Mojtaba Khamenei Sumpah Tuntut Balas Kematian Ayahanda

Teheran, Apaberita — Pemimpin Tertinggi baru Republik Islam Iran, Mojtaba Khamenei, secara resmi menyatakan komitmen tegas untuk menuntut balas atas kematian ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei, di teng...

Jul 12, 2026 - 14:35
0 0

Teheran, Apaberita — Pemimpin Tertinggi baru Republik Islam Iran, Mojtaba Khamenei, secara resmi menyatakan komitmen tegas untuk menuntut balas atas kematian ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei, di tengah meningkatnya ketegangan diplomatik dan militer antara Teheran dengan Amerika Serikat dan Israel.

Dalam pidato pelantikannya di hadapan Majelis Ahli dan jajaran pejabat tinggi militer di Kompleks Husainiyah Imam Khomeini, Teheran, pada Senin (14/4), Mojtaba menegaskan bahwa kematian sang ayah, yang dinyatakan wafat pada 10 Maret lalu akibat komplikasi pasca-serangan udara yang diduga kuat melibatkan intelijen asing, tidak akan berlalu tanpa pembalasan setimpal.

Pernyataan ini menjadi penanda eskalasi baru dalam konflik proksi dan langsung antara poros perlawanan pimpinan Iran dengan aliansi Barat pimpinan Washington dan Tel Aviv. Sejumlah analis keamanan kawasan menilai retorika pembalasan ini akan dimanifestasikan dalam bentuk operasi yang lebih terukur namun mematikan melalui jaringan milisi sekutu di Lebanon, Suriah, Irak, dan Yaman, sejalan dengan doktrin pertahanan asimetris Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).

Deklarasi Resmi dan Ancaman Terukur

Dihadiri oleh pimpinan tiga cabang kekuasaan, komandan IRGC, serta perwakilan kelompok sekutu seperti Hizbullah dan Hamas, pidato Mojtaba berlangsung dalam pengamanan super ketat. Ia membuka pernyataannya dengan mengutip prinsip qisas (pembalasan setimpal) dalam syariat Islam, seraya menyebut bahwa "para perancang konspirasi biadab itu, baik dari Washington maupun Tel Aviv, harus memahami bahwa zaman toleransi telah berakhir."

"Kami bersumpah demi darah suci Ayatollah Ali Khamenei, pemimpin agung kami, bahwa setiap mikro detik dari penderitaan yang ia alami akan kami balas dengan balasan yang membuat para tiran di Gedung Putih dan Zionisme menyesali perbuatannya," tegas Mojtaba di podium utama.

Pernyataan itu disambut teriakan "Allahu Akbar" dan "Marg bar Amrika" (Mati Amerika) dari hadirin. Meskipun tidak secara eksplisit menyebutkan metode operasi, isyarat keras ini diperkuat oleh Keppres Rahbar Nomor 1445/1404 yang ditandatangani tepat satu jam setelah pidato. Keputusan tersebut menginstruksikan Dewan Keamanan Nasional Tertinggi untuk segera merevisi doktrin pertahanan negara dengan menambahkan klausul “hak pembalasan strategis tanpa batas waktu” terhadap setiap serangan yang menargetkan simbol-simbol utama negara.

Respons Cepat Washington dan Kawasan

Gedung Putih melalui Juru Bicara Dewan Keamanan Nasional AS bereaksi dalam waktu kurang dari enam jam. Pemerintah AS mengecam pernyataan tersebut sebagai “provokasi berbahaya yang mengancam stabilitas global.” Washington menegaskan kembali komitmennya terhadap keamanan Israel dan memerintahkan peningkatan status siaga kapal-kapal induk Armada Kelima di Teluk Persia serta percepatan pengiriman sistem pertahanan rudal THAAD ke pangkalan-pangkalan sekutu di Teluk.

Sementara itu, Kantor Perdana Menteri Israel melalui siaran resmi menyatakan bahwa mereka telah mengantisipasi retorika tersebut dan memperkuat kerja sama intelijen dengan sekutu regional. Jerusalem Post melaporkan peningkatan signifikan patroli udara di perbatasan utara dengan Lebanon dan selatan dengan Gaza, serta ujicoba sistem pertahanan siber terhadap potensi serangan balasan dari Iran dan proksinya.

Warisan Ali Khamenei dan Arsitektur Konflik Baru

Mojtaba bukanlah wajah baru dalam lingkar kekuasaan. Sebagai putra kedua Ali Khamenei, ia telah lama membangun pengaruh di jaringan keamanan dan yayasan keagamaan, serta didukung penuh oleh faksi ultra-konservatif IRGC. Pengamat politik Timur Tengah dari Universitas Indonesia, Dr. Ahmad Ridwan, menjelaskan bahwa pelantikannya justru mempercepat proses transformasi Republik Islam menjadi entitas yang lebih teokratis-militeristik.

Ali Khamenei sendiri, dalam sisa-sisa bulan terakhir kepemimpinannya, telah mengkonsolidasikan jaringan perlawanan yang semakin otonom. Beberapa dokumen yang bocor ke media regional mengindikasikan bahwa sebelum wafat, ia memberikan restu terhadap pembentukan front gabungan bernama Jabhah al-Wa'd as-Sadiq (Front Janji yang Benar) yang menyatukan kekuatan Hizbullah, Hashd al-Sya'bi Irak, Ansarullah Yaman, serta milisi Syiah di Suriah dan Afghanistan.

Mojtaba menegaskan bahwa front tersebut akan menjadi “tangan panjang keadilan” dalam mengeksekusi agenda balas dendam. Ia juga memerintahkan Bank Sentral Iran untuk mentransfer dana darurat sebesar 3 miliar euro dari cadangan devisa yang berhasil direpatriasi dari Korea Selatan untuk mendukung logistik operasi terpadu melalui Doha dan Beirut.

Diplomat senior Uni Eropa di Wina, yang enggan disebutkan jati dirinya, mengkonfirmasi bahwa perundingan track two untuk meredakan situasi telah dihentikan secara sepihak oleh Teheran, menandakan bahwa eskalasi militer nyaris tak terelakkan dalam beberapa minggu ke depan. Dengan deklarasi ini, kawasan Timur Tengah kembali memasuki fase ketidakpastian yang semakin dalam, di mana garis antara perang proksi dan konfrontasi langsung kian menipis.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User