Gerakan Ayah Antar Anak Dicanangkan Perkuat Peran Keluarga

Jakarta, Apaberita – Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) bersama Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) resmi meluncurkan Gerak...

Jul 13, 2026 - 22:02
0 0

Jakarta, Apaberita – Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) bersama Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) resmi meluncurkan Gerakan Ayah Mengantar Anak (GAMA) di Gedung Ki Hajar Dewantara, Jakarta, pada Senin (15 Juli 2024). Inisiatif nasional ini bertujuan merevitalisasi peran keluarga, khususnya figur ayah, dalam mendukung proses pendidikan dan perkembangan psikologis anak usia sekolah dasar dan menengah.

Peluncuran Dihadiri Pemangku Kepentingan Strategis

Acara peluncuran dihadiri oleh Menteri PPPA, I Gusti Ayu Bintang Darmawati, Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, Nadiem Anwar Makarim, serta sejumlah kepala daerah dan perwakilan organisasi kemasyarakatan. Dalam sambutannya, Menteri PPPA menekankan bahwa gerakan ini bukan sekadar imbauan seremonial, melainkan bagian dari strategi nasional penguatan ketahanan keluarga.

"Berdasarkan data Survei Pengasuhan Anak 2023, hanya 34 persen ayah di Indonesia yang terlibat aktif dalam aktivitas harian anak, termasuk mengantar ke sekolah. Padahal, kehadiran ayah memiliki dampak signifikan terhadap pembentukan karakter dan prestasi akademik anak. Gerakan ini kami canangkan untuk mengubah paradigma bahwa pendidikan adalah tanggung jawab bersama, bukan hanya ibu," ujar Bintang Puspayoga.

Sementara itu, Nadiem Makarim menambahkan bahwa Gerakan Ayah Mengantar Anak sejalan dengan Kebijakan Merdeka Belajar yang mendorong kolaborasi tripusat pendidikan: sekolah, keluarga, dan masyarakat. Kemendikbudristek akan menerbitkan Surat Edaran kepada seluruh dinas pendidikan provinsi dan kabupaten/kota untuk mengimplementasikan program ini di setiap satuan pendidikan.

Makna Mendalam di Balik Rutinitas Pagi

Guru Besar Psikologi Pendidikan Universitas Negeri Jakarta, Prof. Dr. Arief Rachman, M.Pd., yang hadir sebagai pembicara kunci, memaparkan temuan riset longitudinal bahwa keterlibatan ayah dalam aktivitas sederhana seperti mengantar anak ke sekolah berkorelasi positif dengan peningkatan skor kecerdasan emosional dan penurunan tingkat kecemasan pada anak.

"Saat ayah mengantar anak ke sekolah, terjadi proses komunikasi informal yang menciptakan ruang aman bagi anak untuk berbagi perasaan, kekhawatiran, maupun cita-cita. Interaksi ini sangat penting dalam membangun kelekatan atau secure attachment yang menjadi fondasi kesehatan mental jangka panjang. Bukan hanya itu, anak juga belajar tentang disiplin waktu dan tanggung jawab melalui keteladanan ayah," jelas Arief.

Ia menegaskan bahwa gerakan ini sebaiknya tidak dimaknai sebagai kewajiban eksklusif ayah, melainkan sebagai upaya mengembalikan keseimbangan peran pengasuhan antara ayah dan ibu yang selama ini timpang. Studi yang dipublikasikan di Jurnal Psikologi Indonesia (2024) menunjukkan bahwa anak yang diasuh dengan keterlibatan ayah yang proporsional memiliki kemampuan regulasi emosi 20 persen lebih baik dibandingkan anak yang minim kehadiran ayah.

Dukungan Lintas Sektor dan Implementasi di Sekolah

Sebagai tindak lanjut, KemenPPPA dan Kemendikbudristek menyusun panduan teknis pelaksanaan GAMA yang akan didistribusikan ke seluruh sekolah pada Agustus 2024. Setiap sekolah diimbau menetapkan minimal satu hari dalam sepekan sebagai "Hari Ayah Mengantar" yang dikoordinasikan melalui komite sekolah. Kepala SDN Cipete Utara 01 Jakarta, Dra. Sulastri, menyambut baik inisiatif ini.

"Kami sudah membentuk kelompok kerja orang tua dan akan mengintegrasikan program ini dengan kegiatan class meeting dan parenting class. Kami berharap dengan gerakan ini, angka keterlambatan siswa menurun dan komunikasi sekolah dengan orang tua semakin intensif," ujarnya.

Sejumlah figur publik dan tokoh masyarakat turut menjadi duta gerakan ini. Aktor dan presenter Rio Febrian, yang juga seorang ayah dua anak, membagikan pengalamannya.

"Dulu saya pikir mengantar anak itu hanya soal transportasi. Tapi setelah istri saya sakit dan saya mengambil alih rutinitas itu, saya merasakan perubahan besar. Anak saya lebih terbuka dan prestasinya meningkat. Saya mengajak seluruh ayah di Indonesia untuk mencoba dan merasakan sendiri manfaatnya," kata Rio.

Harapan Menuju Perubahan Budaya

Menteri PPPA menutup acara dengan menegaskan bahwa Gerakan Ayah Mengantar Anak bukanlah program jangka pendek. Pemerintah menargetkan peningkatan partisipasi ayah dalam aktivitas pengasuhan dan pendidikan anak hingga mencapai 60 persen pada tahun 2026, berdasarkan data baseline yang akan diukur melalui kolaborasi dengan Badan Pusat Statistik (BPS) dan perguruan tinggi.

"Kami tidak ingin gerakan ini menjadi euforia sesaat. Akan ada pemantauan berkala dan insentif bagi daerah yang berhasil mengimplementasikannya dengan baik. Perubahan budaya memang memerlukan waktu, tetapi kami percaya bahwa langkah kecil dari setiap ayah akan membawa dampak besar bagi generasi Indonesia Emas 2045," pungkas Bintang.

Dengan dukungan kebijakan dan partisipasi masyarakat, diharapkan Gerakan Ayah Mengantar Anak mampu mengukuhkan kembali peran vital keluarga sebagai pilar pertama dan utama dalam sistem pendidikan nasional.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
tania-sari

Reporter Hukum. Meliput Mahkamah Konstitusi, judicial review, dan dinamika legislasi.

Comments (0)

User