Napoleon dari Batak, Tuan Rondahaim Saragih, Jadi Pahlawan Nasional
Jakarta, Apaberita – Pemerintah menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada sepuluh putra-putri terbaik bangsa dalam upacara kenegaraan yang berlangsung di Istana Negara, Senin (10/11), bertepata...
Jakarta, Apaberita – Pemerintah menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada sepuluh putra-putri terbaik bangsa dalam upacara kenegaraan yang berlangsung di Istana Negara, Senin (10/11), bertepatan dengan peringatan Hari Pahlawan. Presiden Prabowo Subianto memimpin langsung prosesi penganugerahan, yang salah satu penerimanya adalah Tuan Rondahaim Saragih, tokoh legendaris dari Tanah Simalungun, Sumatera Utara, yang sejak lama dikenal dengan julukan “Napoleon dari Batak”.
Berdasarkan Keputusan Presiden yang dibacakan oleh Sekretaris Militer Presiden, Tuan Rondahaim Saragih dinilai memenuhi seluruh kriteria sebagai pahlawan nasional, terutama karena perjuangannya yang tanpa kompromi melawan kolonialisme Belanda pada abad ke-19. Presiden Prabowo dalam amanatnya menegaskan, “Penghargaan ini adalah wujud nyata pengakuan negara atas pengorbanan dan keteladanan para pendahulu yang telah menjaga kedaulatan dan martabat bangsa.”
Sosok Tuan Rondahaim Saragih
Tuan Rondahaim Saragih lahir sekitar tahun 1828 di Kampung Parbagasan, daerah yang kini masuk wilayah Kabupaten Simalungun. Ia merupakan pemimpin adat sekaligus raja di Kerajaan Raya, salah satu kerajaan Batak yang eksis pada era pra-kolonial. Catatan sejarah dari Universitas Sumatera Utara menyebutkan bahwa sejak usia muda, Rondahaim sudah menunjukkan sikap antipati terhadap kehadiran pasukan kolonial yang kala itu mulai memperluas pengaruh ke pedalaman Batak.
Julukan “Napoleon dari Batak” bukanlah sekadar gelar kosong. Peneliti dari Pusat Studi Sejarah Batak, Mangaraja Siregar, menjelaskan bahwa istilah Napoleon van Batak awalnya muncul dari kalangan petinggi militer Belanda yang kesulitan menaklukkan taktik gerilya Rondahaim. “Beliau mengadopsi strategi perang yang sangat mirip dengan Napoleon Bonaparte: mobilitas tinggi, pemanfaatan medan, dan serangan kilat yang membuat frustrasi pasukan lawan yang lebih modern,” ujar Siregar dalam sebuah diskusi sejarah tahun lalu.
Jejak Perjuangan dan Pertempuran Legendaris
Rondahaim memimpin perlawanan terhadap Belanda sejak tahun 1850-an hingga akhir hayatnya pada 1906. Pertempuran paling monumental adalah ketika ia bersama sekitar 500 pengikutnya bertahan di hutan-hutan lebat sekitar Bukit Barisan, menangkis serbuan pasukan yang dipersenjatai senapan dan meriam. Meski kalah dalam hal persenjataan, Rondahaim tidak pernah sekalipun menandatangani surat penyerahan diri.
Arsip milik Museum Simalungun mencatat taktik “Hilang-Muncul” yang ia gunakan: pasukannya akan mendadak menyerang pos-pos Belanda di malam hari, kemudian menghilang ke dalam rimba sebelum matahari terbit. Tak heran jika militer kolonial harus mengerahkan lebih dari tiga batalyon untuk mencoba meredam perlawanan sang Napoleon dari Batak. Keturunan langsungnya, Rondahaim Saragih Garingging, menuturkan bahwa kakek buyutnya itu tidak hanya seorang panglima perang, tetapi juga negarawan yang mempersatukan marga-marga di Simalungun dalam satu komando.
Proses Pengusulan dan Tanggapan Keluarga
Pengusulan gelar pahlawan untuk Tuan Rondahaim Saragih sudah berlangsung selama hampir satu dekade. Pemerintah Kabupaten Simalungun bersama sejarawan dan tokoh masyarakat setempat secara intensif mendokumentasikan bukti-bukti pertempuran, kesaksian lisan, serta situs-situs bersejarah yang terhubung dengan sang tokoh. Sekretaris Daerah Simalungun, dalam keterangannya usai upacara, menyampaikan bahwa pengakuan ini akan menjadi momentum untuk lebih melestarikan nilai-nilai perjuangan di kalangan generasi muda.
“Kami sangat bersyukur dan bangga. Ompung kami tidak hanya diakui sebagai pahlawan, tetapi juga simbol bahwa keberanian tanpa kompromi pada akhirnya mendapat tempat terhormat dalam sejarah bangsa,” ujar Ramon Saragih, salah satu perwakilan keluarga yang hadir di Istana Negara, dengan mata berkaca-kaca.
Sembilan Pahlawan Lainnya dan Makna Kenegaraan
Selain Tuan Rondahaim Saragih, Presiden Prabowo juga menganugerahkan gelar serupa kepada sembilan tokoh dari berbagai latar belakang. Mereka berasal dari kalangan ulama, cendekiawan, pejuang kemerdekaan, dan tokoh adat yang mewakili keberagaman nusantara. Prosesi pemberian gelar ditutup dengan tabur bunga di Taman Makam Pahlawan Kalibata yang dilakukan oleh para ahli waris beserta pejabat tinggi negara.
Dengan ditetapkannya Tuan Rondahaim Saragih sebagai Pahlawan Nasional, daftar nama pahlawan Indonesia pun kini bertambah dengan sosok yang pernah dijuluki Napoleon van Batak—sebuah pengakuan yang tidak hanya membumi di Simalungun, tetapi juga memperkaya narasi kebangsaan tentang perlawanan rakyat di pelosok negeri.
Baca juga:
Comments (0)