Operasi SAR Intensif Cari Remaja Hilang di Pantai Pererenan
Tim pencarian dan pertolongan gabungan mengerahkan seluruh kekuatan untuk menemukan seorang remaja yang dinyatakan hilang setelah terseret arus kuat di kawasan Pantai Pererenan, Kabupaten Badung, Bali...
Tim pencarian dan pertolongan gabungan mengerahkan seluruh kekuatan untuk menemukan seorang remaja yang dinyatakan hilang setelah terseret arus kuat di kawasan Pantai Pererenan, Kabupaten Badung, Bali. Insiden yang terjadi pada Minggu sore, 11 Mei 2025, pukul 16.30 WITA ini bermula ketika dua remaja yang sedang berenang tiba-tiba dihantam gelombang besar sehingga terseret ke tengah laut. Satu korban berhasil menyelamatkan diri dengan berenang ke tepi pantai, sementara satu lainnya hingga kini belum ditemukan.
Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Bali, I Nyoman Sidakarya, menyatakan bahwa pihaknya menerima laporan darurat pada pukul 17.00 WITA dan langsung memberangkatkan tim rescue menuju lokasi. “Kami kerahkan 30 personel gabungan dari Basarnas, TNI AL, Polairud, serta unsur potensi SAR lainnya,” ujarnya saat memberikan keterangan pers di Posko SAR Badung, Senin (12/5/2025). Operasi ini juga didukung satu unit rigid inflatable boat (RIB), perahu karet, drone termal, serta peralatan selam.
Kronologi Kejadian dan Identitas Korban
Berdasarkan keterangan saksi di lokasi, kedua remaja yang merupakan warga Denpasar tersebut awalnya bermain di zona selancar yang dikenal memiliki ombak menantang. Rekan korban yang selamat, berinisial KAS (17), mengatakan bahwa mereka tidak menyadari perubahan ketinggian air yang tiba-tiba. “Tiba-tiba datang gelombang besar, saya berusaha berenang ke pinggir, tapi teman saya langsung hilang terseret arus balik,” tuturnya saat dimintai keterangan oleh petugas. Korban hilang diketahui bernama I Gede Arya Darma, 16 tahun, siswa kelas XI SMAN 3 Denpasar.
Kepala Desa Pererenan, I Wayan Sudarsana, membenarkan bahwa lokasi kejadian memang sering menjadi titik rawan kecelakaan laut akibat keberadaan arus pecah (rip current) yang sulit diprediksi. “Kami telah memasang papan peringatan, namun tetap saja wisatawan dan warga lokal kerap mengabaikannya. Hari ini kami berkoordinasi penuh dengan tim SAR untuk memaksimalkan pencarian,” ungkapnya.
Strategi Pencarian dan Area Operasi
Komandan Operasi SAR, Mayor Laut (P) Agus Wijaya, menjelaskan bahwa area pencarian dibagi menjadi tiga sektor dengan total luas mencapai 15 mil laut persegi. Sektor A meliputi bibir pantai hingga radius 0,5 mil yang disisir menggunakan drone dan tim jalan kaki. Sektor B mencakup perairan hingga 2 mil dengan perahu karet. Sementara Sektor C menjangkau hingga 5 mil menggunakan RIB dan armada TNI AL. “Kami optimalkan teknik parallel search dengan pola creeping line, dengan mempertimbangkan arah arus dominan ke barat daya,” tegasnya.
Hingga pukul 12.00 WITA, tim SAR telah melakukan tiga sorti pencarian tanpa hasil signifikan. Kondisi cuaca dilaporkan cerah berawan dengan kecepatan angin 5-10 knot, namun tinggi gelombang masih berkisar 1,5 hingga 2 meter di perairan lepas. Kepala Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Wilayah III Denpasar, Cahyo Nugroho, mengimbau agar masyarakat mewaspadai potensi gelombang tinggi yang diprediksi bertahan hingga tiga hari ke depan. “Kami telah mengeluarkan peringatan dini gelombang tinggi untuk perairan selatan Bali. Masyarakat diimbau tidak beraktivitas di zona berbahaya,” katanya dalam siaran resmi.
Faktor Risiko Geografis Pantai Pererenan
Pantai Pererenan, yang terletak di pesisir barat daya Bali, dikenal memiliki karakteristik pantai berpasir hitam dengan kemiringan dasar yang curam, sehingga memicu terbentuknya arus pecah yang kuat. Peneliti dari Pusat Studi Kelautan Universitas Udayana, Dr. I Made Suardana, menjelaskan bahwa insiden serupa telah terjadi setidaknya empat kali dalam kurun dua tahun terakhir di lokasi yang sama. “Arus balik di Pantai Pererenan bisa mencapai kecepatan 2 meter per detik, sangat berbahaya bagi perenang yang tidak terlatih. Selain itu, kontur bawah air yang tidak rata menciptakan pusaran yang sulit diprediksi,” paparnya.
Data Posko SAR Badung mencatat, sepanjang tahun 2024 telah terjadi 12 kecelakaan laut di wilayah Kabupaten Badung dengan korban meninggal sebanyak 5 orang. Kepala Basarnas Bali menegaskan bahwa pihaknya terus meningkatkan sosialisasi keselamatan pantai, termasuk pelatihan pengenalan arus pecah bagi pemandu wisata dan pemilik usaha di sepanjang pesisir. “Kami tidak akan berhenti mencari. Standar operasi pencarian berlangsung maksimal tujuh hari, dengan evaluasi harian yang melibatkan seluruh unsur,” tambah Sidakarya.
Dukungan Keluarga dan Masyarakat
Pihak keluarga korban yang datang ke lokasi pada Senin pagi berharap pencarian segera membuahkan hasil. Ayah korban, I Ketut Suardika, yang tidak kuasa menahan tangis, menyampaikan permohonan agar seluruh pihak terus berupaya maksimal. Pemerintah Desa Pererenan bersama warga sekitar juga bergotong royong menyediakan logistik dan tempat istirahat bagi para petugas. “Kami percayakan sepenuhnya kepada tim SAR. Kami hanya bisa berdoa agar anak saya segera ditemukan,” ucapnya lirih.
Hingga berita ini ditulis, operasi SAR masih terus berlangsung. Kepala Posko SAR Badung, Ni Luh Putu Sari, membenarkan bahwa koordinasi lintas instansi berjalan intensif. Ia meminta masyarakat yang memiliki informasi atau menemukan tanda-tanda keberadaan korban di sepanjang pesisir untuk segera melapor ke nomor darurat 115. “Setiap laporan akan kami tindaklanjuti, sekecil apa pun petunjuk yang ada,” tutupnya. Pencarian dijadwalkan akan dilanjutkan pada Selasa pagi dengan penambahan personel dari Unit Siaga SAR Tabanan dan beberapa pos SAR terdekat.
Baca juga:
Comments (0)