Oct 13, 2026
Politik

Doa Lintas Agama Warnai 24 Tahun Tragedi Bom Bali di Kuta

Peringatan 24 tahun Tragedi Bom Bali 2002 digelar di kawasan Kuta, Kabupaten Badung, Provinsi Bali, pada Senin (12/10). Kegiatan tersebut dihadiri keluarga korban, kerabat, sejumlah warga negara asing...

Doa Lintas Agama Warnai 24 Tahun Tragedi Bom Bali di Kuta

Peringatan 24 tahun Tragedi Bom Bali 2002 digelar di kawasan Kuta, Kabupaten Badung, Provinsi Bali, pada Senin (12/10). Kegiatan tersebut dihadiri keluarga korban, kerabat, sejumlah warga negara asing, serta perwakilan instansi pemerintah daerah dan aparat keamanan. Rangkaian acara berlangsung khidmat dengan agenda utama doa bersama lintas agama, prosesi tabur bunga, peletakan rangkaian bunga, dan penyalaan lilin di Monumen Tragedi Kemanusiaan.

Berdasarkan penelusuran di lokasi, prosesi dimulai pada pagi hari dan berlanjut hingga menjelang petang. Para peserta hadir mengenakan pakaian bernuansa gelap dan putih, membawa bunga, serta foto anggota keluarga yang menjadi korban. Suasana di sekitar monumen terpantau hening ketika pembacaan doa dipimpin oleh pemuka agama dari sejumlah kepercayaan yang berbeda.

Doa Bersama Lintas Agama Menjadi Agenda Utama

Doa bersama lintas agama menempati posisi sentral dalam peringatan tahun ini. Pemuka agama dari berbagai keyakinan secara bergantian memimpin doa untuk para korban, sekaligus memanjatkan harapan agar peristiwa serupa tidak terulang di masa mendatang. Kegiatan tersebut menegaskan komitmen masyarakat Bali terhadap nilai toleransi dan kerukunan antarumat beragama.

Sejumlah peserta yang ditemui menyatakan bahwa doa lintas agama menjadi bentuk penghormatan sekaligus pengingat bahwa tragedi kemanusiaan tidak mengenal latar belakang suku, agama, maupun kewarganegaraan. "Kami datang untuk mendoakan mereka yang telah pergi dan untuk menegaskan bahwa kebencian tidak boleh menang," ujar salah seorang kerabat korban dalam acara tersebut.

Tabur Bunga dan Penyalaan Lilin di Monumen

Prosesi tabur bunga menjadi momen paling emosional dalam rangkaian peringatan. Keluarga korban satu per satu mendekati monumen, menaburkan bunga, kemudian meletakkan rangkaian bunga di sekitar area peringatan. Beberapa di antara mereka tampak menahan tangis ketika membaca nama-nama korban yang tertera pada dinding monumen.

Setelah prosesi tabur bunga, acara dilanjutkan dengan penyalaan lilin. Ratusan lilin dinyalakan secara serentak sebagai simbol duka dan harapan. Warga negara asing turut hadir dan meletakkan bunga di dekat foto keluarga mereka, menunjukkan bahwa peringatan ini bersifat lintas negara.

Berdasarkan catatan peristiwa, Tragedi Bom Bali terjadi pada 12 Oktober 2002 dan mengakibatkan 202 orang kehilangan nyawa, dengan ratusan lainnya mengalami luka-luka. Mayoritas korban merupakan wisatawan asing dari berbagai negara, termasuk Australia, Inggris, Jerman, dan sejumlah negara Eropa lainnya, serta warga negara Indonesia. Peristiwa itu ditetapkan sebagai salah satu aksi terorisme terbesar dalam sejarah Indonesia.

Refleksi dan Komitmen Penanggulangan Terorisme

Peringatan tahun ini juga menjadi momentum refleksi bagi pemerintah daerah dan aparat keamanan. Jajaran Kepolisian Negara Republik Indonesia menyatakan bahwa penanggulangan terorisme terus dilakukan melalui pendekatan preventif, termasuk pemetaan jaringan, deradikalisasi, dan penguatan kerja sama lintas lembaga. Menurut keterangan pihak berwenang, upaya tersebut menindaklanjuti amanat Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2018 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme.

Pemerintah Kabupaten Badung menyatakan bahwa kawasan Kuta tetap dikelola sebagai destinasi wisata yang aman dan ramah bagi wisatawan domestik maupun mancanegara. Kegiatan peringatan setiap tahun diharapkan tidak hanya menjadi ajang mengenang, tetapi juga sarana edukasi bagi generasi muda tentang bahaya radikalisme dan terorisme.

Dalam Rapat Koordinasi yang digelar sebelum peringatan, sejumlah pihak menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah, aparat keamanan, pelaku usaha pariwisata, dan masyarakat dalam menjaga stabilitas keamanan di Bali. Keputusan untuk tetap menyelenggarakan peringatan secara terbuka di ruang publik dinilai sebagai pesan bahwa masyarakat tidak akan tunduk pada ancaman teror.

Harapan Keluarga Korban

Keluarga korban menyampaikan harapan agar negara terus hadir dalam memberikan perhatian kepada penyintas dan ahli waris. Mereka juga meminta agar proses hukum terhadap pelaku yang masih berkaitan dengan jaringan terorisme terus dituntaskan. "Kami ingin keadilan tetap ditegakkan, bukan demi balas dendam, tetapi demi mencegah korban berikutnya," tutur seorang perwakilan keluarga korban.

Peringatan 24 tahun ini ditutup dengan doa penutup dan peletakan karangan bunga oleh perwakilan instansi. Kegiatan berlangsung tertib dan aman berkat pengamanan gabungan dari kepolisian, TNI, serta petugas keamanan setempat. Monumen Tragedi Kemanusiaan di Badung hingga kini menjadi lokasi utama masyarakat untuk mengenang peristiwa tersebut setiap tahun.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS rizky-amelia

Reporter Senior. Meliput dinamika politik nasional, kebijakan publik, dan isu parlemen selama 8 tahun. Alumni FISIP UI.

Comments (0)

User