OJK Akui Pasar Saham RI Tertekan, Duit Asing Kabur Rp 71,7 T
Jakarta – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) akhirnya angkat bicara mengenai kondisi pasar saham Indonesia yang tengah dirundung tekanan berat. Lembaga pengawas itu mengonfirmasi bahwa Indeks Harga Saham
Jakarta – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) akhirnya angkat bicara mengenai kondisi pasar saham Indonesia yang tengah dirundung tekanan berat. Lembaga pengawas itu mengonfirmasi bahwa Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami pelemahan signifikan seiring derasnya aksi jual yang dilakukan investor asing. Berdasarkan data yang dihimpun Apaberita.com, total dana asing yang kabur dari pasar modal Tanah Air telah menembus angka Rp 71,7 triliun. Arus keluar modal ini menjadi indikator kuat bahwa sentimen negatif masih membayangi bursa saham Garuda, baik yang dipicu oleh faktor eksternal seperti ketidakpastian suku bunga global, maupun dinamika domestik yang turut mempengaruhi kepercayaan investor.
Pertumbuhan Emiten Melonjak, Tapi Belum Cukup
Di tengah badai tekanan tersebut, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi, justru menyoroti capaian positif dari sisi jumlah perusahaan tercatat. Dalam keterangan resmi yang diterima Apaberita.com, Hasan mengungkapkan bahwa per 26 Juni 2026, sudah ada 957 emiten yang melantai di Bursa Efek Indonesia. Angka itu dinilai luar biasa karena meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan posisi pada tahun 2011 yang hanya sekitar 440 emiten. “Ini menunjukkan bahwa minat perusahaan untuk memanfaatkan pendanaan di pasar modal tetap tinggi, meskipun di saat bersamaan terjadi gejolak,” ujarnya.
Menurut Hasan, lonjakan jumlah emiten dalam satu setengah dekade terakhir menjadi bukti bahwa pasar modal Indonesia memiliki potensi pertumbuhan jangka panjang yang menjanjikan. Fundamental yang dibangun lewat reformasi regulasi dan pendalaman pasar diharapkan dapat menjadi tameng ketika tekanan eksternal menerpa. Kendati demikian, ia tak menampik bahwa efek capital outflow sebesar Rp 71,7 triliun itu tetap harus diwaspadai karena bisa memicu volatilitas lanjutan. OJK bersama Bank Indonesia dan otoritas terkait disebut tengah memperkuat bauran kebijakan guna menjaga stabilitas dan likuiditas pasar.
“Jumlah perusahaan yang sudah melantai di bursa saham Indonesia per 26 Juni 2026 mencapai 957 emiten, meningkat lebih dari dua kali lipat dibanding 2011 yang sekitar 440 emiten,” tegas Hasan Fawzi.
Lebih jauh, Hasan Fawzi menekankan bahwa tren peningkatan jumlah emiten itu tidak bisa dipandang sebelah mata. Transformasi digital, diversifikasi sektor industri, serta semakin terbukanya akses bagi perusahaan kecil dan menengah ke lantai bursa menjadi motor penggerak pertumbuhan. Namun, untuk meredam dampak tekanan yang ada, OJK mengimbau pelaku pasar agar tetap rasional dan tidak panik menghadapi gejolak jangka pendek. Apaberita.com mencatat, rapat koordinasi lintas regulator akan diperkuat guna memastikan bahwa kepercayaan investor dapat segera pulih meski era suku bunga tinggi global masih membayangi pergerakan IHSG.
Comments (0)