Orang Tua Akui Kurang Awasi Putri yang Bugil Terima Ojol

SIDOARJO — Pasangan suami istri di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, akhirnya angkat suara setelah putri remaja mereka menjadi perbincangan luas akibat menerima pesanan pengemudi ojek online dalam kon...

Jul 19, 2026 - 12:01
0 0
Orang Tua Akui Kurang Awasi Putri yang Bugil Terima Ojol

SIDOARJO — Pasangan suami istri di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, akhirnya angkat suara setelah putri remaja mereka menjadi perbincangan luas akibat menerima pesanan pengemudi ojek online dalam kondisi tanpa busana. Insiden yang terekam dan tersebar melalui sejumlah platform media sosial itu terjadi di kediaman keluarga di salah satu desa di Kecamatan Waru pada Selasa sore, 14 Juli 2026, sekitar pukul 14.30 WIB.

Sang ayah—yang meminta identitas sang anak disamarkan dan hanya menyebutnya dengan inisial F—mengakui kelalaian orang tua sebagai pemicu utama peristiwa memalukan ini. Dalam keterangan resmi yang disampaikan di kediamannya, Kamis (16/7/2026), ia menyatakan bahwa baik dirinya maupun sang istri sedang menjalani jam kerja di luar rumah saat kejadian berlangsung. "Kami berdua bekerja dari pagi hingga petang. Saya bekerja sebagai buruh pabrik, sementara istri saya berjualan di pasar. Tidak ada pengawasan yang memadai di rumah, sehingga putri kami bebas melakukan hal-hal yang tidak semestinya," ucap pria berusia 47 tahun tersebut dengan nada menyesal.

Orang Tua Akui Kelalaian

Pasangan ini mengaku tidak menyangka bahwa kelengahan mereka akan berujung pada rekaman video yang mengguncang warga sekitar. Sang ibu, yang hadir dengan mata sembab, menambahkan bahwa selama ini putri semata wayang mereka dikenal sebagai anak yang pendiam dan hanya berdiam di dalam kamar. "Sejak pandemi, kebiasaan berselancar di internetnya meningkat. Kami hanya mengira ia sekadar belajar atau bermain gim. Sebagai orang tua, kami gagal memahami pergaulan digital anak kami sendiri," katanya lirih.

Orang tua F juga mengungkapkan, sejak video viral berdurasi 47 detik itu beredar, keluarga mereka diterpa tekanan psikologis berat. Berbagai komentar pedas di media sosial membuat mereka memutuskan untuk sementara mengungsikan sang anak ke rumah kerabat di luar kota. "Kami sudah meminta maaf kepada pengemudi ojek yang bersangkutan. Kami juga sedang menjalani pendampingan dari tokoh agama setempat untuk memperbaiki pola asuh dan pengawasan," ucap sang ayah.

Polisi Selidiki Unsur Pidana

Kepolisian Resor Kota Sidoarjo telah turun tangan menyelidiki peristiwa yang dinilai melanggar norma kesusilaan dan berpotensi melibatkan unsur eksploitasi anak. Kepala Satuan Reserse Kriminal Polresta Sidoarjo, Kompol Rudi Hartono, dalam jumpa pers di Mapolresta Sidoarjo, Kamis (16/7), menegaskan bahwa pihaknya telah memanggil saksi-saksi, termasuk pengemudi ojek yang menerima pesanan dari rumah tersebut serta kedua orang tua remaja itu.

"Kami sedang mendalami apakah ada unsur membuka akses pornografi di bawah umur, atau bahkan kemungkinan adanya faktor pihak ketiga yang memanfaatkan situasi ini. Rekaman video tersebut kini menjadi barang bukti utama," ujar Kompol Rudi. Ia menambahkan, pemeriksaan menggunakan Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak dan Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) sedang dijalankan. Pengemudi ojek, yang diketahui bernama Budi Santoso (28), dalam keterangannya mengaku terkejut saat penjemputan pesanan dilakukan oleh seseorang yang tidak berpakaian, dan ia mengklaim tidak merekam insiden tersebut.

Pakar: Dampak Buruk Minimnya Komunikasi Keluarga

Dosen Psikologi Universitas Airlangga, Dr. Dewi Retno Suminar, M.Si., yang dihubungi terpisah, menyebut bahwa kasus semacam ini merupakan puncak gunung es dari krisis pengawasan orang tua di era digital. "Remaja yang sendirian di rumah dalam waktu panjang sangat rentan terhadap perilaku impulsif. Rasa ingin tahu, pengaruh media sosial, dan ketiadaan komunikasi yang sehat dengan orang tua bisa mendorong perilaku eksibisionisme yang tidak disadari risikonya," paparnya.

Dr. Dewi menekankan, pemulihan psikologis remaja dan seluruh anggota keluarga harus menjadi prioritas, bukan penghakiman publik. Menurutnya, solusi jangka panjang tidak cukup hanya dengan menambah waktu bersama, melainkan juga membangun dialog terbuka tentang batasan, nilai-nilai norma, dan literasi digital di dalam lingkungan rumah tangga.

Ketua RT setempat, Moch. Arifin, turut menyayangkan insiden yang menimpa keluarga tersebut. "Mereka sebenarnya tetangga yang baik, hanya saja memang kedua orang tuanya jarang terlihat di rumah. Semoga ini menjadi peringatan bagi kita semua untuk lebih peduli terhadap aktivitas anak-anak selepas jam sekolah," katanya. Pihak pemerintah desa berencana menggelar penyuluhan penggunaan internet aman bagi para orang tua dan remaja di wilayah tersebut sebagai langkah pencegahan.

Hingga berita ini diturunkan, pihak keluarga masih menolak permintaan wawancara langsung dengan media sembari berharap agar publik dapat menghormati privasi mereka dan memberikan kesempatan untuk memperbaiki keadaan. Kejadian ini kembali menyoroti pentingnya sinergi antara kesibukan kerja orang tua dan tanggung jawab pengawasan untuk melindungi anak dari jerat eksploitasi dan penyalahgunaan teknologi.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User