelombang kebangkrutan menerpa puluhan perusahaan di Jepang sepanjang 2026, dipicu oleh pelemahan nilai tukar yen yang tak kunjung reda serta meroketnya biaya ekonomi. Seba
Apaberita.com, Jakarta – Gelombang kebangkrutan menerpa puluhan perusahaan di Jepang sepanjang 2026, dipicu oleh pelemahan nilai tukar yen yang tak kunjung reda serta meroketnya biaya ekonomi. Sebanyak 45 perusahaan dilaporkan gulung tikar, angka tertinggi yang tercatat sejak 2022. Kondisi ini memperlihatkan betapa rapuhnya sektor usaha kecil di negeri itu saat nilai mata uang domestik terus tertekan.
Lonjakan Kebangkrutan 30 Persen dalam Setahun
Berdasarkan laporan Tokyo Shoko Research yang dihimpun Apaberita.com, jumlah perusahaan yang tumbang naik 30 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pelemahan yen telah memicu kenaikan tajam biaya impor—terutama bahan baku dan energi—yang langsung menghantam perusahaan-perusahaan kecil dengan margin tipis. Berbeda dengan korporasi besar, mereka kesulitan membebankan lonjakan biaya itu kepada konsumen.
“Perusahaan kecil ibarat perahu kecil di tengah badai fluktuasi kurs. Mereka nyaris tak punya daya tawar untuk menyesuaikan harga jual,” demikian kutipan dari laporan Tokyo Shoko Research.
Eksportir Besar Justru Meraup Untung
Di sisi lain, pelemahan yen membawa berkah tersendiri bagi perusahaan-perusahaan eksportir. Raksasa otomotif dan elektronik Jepang mencatat lonjakan laba karena produk mereka menjadi lebih murah dan kompetitif di pasar global. Pendapatan dalam mata uang dolar AS atau euro yang dikonversi ke yen menghasilkan keuntungan windfall yang signifikan.
Namun, keuntungan segelintir eksportir besar itu tidak cukup untuk menopang perekonomian Jepang secara keseluruhan. Daya beli masyarakat merosot akibat harga barang impor yang melambung. Data Apaberita.com menunjukkan konsumsi rumah tangga mengalami kontraksi pada kuartal pertama 2026, sementara inflasi inti tetap bertengger di atas target Bank of Japan (BoJ).
Prospek Ekonomi Jepang Makin Suram
Analis yang disurvei Apaberita.com mengingatkan, jika yen tidak segera menguat, gelombang kebangkrutan bisa meluas. Pemerintah Jepang telah mengisyaratkan kemungkinan intervensi moneter untuk menstabilkan nilai tukar, namun efektivitasnya diragukan lantaran jurang suku bunga yang lebar dengan bank sentral negara lain tetap menjadi pemberat utama.
Nilai tukar yen terhadap dolar AS bahkan sempat menyentuh level 160 pada paruh pertama 2026—level terendah dalam beberapa dekade. Kondisi ini kian memperparah beban bagi pelaku usaha kecil dan menengah yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi Jepang. Di tengah ketidakpastian global yang masih membayangi, harapan untuk pemulihan ekonomi tampak semakin menjauh.
Comments (0)