Penurunan Ekstrem Waduk Karian Singkap Kampung yang Tenggelam 2023

Puing-puing bangunan serta fondasi rumah yang tenggelam bersama genangan Bendungan Karian di Kabupaten Lebak, Banten sejak 2023, untuk pertama kalinya kembali menampakkan diri. Penurunan drastis volum...

Penurunan Ekstrem Waduk Karian Singkap Kampung yang Tenggelam 2023

Puing-puing bangunan serta fondasi rumah yang tenggelam bersama genangan Bendungan Karian di Kabupaten Lebak, Banten sejak 2023, untuk pertama kalinya kembali menampakkan diri. Penurunan drastis volume tampungan waduk yang dipicu musim kemarau panjang pada Juli 2026 membuat sisa-sisa permukiman warga di dua desa yang terdampak proyek strategis nasional itu tersingkap dari dasar bendungan.

Volume Waduk Menyusut Drastis

Berdasarkan data pemantauan Balai Besar Wilayah Sungai Cidanau-Ciujung-Cidurian (BBWS C3) Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, elevasi muka air waduk per 24 Juli 2026 tercatat berada pada ketinggian 86,5 meter di atas permukaan laut (mdpl), merosot sekitar 28 meter dari elevasi normal 114,5 mdpl. Sebagai perbandingan, pada periode yang sama tahun 2025, elevasi masih bertahan di angka 108 mdpl dengan volume tampungan 82 persen. Kini volume tampungan efektif bendungan menyusut hingga hanya 38 persen dari kapasitas maksimal 314 juta meter kubik.

Kepala BBWS C3, Ir. H. Dedi Kusuma, M.Eng., menegaskan bahwa kondisi ini merupakan dampak langsung dari anomali kemarau yang dipengaruhi fenomena El Niño moderat. “Kami terus memonitor perkembangan secara ketat. Penurunan ini memang signifikan, namun fungsi utama bendungan untuk penyediaan air baku dan irigasi masih tetap terjaga sesuai prioritas operasional,” ujarnya dalam konferensi pers di Serang, Jumat (24/7).

Reruntuhan Dua Kampung Kembali Tampak

Penurunan muka air tersebut menguak kembali jejak dua kampung yang tenggelam pada akhir 2023, yakni Kampung Karian dan Kampung Cikareo di Kecamatan Cipanas. Area yang biasanya hanya berupa hamparan air kini memperlihatkan struktur beton fondasi rumah, puing-puing tembok, sisa tiang listrik, hingga jalan desa yang retak. Beberapa pohon besar yang dahulu menjadi penanda permukiman juga masih berdiri kering di antara lumpur.

Camat Cipanas, Ade Sunarya, menyatakan bahwa kemunculan kembali situs ini menjadi perhatian publik. “Kami telah berkoordinasi dengan pihak BBWS dan kepolisian setempat untuk mengamankan lokasi. Warga diimbau tidak menyeberang atau memasuki area genangan karena kondisi tanah yang labil dan berbahaya,” ucapnya saat meninjau lokasi. Sejumlah personel Kepolisian Sektor Cipanas dikerahkan untuk berjaga di sekitar area yang kini menjadi tontonan warga, dan papan peringatan bertuliskan ‘Area Berbahaya, Jangan Mendekat’ telah dipasang di batas genangan.

Nostalgia Warga yang Direlokasi

Fenomena ini turut mengundang puluhan warga yang direlokasi ke Desa Cikadueun pada 2022 untuk kembali melihat kampung halaman mereka. Juhana (64), salah seorang mantan penduduk Kampung Karian, tak kuasa menahan haru saat melihat bekas rumahnya. “Saya pikir tidak akan pernah lagi melihat tempat ini. Rasanya seperti mimpi, bisa berdiri di atas tanah yang dulu kami tinggali,” katanya dengan suara bergetar.

Senada, Rohmat (52) mengaku penasaran dengan kondisi makam leluhur yang juga ikut tergenang. “Alhamdulillah, tadi saya lihat nisannya masih utuh. Ini menjadi kesempatan untuk mendoakan meski hanya dari kejauhan,” ujarnya. Sementara itu, Satini (45) yang kini berjualan di Pasar Cipanas mengaku membawa anak-anaknya untuk melihat langsung sejarah keluarga. “Mereka tidak pernah tahu kampung kami, jadi ini momen penting untuk bercerita,” tuturnya.

Mitigasi dan Langkah Lanjutan

BBWS C3 bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terus memantau prakiraan musim. Dedi Kusuma menyebut, “Kami telah menyiapkan skenario operasi modifikasi cuaca jika hingga Agustus tidak ada hujan signifikan, untuk menjaga pasokan air baku bagi warga Lebak dan sekitarnya.” Sementara itu, Pemkab Lebak melalui Dinas Sosial telah menyiagakan bantuan air bersih bagi masyarakat yang terdampak kekeringan.

Gubernur Banten, Andra Soni, melalui keterangan resminya menambahkan bahwa pemerintah provinsi akan berkoordinasi dengan pusat untuk memastikan tidak ada dampak negatif pada ketahanan pangan. “Kami akan mengawal distribusi air irigasi agar lahan pertanian di hilir tetap terairi,” katanya.

Bendungan Karian dibangun dengan nilai investasi sebesar Rp2,3 triliun dan mulai beroperasi penuh pada awal 2023. Sebelum penggenangan, pemerintah telah merelokasi 1.237 keluarga dari lima titik permukiman ke hunian tetap yang disediakan di Desa Cikadueun dan sekitarnya. Bendungan yang membendung aliran Sungai Ciujung ini memiliki luas genangan normal 1.740 hektare dan menjadi waduk terbesar di Banten yang diresmikan Presiden Joko Widodo pada 17 Januari 2023.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User