Operasi Heli Water Bombing TPA Jatiwaringin Resmi Disetop BNPB
JAKARTA – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) secara resmi menghentikan operasi pemadaman udara menggunakan empat unit helikopter water bombing di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Jatiwaringin...
JAKARTA – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) secara resmi menghentikan operasi pemadaman udara menggunakan empat unit helikopter water bombing di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Jatiwaringin, Kabupaten Tangerang, Banten. Keputusan ini diambil setelah api yang melalap area tumpukan sampah seluas 6 hektare dinyatakan padam total pada Sabtu (15/3) pukul 14.30 WIB.
"Berdasarkan hasil pemantauan udara dan laporan tim darat, titik api di seluruh zona TPA Jatiwaringin sudah nihil. Empat helikopter yang dikerahkan sejak Rabu (12/3) kami tarik kembali ke Posko Utama Halim Perdanakusuma," ujar Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, dalam keterangan tertulis yang diterima Apaberita.
Operasi Pemadaman dari Udara Dihentikan
Empat helikopter water bombing yang dimaksud terdiri dari dua unit Sikorsky S-64 Skycrane kapasitas 9.500 liter air, satu unit Mil Mi-8 MTV-1 kapasitas 4.000 liter, serta satu unit Bell 412 EP yang difungsikan sebagai pemantau. Selama empat hari beroperasi, armada udara tersebut mencatatkan 156 kali siklus pengambilan dan pengeboman air dengan total volume air yang dijatuhkan mencapai 1.482.000 liter.
Sumber air diambil dari Waduk Cikokol dan Danau Buatan Cisauk yang berjarak 2–3 kilometer dari lokasi kebakaran. Setiap sorti penerbangan memakan waktu rata-rata 7 menit, sudah termasuk pengisian air dan drop. Kecepatan respons ini dianggap krusial mengingat karakter api di tumpukan sampah yang sulit dijangkau regu darat karena gas metana dan material organik yang terbakar di kedalaman.
Kronologi dan Skala Kebakaran
Kebakaran TPA Jatiwaringin pertama kali terdeteksi pada Selasa (11/3) pukul 22.10 WIB oleh petugas jaga di pos pemantauan. Api diduga berasal dari akumulasi gas metana yang tersulut suhu tinggi dan angin kencang. Dalam waktu kurang dari tiga jam, kobaran api meluas ke blok B dan C yang berisi sampah residu berusia lebih dari empat tahun.
Data Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Kabupaten Tangerang mencatat volume sampah harian yang masuk ke TPA Jatiwaringin mencapai 1.400 ton per hari dari seluruh wilayah Tangerang Raya. TPA ini telah beroperasi sejak 1995 dengan luas total 48 hektare dan tinggi tumpukan di beberapa titik mencapai 25 meter. Kebakaran kali ini merupakan yang terbesar ketiga sepanjang sejarah operasional TPA tersebut, setelah peristiwa serupa pada 2017 (8 hektare) dan 2021 (5 hektare).
"Kami langsung mengaktivasi status darurat senilai Rp 4,2 miliar dari Dana Siap Pakai BNPB begitu laporan diterima. Penanganan melibatkan 210 personel gabungan dari BNPB, BPBD Banten, BPBD Kabupaten Tangerang, TNI AU, serta relawan pemadam kebakaran setempat," kata Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Tangerang, Ujat Sudrajat.
Pernyataan Resmi BNPB
Dalam Rapat Koordinasi Penanganan Bencana TPA Jatiwaringin yang digelar secara hibrida pada Jumat (14/3), Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto menegaskan bahwa prioritas utama adalah keselamatan warga di tiga desa sekitar lokasi: Desa Jatiwaringin, Desa Curug Wetan, dan Desa Sukabakti. Sebanyak 427 jiwa dari 118 kepala keluarga sempat mengungsi ke Balai Desa Jatiwaringin dan Masjid Al-Huda.
"Alhamdulillah, pagi ini seluruh warga sudah kembali ke rumah masing-masing. Kualitas udara di permukiman sekitar sudah kembali ke level aman dengan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) di angka 72 yang masuk kategori sedang," ujar Suharyanto.
Ia juga memastikan bahwa meskipun operasi helikopter dihentikan, BNPB tetap menyiagakan dua unit helikopter cadangan di Halim serta tiga unit water canon berkapasitas 10.000 liter di darat untuk antisipasi apabila muncul nyala api susulan. Tim Monitoring dan Evaluasi akan berjaga selama tujuh hari ke depan untuk melakukan penyemprotan rutin pada titik-titik yang dinilai rawan.
Penanganan Pasca-Pemadaman dan Tindak Lanjut
Pascapemadaman, Kementerian Lingkungan Hidup bersama Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Tangerang akan melakukan analisis dampak lingkungan, termasuk kontaminasi air tanah dan udara ambien. Sampel tanah dan air sumur warga di radius 1 kilometer sudah diambil pada Jumat (14/3) dan hasilnya diperkirakan keluar dalam dua pekan.
"Kita sudah tetapkan langkah penanganan jangka pendek, yaitu pemadatan sampah dengan tanah urug untuk meminimalkan rongga udara, serta pengeboran 20 titik sumur pematang untuk membuang gas metana yang masih terperangkap. Ini anggarannya sudah disahkan sebesar Rp 1,8 miliar," jelas Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Tangerang, Fahrudin.
Sementara itu, Kementerian PUPR melalui Balai Prasarana Permukiman Wilayah Banten tengah menyiapkan desain ulang sistem penanganan sampah TPA Jatiwaringin yang lebih modern, termasuk pemasangan gas capture system dan pengalokasian anggaran untuk perluasan teknologi sanitary landfill pada tahun anggaran 2026.
Pemerintah Kabupaten Tangerang juga menetapkan target untuk segera mengoperasikan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) RDF di Kecamatan Rajeg yang dapat mengolah 2.000 ton sampah per hari menjadi bahan bakar daur ulang, guna mengurangi beban TPA Jatiwaringin yang telah melampaui kapasitas.
Dengan dihentikannya operasi water bombing ini, status darurat bencana kebakaran TPA Jatiwaringin secara resmi ditetapkan turun dari level A ke level C, namun pengawasan dan penanganan pasca-insiden tetap berjalan sesuai rencana kontinjensi yang telah ditetapkan dalam rapat koordinasi lintas sektor BNPB.
Baca juga:
Comments (0)