NasDem Perjuangkan Friedrich Silaban Menjadi Pahlawan Nasional

Jakarta — Fraksi Partai NasDem Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia memulai langkah strategis untuk mengusulkan arsitek legendaris penggagas Masjid Istiqlal, Friedrich Silaban, dianugerahi gel...

Jul 13, 2026 - 22:07
0 0

Jakarta — Fraksi Partai NasDem Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia memulai langkah strategis untuk mengusulkan arsitek legendaris penggagas Masjid Istiqlal, Friedrich Silaban, dianugerahi gelar Pahlawan Nasional. Inisiatif ini mencuat dalam Rapat Koordinasi Internal Fraksi yang digelar di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, pada Kamis (15/6/2026) malam.

Rapat yang dipimpin langsung oleh Ketua Fraksi NasDem, Viktor Laiskodat, menghasilkan keputusan bulat untuk segera membentuk tim khusus yang akan menyusun naskah akademik dan dokumen pendukung pengusulan. Sejumlah anggota dewan dari Fraksi NasDem yang hadir menyatakan bahwa pengusulan ini merupakan wujud penghargaan terhadap jasa Silaban yang lintas agama, lintas etnis, dan lintas zaman.

“Friedrich Silaban bukan sekadar arsitek handal, melainkan juga simbol toleransi dan persatuan bangsa. Di tengah Indonesia yang baru merdeka, seorang putra Batak beragama Kristen justru dipercaya merancang masjid terbesar di Asia Tenggara. Nilai-nilai itulah yang ingin kami perjuangkan untuk diabadikan dalam gelar pahlawan nasional,”

tegas Viktor di hadapan awak media usai rapat.

Rapat Koordinasi Fraksi NasDem

Dalam rapat yang berlangsung selama lebih dari tiga jam itu, seluruh anggota fraksi yang hadir menyepakati bahwa pengusulan ini harus berpijak pada Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2009 tentang Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan. Dalam Pasal 25 UU tersebut dinyatakan bahwa calon Pahlawan Nasional harus memenuhi kriteria antara lain berjasa luar biasa bagi bangsa dan negara, memiliki integritas moral dan keteladanan tinggi, dan telah meninggal dunia serta diusulkan oleh pihak-pihak yang sah. Fraksi NasDem menilai Silaban memenuhi seluruh kriteria tersebut.

Sekretaris Fraksi NasDem, Roberth Rouw, yang turut hadir dalam rapat, mengungkapkan bahwa pihaknya akan segera berkoordinasi dengan pemerintah, dalam hal ini Kementerian Sosial dan Dewan Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan. Rouw juga menekankan pentingnya dukungan lintas fraksi agar usulan ini memiliki kekuatan politik yang kokoh.

“Kami akan mengundang seluruh elemen bangsa, mulai dari organisasi keagamaan, sejarawan, hingga masyarakat sipil untuk memberikan masukan. Ini bukan sekadar agenda politik, melainkan misi kebangsaan,”

ujar Rouw.

Sosok Friedrich Silaban dan Karya Monumentalnya

Friedrich Silaban lahir di Bonandolok, Tapanuli Utara, Sumatera Utara, pada 16 Desember 1912. Putra seorang pendeta Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) ini dikenal sebagai arsitek otodidak yang brilian. Meski tidak menamatkan pendidikan formal arsitektur, karya-karyanya disejajarkan dengan arsitek dunia. Puncak kariernya datang pada 1955, ketika Presiden Soekarno menunjuk Silaban sebagai arsitek Masjid Istiqlal—masjid negara yang hingga kini menjadi ikon toleransi dan kebanggaan nasional.

Masjid Istiqlal dirancang Silaban dengan filosofi mendalam: angka 12 yang melambangkan hari kelahiran Nabi Muhammad, 17 Agustus 1945 yang tercermin dalam kubah dan menara, serta prinsip keseimbangan dan kesederhanaan yang mencerminkan nilai-nilai Islam Indonesia. Menara setinggi 66,66 meter dan kubah berdiameter 45 meter menjadi bukti kejeniusan pria yang wafat pada 16 Mei 1984 itu.

Tak hanya Masjid Istiqlal, Silaban juga merancang puluhan bangunan penting lainnya seperti Gedung Bank Indonesia di Medan, Stadion Gelora Bung Karno (bagian awal), dan Monumen Nasional (Monas) yang ia kerjakan dalam tim. Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) menyebut Silaban sebagai “bapak arsitektur modern Indonesia”.

