Mengapa Jumlah Penduduk Tak Jamin Negara Bisa Sukses Tembus Piala Dunia?

Jakarta - Sejumlah negara dengan populasi raksasa, termasuk Indonesia, terus menelan kegagalan dalam upaya menembus putaran final Piala Dunia. Ironi ini kembali mencuat setelah sederet negara berpend

Jul 08, 2026 - 04:50
0 0
Mengapa Jumlah Penduduk Tak Jamin Negara Bisa Sukses Tembus Piala Dunia?

Jakarta - Sejumlah negara dengan populasi raksasa, termasuk Indonesia, terus menelan kegagalan dalam upaya menembus putaran final Piala Dunia. Ironi ini kembali mencuat setelah sederet negara berpenduduk kecil justru mampu melaju ke panggung sepak bola paling bergengsi tersebut, sementara negara-negara berpenduduk ratusan juta jiwa hanya mampu menjadi penonton. Pertanyaannya, apa yang kurang dari mereka, dan langkah apa yang bisa diambil untuk mengubah nasib di lapangan hijau?

Fenomena ini bukan sekadar soal angka. Lihat saja India, yang dengan lebih dari 1,4 miliar penduduknya belum pernah sekali pun lolos ke Piala Dunia. Pakistan, Bangladesh, dan Indonesia—negara dengan populasi gabungan hampir 1,8 miliar jiwa—juga tak pernah mencicipi atmosfer turnamen empat tahunan tersebut. Sebaliknya, Uruguay yang hanya berpenduduk sekitar 3,4 juta jiwa justru dua kali menjuarai Piala Dunia, sementara Kroasia dengan kurang dari 4 juta penduduk berhasil menembus final pada 2018. Kontradiksi ini menegaskan bahwa jumlah penduduk bukanlah penentu keberhasilan di dunia sepak bola.

Menurut laporan Apaberita.com, para analis sepak bola menekankan bahwa kunci sebenarnya terletak pada rantai pembinaan yang terstruktur, bukan melulu pada kuantitas populasi.

Kejadian menarik terjadi pada 17 Juni lalu, ketika kericuhan penuh kegembiraan meletus di tengah lautan suporter yang memadati sebuah acara nonton bareng. Bintang Argentina, Lionel Messi, baru saja mencetak gol pertamanya di Piala Dunia FIFA 2026 ke gawang Aljazair. Anehnya, tidak ada satu pun warga Argentina di antara kerumunan yang bersorak itu. Momen ini menjadi cerminan betapa sepak bola telah menjadi fenomena global yang melampaui batas kewarganegaraan, namun ironisnya, di negara-negara berpenduduk besar seperti Indonesia, gairah luar biasa ini belum mampu diterjemahkan menjadi prestasi di kancah internasional.

Pembinaan dan Infrastruktur Jadi Penentu

Tim nasional Indonesia, yang didukung lebih dari 270 juta penduduk, terus berjuang di bawah arahan pelatih Patrick Kluivert. Meski begitu, jalan menuju Piala Dunia masih terjal. Para pengamat yang dihubungi Apaberita.com menyoroti minimnya kompetisi usia muda yang berkesinambungan, kurangnya fasilitas latihan berkualitas di daerah, serta tata kelola liga domestik yang kerap terganggu masalah non-teknis. Kroasia, sebagai perbandingan, memiliki pusat pelatihan nasional terpadu dan kurikulum pembinaan yang ketat sejak dini, sesuatu yang belum sepenuhnya diadopsi oleh negara-negara berpopulasi besar di Asia dan Afrika.

Selain itu, faktor budaya dan pendidikan jasmani turut berperan. Di negara-negara Skandinavia yang berpenduduk kecil namun sepak bolanya maju, olahraga sudah terintegrasi dalam sistem pendidikan formal. Anak-anak mendapat akses ke pelatih berlisensi dan kompetisi reguler sejak usia sekolah dasar. Sementara itu, di banyak negara berkembang dengan populasi besar, talenta muda sering kali mentah di jalanan tanpa sentuhan pembinaan profesional. Laporan Apaberita.com mencatat bahwa Indonesia saat ini mulai menjajaki kerja sama dengan sejumlah akademi Eropa untuk memperbaiki kurikulum pembinaan, namun hasilnya belum akan terlihat dalam waktu dekat.

Dengan demikian, jalan menuju Piala Dunia bagi negara berpenduduk besar bukanlah tentang menghitung jumlah penduduk, melainkan tentang membangun sistem yang mampu mengubah gairah menjadi prestasi. Selama fokus hanya tertuju pada hasil instan tanpa membenahi fondasi, mimpi tampil di panggung sepak bola dunia akan tetap menjadi angan-angan yang jauh.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
tania-sari

Reporter Teknologi. Reporter AI, gadget, startup, dan transformasi digital.

Comments (0)

User