Mensos Tekankan Empati di Sekolah Rakyat, Lulusan Bisa Lanjut Kuliah

JAKARTA — Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau Gus Ipul menegaskan bahwa pendekatan berbasis empati harus menjadi fondasi dalam proses pembelajaran di Sekolah Rakyat. Pernyataan itu disampaikan saat ...

Jul 15, 2026 - 19:16
0 0
Mensos Tekankan Empati di Sekolah Rakyat, Lulusan Bisa Lanjut Kuliah

JAKARTA — Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau Gus Ipul menegaskan bahwa pendekatan berbasis empati harus menjadi fondasi dalam proses pembelajaran di Sekolah Rakyat. Pernyataan itu disampaikan saat meninjau pelaksanaan kegiatan belajar-mengajar di Sekolah Rakyat 01 Jakarta, Selasa (15/7/2026). Selain menekankan pentingnya mendidik dengan rasa, Mensos juga memastikan bahwa setiap peserta didik program unggulan Kementerian Sosial itu memiliki hak penuh untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi atau mengikuti pelatihan keterampilan yang terstandar.

Dalam sesi dialog bersama para pengajar dan siswa, Gus Ipul menyatakan bahwa karakter siswa Sekolah Rakyat tidak boleh dipandang secara seragam. Setiap anak, menurutnya, datang dengan potensi, latar belakang, dan kepekaan sosial yang berbeda-beda. Oleh karena itu, standar pengajaran harus disesuaikan dengan kebutuhan emosional dan intelektual tiap siswa. “Mereka ini bukan sekadar penerima bantuan. Mereka adalah anak-anak yang berharga dan harus disentuh dengan pendekatan manusiawi. Kami tidak ingin ada yang merasa tersisih atau dianggap tidak mampu,” tegas Mensos di hadapan puluhan siswa dan guru yang hadir.

Pendidikan dengan Sentuhan Hati

Konsep empati yang digaungkan Gus Ipul bukan sekadar jargon. Ia merinci bahwa Kemensos bersama tim pendidik telah menyusun modul pembelajaran yang menyertakan pelatihan kepekaan sosial, pengelolaan emosi, dan bimbingan psikososial. Setiap tenaga pengajar di lingkungan Sekolah Rakyat diwajibkan mengikuti pelatihan khusus agar mampu mendeteksi dinamika psikologis anak didiknya. “Kita tidak cukup hanya mengajarkan membaca, menulis, dan berhitung. Lebih dari itu, kita harus membangun kepercayaan diri mereka. Kalau anak-anak ini merasa dihargai, proses belajar akan jauh lebih efektif,” ungkapnya.

Berdasarkan keputusan yang telah ditetapkan oleh Kementerian Sosial, rasio guru dan siswa di Sekolah Rakyat dipertahankan agar interaksi personal dapat berlangsung intensif. Data yang dihimpun dalam kunjungan tersebut menunjukkan bahwa per Juli 2026, tercatat 48 Sekolah Rakyat telah beroperasi di 14 provinsi, dengan total siswa mencapai 7.200 anak dari keluarga prasejahtera. Angka ini naik signifikan dibanding periode yang sama tahun lalu yang baru menjangkau 3.400 siswa.

Jaminan Studi Lanjut Bukan Sekadar Wacana

Tak hanya menyoroti proses belajar, Gus Ipul memastikan bahwa Sekolah Rakyat dirancang sebagai institusi yang tak berhenti di pendidikan dasar dan menengah. Lulusan program ini, berdasarkan arahan terbaru yang disahkan dalam Rapat Koordinasi Kemensos bersama Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, akan disalurkan ke tiga jalur utama: melanjutkan ke perguruan tinggi negeri atau swasta melalui skema afirmasi, menempuh pelatihan vokasi di Balai Latihan Kerja milik Kementerian Ketenagakerjaan, atau memperoleh pendampingan kewirausahaan bagi yang memilih merintis usaha mandiri.

“Anak-anak Sekolah Rakyat berhak masuk universitas. Mereka punya kemampuan yang tidak kalah dengan siswa dari sekolah reguler. Yang membedakan cuma akses dan biaya. Pemerintah wajib hadir menjembatani itu,” ujar Mensos dengan nada optimistis. Ia menindaklanjuti komitmen itu dengan menyebutkan bahwa pada tahun anggaran 2026, Kemensos telah mengalokasikan Rp720 miliar untuk beasiswa, pelatihan, dan biaya hidup bagi lulusan Sekolah Rakyat yang ingin melanjutkan studi. Anggaran itu, jelasnya, sudah mendapat persetujuan dari Komisi VIII DPR RI dalam rapat yang digelar pekan lalu.

Harapan Jangka Panjang dan Dukungan Lintas Kementerian

Lebih lanjut, Gus Ipul menyatakan bahwa langkah strategis ini merupakan bagian dari visi besar pemerintah untuk memutus rantai kemiskinan melalui jalur pendidikan. Ia menjelaskan bahwa program Sekolah Rakyat tak bisa berdiri sendiri. Keterlibatan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi serta Kementerian Ketenagakerjaan menjadi kunci dalam menyukseskan transisi lulusan menuju dunia akademik maupun dunia kerja. “Kami akan terus mengevaluasi agar setiap kebijakan benar-benar menyentuh kebutuhan nyata di lapangan. Tidak boleh ada anak yang terpaksa berhenti hanya karena tidak punya biaya,” pungkasnya.

Di penghujung kunjungan, Mensos menandatangani piagam komitmen bersama perwakilan siswa sebagai simbol bahwa setiap anak di Sekolah Rakyat memiliki masa depan yang setara. Dengan kombinasi pendekatan empati dalam mendidik serta jaminan keberlanjutan studi, Kementerian Sosial optimistis bahwa Sekolah Rakyat mampu menjadi model pendidikan inklusif yang melahirkan generasi unggul dari kantong-kantong pemukiman marginal di seluruh Indonesia.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
dimas-permana

Reporter Politik Muda. Fokus pada gerakan pemuda, politik digital, dan representasi generasi Z.

Comments (0)

User