Proses dan Syarat Pengusulan Pahlawan Nasional

Berdasarkan UUD 1945 dan Peraturan Pemerintah Nomor 35 Tahun 2010, pengusulan gelar pahlawan nasional diajukan secara berjenjang melalui pemerintah kabupaten/kota, gubernur, lalu ke Kementerian Sosial. Selanjutnya Dewan Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan melakukan verifikasi dan penelitian mendalam terhadap jejak hidup calon. Fraksi NasDem berencana mengajukan langsung melalui rekomendasi DPR RI sebagai lembaga tinggi negara, sejalan dengan ketentuan yang membolehkan pengusulan oleh dewan perwakilan.

Tim kecil yang dibentuk Fraksi NasDem akan bertugas mengumpulkan dokumen autentik seperti buku karya Silaban, foto-foto proses pembangunan Istiqlal, manuskrip pidato-pidato Silaban, serta kesaksian dari para tokoh yang pernah bekerja bersamanya. Semua bahan akan dihimpun menjadi sebuah naskah akademik yang memuat latar belakang, riwayat hidup, kontribusi, serta nilai-nilai keteladanan yang ditinggalkan.

Dukungan Awal dan Harapan Lintas Agama

Pengusulan ini mendapatkan sambutan positif dari sejumlah organisasi keagamaan. Sekretaris Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), Amirsyah Tambunan, menyatakan penghormatan MUI terhadap sosok non-Muslim yang berjasa besar bagi Islam Indonesia. Dalam keterangan tertulisnya, MUI menegaskan bahwa pemberian gelar pahlawan nasional kepada Silaban akan memperkuat pesan moderasi beragama.

Dari kalangan Kristen, Ketua Umum Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI), Jacky Manuputty, juga menyambut hangat inisiatif tersebut.

“Pak Silaban merepresentasikan bagaimana iman Kristen bisa mewujud nyata dalam cinta tanah air yang tulus. Karyanya untuk Masjid Istiqlal membuktikan bahwa identitas agama tidak menghalangi seseorang untuk mengabdi kepada seluruh bangsa. Kami akan mendukung penuh usulan ini,”

kata Jacky.

Ahli sejarah dari Universitas Indonesia, Prof. Dr. Agus Mulyana, menilai bahwa selama ini jasa Silaban cenderung hanya dikenal di kalangan arsitek, padahal dampak nasionalnya sangat besar. “Beliau meletakkan dasar peradaban modern Indonesia melalui karya arsitektur yang memadukan teknologi, seni, dan spiritualitas. Sangat layak jika negara memberikan apresiasi tertinggi,” ungkapnya dalam diskusi virtual yang digelar Fraksi NasDem pada Jumat (16/6/2026) pagi.

Langkah Selanjutnya dan Target Waktu

Fraksi NasDem menargetkan dokumen usulan rampung pada akhir Agustus 2026, sehingga bisa diserahkan secara resmi kepada Pemerintah melalui Kementerian Sosial pada awal September 2026—bertepatan dengan peringatan Hari Arsitektur Nasional. Viktor Laiskodat mengungkapkan bahwa pihaknya akan menjalin komunikasi intensif dengan seluruh pimpinan fraksi di DPR untuk memperoleh dukungan politik.

Apabila seluruh tahapan berjalan lancar, diharapkan pada peringatan Hari Pahlawan 10 November 2026, Friedrich Silaban sudah dapat dianugerahi gelar sebagai Pahlawan Nasional. Penganugerahan tersebut akan menjadi momen bersejarah sekaligus penegasan kembali bahwa Indonesia adalah rumah besar bagi semua suku, agama, dan golongan.

“Kami berharap, dengan gelar ini generasi muda Indonesia semakin meyakini bahwa pengabdian terbaik untuk negeri tidak pernah dibatasi oleh sekat-sekat primordial. Itulah pesan sejati dari seorang Friedrich Silaban,” tutup Viktor dengan penuh keyakinan.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
hendra-wijaya

Editor Politik. Mantan jurnalis cetak dengan spesialisasi politik elektoral. Menulis analisis kebijakan dan reportase parlemen.

Comments (0)

User