Menlu Indonesia dan Iran Bertukar Pandangan Soal Dinamika Geopolitik
Menteri Luar Negeri Republik Indonesia, Sugiono, dan Menteri Luar Negeri Iran, Seyyed Abbas Araghchi, menggelar pertemuan bilateral di Gedung Pancasila, Kementerian Luar Negeri, Jakarta, pada Selasa (...
Menteri Luar Negeri Republik Indonesia, Sugiono, dan Menteri Luar Negeri Iran, Seyyed Abbas Araghchi, menggelar pertemuan bilateral di Gedung Pancasila, Kementerian Luar Negeri, Jakarta, pada Selasa (25/3/2025). Pertemuan yang berlangsung selama hampir dua jam tersebut membahas eskalasi situasi keamanan di kawasan Timur Tengah, dinamika politik global, dan upaya penguatan hubungan bilateral kedua negara.
Dalam konferensi pers bersama usai pertemuan, Sugiono menegaskan bahwa Indonesia dan Iran memiliki tanggung jawab bersama sebagai bagian dari negara-negara yang menjunjung tinggi prinsip keadilan dan penghormatan terhadap hukum internasional. Pertemuan ini merupakan kunjungan resmi pertama Menteri Luar Negeri Iran ke Indonesia sejak Sugiono menjabat pada Oktober 2024.
Krisis Kemanusiaan di Palestina Jadi Perhatian Utama
Salah satu isu sentral yang mendominasi pembicaraan adalah situasi kemanusiaan di Jalur Gaza dan wilayah pendudukan Palestina lainnya. Sugiono menyampaikan keprihatinan mendalam atas meningkatnya korban jiwa warga sipil dan rusaknya infrastruktur publik akibat operasi militer yang terus berlangsung. Indonesia, melalui forum Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) dan Gerakan Non-Blok, telah berulang kali mendesak penghentian kekerasan dan pembukaan akses bantuan kemanusiaan tanpa hambatan.
"Pemerintah Indonesia tidak akan pernah berhenti menyuarakan dukungan bagi kemerdekaan Palestina. Kami konsisten mendorong solusi dua negara berdasarkan parameter internasional yang telah disepakati bersama,"ujar Sugiono. Sementara itu, Menlu Araghchi mengapresiasi posisi Indonesia yang tegas tersebut dan berharap Jakarta dapat memainkan peran lebih besar sebagai mediator perdamaian. Pertemuan mencatat bahwa total korban jiwa di Gaza telah melampaui 45.000 orang sejak Oktober 2023, menjadikannya krisis kemanusiaan terparah dalam dua dekade terakhir.
Peran Strategis Indonesia dalam Mendorong Diplomasi Multilateral
Selain konflik Palestina, kedua menlu juga bertukar pandangan mengenai dinamika geopolitik global yang semakin kompleks, termasuk rivalitas kekuatan besar di kawasan, ketegangan di Selat Hormuz, dan implikasinya terhadap stabilitas ekonomi dunia. Sugiono menggarisbawahi pentingnya penguatan mekanisme multilateralisme dan sentralitas ASEAN dalam menjaga perdamaian di kawasan Indo-Pasifik. Indonesia, sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, memiliki kapasitas unik untuk menjembatani kepentingan beragam pihak.
"Kami menyambut baik keterlibatan Indonesia dalam berbagai inisiatif regional. Teheran memandang Jakarta sebagai mitra strategis yang moderat dan berpengaruh, terutama dalam kerangka D-8 dan OKI,"ungkap Menlu Araghchi. Kedua pihak juga membahas pentingnya penyelesaian damai konflik di Yaman dan Suriah serta menindaklanjuti hasil Rapat Koordinasi Tingkat Menteri OKI yang digelar di Jeddah pada awal 2025.
Penguatan Kerja Sama Ekonomi, Energi, dan Teknologi
Di luar isu politik dan keamanan, pertemuan ini juga menghasilkan kesepakatan untuk mempercepat realisasi kerja sama di bidang energi, perdagangan, dan teknologi. Data yang dirilis Kementerian Perdagangan menunjukkan nilai perdagangan bilateral Indonesia-Iran sepanjang tahun 2024 mencapai USD 580 juta, meningkat sekitar 12 persen dibanding tahun sebelumnya. Kedua menteri sepakat menargetkan volume perdagangan menembus USD 1 miliar pada tahun 2027.
Sugiono secara khusus menyoroti peluang investasi Iran di sektor energi baru terbarukan dan pengembangan industri halal di Indonesia. Sementara itu, pihak Iran menyatakan minatnya untuk meningkatkan impor produk tekstil dan makanan olahan dari Indonesia. Dalam kaitan ini, kedua kementerian luar negeri akan memfasilitasi forum bisnis tingkat tinggi yang direncanakan berlangsung di Teheran pada semester kedua tahun 2025. Araghchi juga menyampaikan undangan resmi kepada Presiden Prabowo Subianto untuk melakukan kunjungan kenegaraan ke Iran, yang diharapkan dapat menjadi momentum penguatan hubungan diplomatik kedua negara yang telah terjalin sejak tahun 1950.
Pertemuan ditutup dengan penandatanganan nota kesepahaman tentang konsultasi bilateral rutin antara Kementerian Luar Negeri kedua negara, yang akan diselenggarakan setiap tahun secara bergilir di Jakarta dan Teheran. Hal ini menjadi langkah konkret dalam menindaklanjuti berbagai pembahasan dan keputusan yang dihasilkan pada pertemuan tersebut.
Baca juga:
Comments (0)