Mensos Apresiasi Pameran Seni Anak Inklusif di Jakarta

Jakarta, Apaberita – Menteri Sosial Republik Indonesia Saifullah Yusuf menyampaikan apresiasi tinggi terhadap penyelenggaraan pameran seni bertajuk Canvas of Dreams 2026 yang digelar di Jakarta pada...

Mensos Apresiasi Pameran Seni Anak Inklusif di Jakarta

Jakarta, Apaberita – Menteri Sosial Republik Indonesia Saifullah Yusuf menyampaikan apresiasi tinggi terhadap penyelenggaraan pameran seni bertajuk Canvas of Dreams 2026 yang digelar di Jakarta pada Minggu (26/7). Pameran yang melibatkan karya siswa sekolah dasar dan sekolah menengah pertama ini dinilai menjadi ruang ekspresi inklusif yang membuka akses seluas-luasnya bagi anak-anak, termasuk mereka yang menyandang disabilitas.

Dalam kunjungannya ke lokasi pameran, Menteri yang akrab disapa Gus Ipul tersebut menegaskan bahwa kegiatan seperti ini merupakan bentuk nyata dari komitmen negara dalam menghadirkan kesetaraan di bidang seni dan budaya bagi seluruh anak Indonesia. Ia menekankan pentingnya pengakuan atas kreativitas anak tanpa melihat latar belakang fisik maupun sosial.

Panggung Ekspresi Tanpa Batas

Pameran Canvas of Dreams tahun ini menampilkan lebih dari 150 karya seni rupa yang dihasilkan oleh pelajar dari 30 sekolah di wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya. Kurator pameran, yang berasal dari tim seniman dan pendidik, sengaja mengkurasi proses seleksi agar setiap karya yang dipamerkan mencerminkan keberagaman perspektif. Mulai dari lukisan kanvas, instalasi daur ulang, hingga kolase digital turut menghiasi ruang pamer di gedung pusat kebudayaan tersebut.

Menteri Sosial secara khusus menyoroti keterlibatan 35 siswa penyandang disabilitas yang turut memamerkan karyanya. Ia menilai bahwa pameran ini berhasil meruntuhkan sekat-sekat yang selama ini membatasi ruang gerak anak berkebutuhan khusus dalam berkarya. “Negara wajib hadir untuk memastikan bahwa setiap anak, tanpa terkecuali, memiliki panggung yang sama untuk menunjukkan bakatnya. Pameran ini adalah bukti bahwa kreativitas tidak pernah mengenal batas,” ujar Gus Ipul saat memberikan sambutan.

“Negara wajib hadir untuk memastikan bahwa setiap anak, tanpa terkecuali, memiliki panggung yang sama untuk menunjukkan bakatnya. Pameran ini adalah bukti bahwa kreativitas tidak pernah mengenal batas.”

Sinergi Multi-Pihak dalam Mendukung Inklusivitas

Keberhasilan penyelenggaraan Canvas of Dreams 2026 tidak terlepas dari kolaborasi antara Kementerian Sosial, dinas pendidikan setempat, serta sejumlah lembaga swadaya masyarakat yang bergerak di bidang disabilitas dan pengembangan seni anak. Kementerian Sosial, melalui Direktorat Jenderal Rehabilitasi Sosial, memberikan dukungan penuh berupa pendampingan psikososial dan aksesibilitas bagi peserta penyandang disabilitas. Sementara itu, pihak sekolah dan komunitas seni berperan sebagai fasilitator teknis dalam proses penciptaan karya.

Direktur Jenderal Rehabilitasi Sosial Kementerian Sosial yang turut hadir dalam acara tersebut menyatakan bahwa pameran ini menjadi salah satu model intervensi sosial berbasis seni yang akan direplikasi di daerah lain. “Kami akan menjadikan Canvas of Dreams sebagai proyek percontohan. Tahun depan, kami targetkan kegiatan serupa bisa diselenggarakan di lima kota besar lainnya,” jelasnya. Rencana ini sejalan dengan program prioritas kementerian dalam memperkuat perlindungan dan pemenuhan hak anak, khususnya di sektor partisipasi budaya.

Data Kementerian Sosial mencatat bahwa sepanjang tahun 2025, jumlah anak penyandang disabilitas yang menerima layanan rehabilitasi sosial mencapai 127.000 jiwa. Angka ini menjadi landasan bagi kementerian untuk terus mendorong program inklusi yang tidak hanya terfokus pada aspek kesehatan dan pendidikan formal, melainkan juga pengembangan minat dan bakat.

Membangun Kepercayaan Diri melalui Karya

Pameran yang berlangsung selama tiga hari, dari 25 hingga 27 Juli 2026, ini juga dirangkaikan dengan serangkaian lokakarya dan diskusi publik. Para peserta, baik dari kalangan umum maupun penyandang disabilitas, berkesempatan mengikuti sesi menggambar bersama, kelas seni terapi, serta bincang-bincang bersama seniman profesional. Kegiatan pendukung ini dirancang untuk membangun kepercayaan diri anak-anak sekaligus mengasah keterampilan sosial mereka.

Gus Ipul, yang menghabiskan waktu hampir dua jam meninjau satu per satu karya, tampak berdialog langsung dengan beberapa peserta. Ia mendengarkan cerita di balik setiap lukisan, mulai dari proses kreatif hingga harapan yang mereka tuangkan di atas kanvas. Salah satu peserta asal Jakarta Timur, seorang siswa kelas lima SD penyandang tunadaksa, menceritakan bahwa ia menyelesaikan lukisan bertema alam dalam waktu dua minggu menggunakan alat bantu khusus. Karya tersebut kini menjadi salah satu yang paling banyak menarik perhatian pengunjung.

“Kami tidak hanya melihat hasil akhir, tetapi juga perjalanan anak-anak ini dalam berkarya. Itu yang paling berharga. Pemerintah akan terus mendukung agar setiap anak dapat mengembangkan potensinya secara optimal,” ungkap Menteri Sosial menutup kunjungannya.

Arah Kebijakan Ke Depan

Apresiasi terhadap Canvas of Dreams 2026 ini sekaligus menjadi sinyal politik anggaran yang semakin berpihak pada program inklusi berbasis komunitas. Di tahun anggaran 2026, Kementerian Sosial telah mengalokasikan dana sebesar Rp2,3 triliun untuk program rehabilitasi sosial anak, yang di dalamnya mencakup kegiatan pemberdayaan seni dan budaya. Angka ini meningkat 12 persen dibanding tahun sebelumnya, mencerminkan prioritas pemerintah dalam isu perlindungan anak.

Pengamat kebijakan sosial menilai bahwa pameran semacam ini memiliki efek ganda. Selain membuka akses partisipasi, kegiatan ini juga berfungsi sebagai kampanye publik yang efektif untuk mengurangi stigma terhadap penyandang disabilitas. Dengan perhelatan yang semakin rutin, diharapkan inklusivitas tidak lagi menjadi jargon, melainkan praktik keseharian dalam kehidupan bermasyarakat.

Saat pameran resmi ditutup pada Senin (27/7) sore, panitia mencatat jumlah pengunjung mencapai lebih dari 3.000 orang. Antusiasme publik ini menjadi modal berharga bagi penyelenggaraan edisi berikutnya yang direncanakan berlangsung pada pertengahan 2027. Pemerintah, melalui Kementerian Sosial, menyatakan komitmennya untuk terus menjadi garda depan dalam menciptakan ruang-ruang ekspresi yang aman dan setara bagi seluruh anak Indonesia.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User