NasDem Belum Putuskan Arah Dukungan di Pilgub Sumut 2024

JAKARTA — Partai Nasional Demokrat (NasDem) masih menimbang secara matang arah koalisi dan dukungan untuk Pemilihan Gubernur Sumatera Utara 2024. Dua nama besar yang selama ini disebut-sebut menjadi...

Jul 13, 2026 - 07:28
0 0
NasDem Belum Putuskan Arah Dukungan di Pilgub Sumut 2024

JAKARTA — Partai Nasional Demokrat (NasDem) masih menimbang secara matang arah koalisi dan dukungan untuk Pemilihan Gubernur Sumatera Utara 2024. Dua nama besar yang selama ini disebut-sebut menjadi kandidat potensial, mantan Gubernur Sumatera Utara Edy Rahmayadi dan Wali Kota Medan Bobby Nasution, sama-sama belum mendapatkan kepastian dari partai besutan Surya Paloh tersebut. Ketua Badan Pemenangan Pemilu (Bappilu) Partai NasDem Prananda Surya Paloh menegaskan bahwa seluruh opsi masih terbuka dan keputusan final belum diambil.

Pernyataan itu disampaikan Prananda usai menghadiri Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Bappilu di Jakarta, Kamis (11/7/2024). Ia menekankan bahwa mekanisme internal partai akan tetap menjadi acuan utama sebelum rekomendasi dukungan dikeluarkan. "Kami masih melakukan penjajakan dan komunikasi intensif dengan semua pihak. Belum ada keputusan apakah dukungan akan diberikan kepada Pak Edy atau Pak Bobby. Semua akan diputuskan melalui rapat pleno," ujar Prananda.

Ketidakpastian tersebut menambah dinamika politik di Sumatera Utara yang sebelumnya diwarnai manuver sejumlah partai besar. Edy Rahmayadi, yang merupakan mantan Panglima Kostrad dan kader Partai Gerindra, memiliki basis massa kuat di kalangan pemilih tradisional. Sementara Bobby Nasution, menantu Presiden Joko Widodo, diuntungkan oleh popularitas tinggi sebagai Wali Kota Medan serta jaringan relawan yang solid. Keduanya dinilai memiliki elektabilitas yang saling mendekati, membuat keputusan NasDem menjadi krusial sekaligus rumit.

Pertimbangan Strategis dan Peta Koalisi

Sejumlah faktor menjadi pertimbangan utama DPP NasDem sebelum menjatuhkan pilihan. Pertama, konsistensi koalisi di tingkat nasional. NasDem merupakan bagian dari Koalisi Perubahan bersama Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) yang mengusung Anies Baswedan pada Pilpres 2024. Di tingkat provinsi, koalisi ini belum memiliki ikatan formal menghadapi Pilgub Sumut. Namun, sinyal politik dari DPP akan sangat mempengaruhi arah koalisi daerah.

Kedua, elektabilitas dan potensi kemenangan. Berdasarkan hasil survei internal yang dikutip oleh salah satu fungsionaris NasDem, elektabilitas Edy Rahmayadi dan Bobby Nasution bersaing ketat dengan selisih di bawah margin of error. Edy unggul di kalangan pemilih pedesaan dan basis Gerindra, sementara Bobby meraih dukungan kuat di wilayah perkotaan, khususnya Medan, serta segmen pemilih muda. "Kami tidak hanya melihat angka survei, tetapi juga mesin partai dan jaringan relawan yang bisa digerakkan," kata seorang anggota Bappilu yang enggan disebutkan namanya.

Ketiga, hubungan personal antara kandidat dan elite partai. Edy Rahmayadi dikenal memiliki kedekatan dengan sejumlah petinggi NasDem di Sumut, sementara Bobby Nasution memiliki akses langsung ke jaringan kekuasaan nasional. NasDem harus mempertimbangkan dampak jangka panjang dari setiap keputusan terhadap posisi partai dalam kontestasi politik berikutnya.

Saat ini, Edy Rahmayadi hampir pasti mendapatkan dukungan dari Partai Gerindra dan kemungkinan PAN. Bobby Nasution diisukan akan diusung oleh koalisi besar yang melibatkan PDIP, Golkar, dan Partai Demokrat. NasDem, yang memiliki 6 kursi di DPRD Sumut, bisa menjadi penentu terbentuknya poros baru atau bergabung dengan salah satu kekuatan yang sudah ada.

