Kawasan Kuta, Kabupaten Badung, Bali, menjadi lokasi peringatan 24 tahun tragedi Bom Bali yang menimpa sejumlah titik di Pulau Dewata pada 12 Oktober 2002. Peringatan yang berlangsung Senin (12/10) tersebut dihadiri keluarga korban, kerabat, warga negara asing, serta sejumlah tokoh lintas agama yang menyatakan komitmen bersama untuk menjaga perdamaian.
Berdasarkan penelusuran di lapangan, kegiatan diawali dengan prosesi tabur bunga di Monumen Tragedi Kemanusiaan. Keluarga korban menaburkan kelopak bunga, meletakkan rangkaian bunga, dan menyalakan lilin sebagai simbol penghormatan kepada para korban yang kehilangan nyawa dalam peristiwa tersebut.
Peringatan tahun ini menegaskan kembali pesan rekonsiliasi dan penolakan terhadap segala bentuk kekerasan yang menyasar warga sipil. Pesan itu disampaikan baik melalui lisan maupun melalui rangkaian agenda yang disusun panitia, termasuk doa bersama lintas agama.
Prosesi Tabur Bunga dan Penyalaan Lilin
Sejak pagi, sejumlah keluarga korban berkumpul di area monumen. Mereka datang dari berbagai kota di Indonesia maupun dari luar negeri. Setiap keluarga membawa bunga dan lilin, lalu meletakkannya di dekat foto korban yang dipasang di lokasi acara.
Salah satu perwakilan keluarga korban menyatakan bahwa momen tersebut bukan sekadar seremonial tahunan. "Kami datang ke sini untuk memastikan para korban tidak dilupakan. Ini bukan soal angka, tetapi soal nama, wajah, dan kenangan yang kami bawa sampai sekarang," ujarnya dengan nada tertahan.
Prosesi tabur bunga berlangsung khidmat. Beberapa peserta tampak menundukkan kepala, sementara yang lain memilih berdiri diam di depan monumen sebelum menyalakan lilin. Suasana di sekitar lokasi berjalan tenang, tanpa orasi politik.
Kegiatan itu juga menjadi ruang silaturahmi bagi keluarga korban dari berbagai latar belakang. Mereka saling menyapa, bertukar cerita, dan menegaskan kembali dukungan satu sama lain setelah bertahun-tahun berjuang melewati masa duka.
Doa Bersama Lintas Agama sebagai Puncak Acara
Bagian penting lain dari peringatan tahun ke-24 adalah doa bersama lintas agama. Perwakilan dari sejumlah agama hadir secara bergantian untuk memimpin doa, mendoakan para korban, sekaligus memohon agar peristiwa serupa tidak terulang di masa depan.
"Kami hadir di sini sebagai bentuk kepedulian. Perbedaan keyakinan tidak menghalangi kami untuk mendoakan korban dan mendukung keluarga yang masih berduka," kata salah satu pemuka agama yang hadir.
Doa bersama itu menjadi penanda bahwa tragedi Bom Bali dipandang sebagai persoalan kemanusiaan, bukan sekadar persoalan keamanan. Pendekatan berbasis kemanusiaan ini dinilai lebih relevan untuk merawat ingatan kolektif bangsa, terutama bagi generasi muda yang belum mengalami peristiwa tersebut secara langsung.
Sejumlah peserta mengaku berharap peringatan seperti ini tetap berlanjut setiap tahun. Menurut mereka, konsistensi peringatan berfungsi sebagai pengingat sekaligus alarm bagi seluruh elemen masyarakat agar tidak lengah terhadap ancaman ekstremisme.
Pesan Perdamaian dan Pengingat bagi Generasi Muda
Peringatan 24 tahun ini juga menyoroti pentingnya pendidikan perdamaian di sekolah dan ruang publik. Berdasarkan data yang dihimpun, sejumlah komunitas di Bali telah menjalankan program edukasi sejarah lokal, termasuk membahas dampak sosial tragedi 12 Oktober 2002 terhadap kehidupan masyarakat.
Warga negara asing yang hadir menyatakan solidaritas kepada keluarga korban. Seorang pengunjung asing yang meletakkan bunga di dekat foto keluarganya mengaku datang khusus ke Bali untuk mengikuti peringatan tersebut.
"Saya kehilangan orang yang saya cintai di sini. Sampai kapan pun, tanggal ini akan selalu berarti bagi saya," ujarnya melalui penerjemah.
Hingga acara berakhir, tidak ada laporan gangguan keamanan. Aparat kepolisian hanya melakukan pengaturan lalu lintas dan pengamanan di sekitar monumen. Sejumlah ruas jalan menuju Kuta sempat dipadati kendaraan, tetapi situasi tetap terkendali.
Dengan terselenggaranya rangkaian peringatan ini, keluarga korban kembali menegaskan komitmennya untuk merawat ingatan dan menolak segala bentuk kekerasan. Doa bersama lintas agama menjadi penutup yang sarat makna, sekaligus menegaskan bahwa perdamaian adalah tanggung jawab bersama seluruh warga negara.
Comments (0)