Respons Kandidat dan Target Waktu Keputusan

Pihak Edy Rahmayadi dan Bobby Nasution sama-sama menunjukkan sikap optimistis dan menghormati proses internal NasDem. Juru bicara Edy Rahmayadi, Doni Ikhsan, mengatakan pihaknya terus menjalin silaturahmi dengan seluruh partai politik, termasuk NasDem. "Kami meyakini bahwa catatan kinerja dan rekam jejak Pak Edy selama memimpin Sumut akan menjadi pertimbangan positif bagi NasDem," ujarnya kepada awak media di Medan, Jumat (12/7/2024).

Senada dengan itu, tim pemenangan Bobby Nasution juga menyatakan kesiapan untuk berkomunikasi dengan partai mana pun. "Mas Bobby menghargai setiap mekanisme partai. Kami hanya bisa terus menyampaikan visi dan misi serta membangun kepercayaan publik," kata Ketua Tim Pemenangan Bobby, Abdul Wahab. Ia menambahkan bahwa dalam waktu dekat akan ada pertemuan antara Bobby dan jajaran DPP NasDem untuk memperkuat sinergi politik.

Dari jadwal yang dirilis Komisi Pemilihan Umum (KPU) Provinsi Sumatera Utara, pendaftaran pasangan calon gubernur dan wakil gubernur akan dibuka pada 27–29 Agustus 2024. Artinya, NasDem memiliki waktu sekitar enam pekan untuk menuntaskan seluruh proses penjaringan, penilaian, hingga penetapan rekomendasi. Prananda memastikan bahwa keputusan akan diumumkan sebelum batas akhir pendaftaran. "Kami tidak akan mengambil keputusan secara terburu-buru, tetapi juga tidak akan menunggu hingga detik terakhir. Paling lambat pertengahan Agustus, DPP akan mengeluarkan surat keputusan," tegasnya.

Dinamika Internal dan Sinyal Politik

Di internal NasDem, muncul dua arus pandangan berbeda. Sebagian pengurus DPW Sumut dikabarkan lebih condong mendukung Edy Rahmayadi karena dianggap sebagai figur yang memahami persoalan daerah dan memiliki loyalitas terhadap kader lokal. Sementara kubu lain melihat Bobby Nasution sebagai representasi pemimpin muda yang mampu memperkuat citra modern partai. Ketua DPW NasDem Sumut, Iskandar ST, ketika dimintai konfirmasi, menyampaikan akan mengikuti sepenuhnya arahan DPP. "Kami di daerah hanya mengusulkan, keputusan tetap di tangan DPP. Nama Edy dan Bobby sudah masuk dalam radar kami untuk dikaji," katanya.

Prananda Surya Paloh menambahkan bahwa partainya ingin memastikan dukungan yang diberikan berorientasi jangka panjang. "NasDem tidak hanya berpikir soal menang atau kalah di Pilgub. Kami juga mempertimbangkan bagaimana visi pembangunan Sumut ke depan sejalan dengan platform partai, serta bagaimana sinergi antardaerah bisa tercipta," ujarnya. Ia juga menegaskan bahwa rekam jejak, integritas, dan komitmen terhadap pemberantasan korupsi akan menjadi faktor penentu akhir.

Dengan masih menggantungnya keputusan NasDem, konstelasi Pilgub Sumut diprediksi akan terus bergerak dinamis. Poros-poros koalisi yang ada saat ini bisa berubah sewaktu-waktu, tergantung pada manuver partai kunci seperti NasDem. Pengamat politik dari Universitas Sumatera Utara, Dr. Abdul Karim, menilai bahwa langkah NasDem menunda keputusan bisa dimaknai sebagai strategi untuk memperoleh posisi tawar tertinggi. "Mereka menunggu siapa yang bisa memberikan keuntungan politik paling besar, baik dari segi calon pendamping maupun bagi bangunan koalisi nasional ke depan," katanya.

Publik Sumatera Utara kini menanti kepastian yang akan mewarnai peta pertarungan menuju rumah dinas Gubernur di Jalan Sudirman tersebut. Keputusan NasDem, sekecil apa pun arahnya, akan menjadi titik kunci yang menentukan wajah politik lokal dalam lima tahun mendatang.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
dimas-permana

Reporter Politik Muda. Fokus pada gerakan pemuda, politik digital, dan representasi generasi Z.

Comments (0)

User