Menekraf: Olahraga Gaya Hidup Pacu Ekonomi Kreatif

JAKARTA – Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Menekraf) Teuku Riefky Harsya menyatakan bahwa pendekatan olahraga modern yang mengintegrasikan gaya hidup aktif dan partisipasi publi...

Menekraf: Olahraga Gaya Hidup Pacu Ekonomi Kreatif

JAKARTA – Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Menekraf) Teuku Riefky Harsya menyatakan bahwa pendekatan olahraga modern yang mengintegrasikan gaya hidup aktif dan partisipasi publik terbukti menjadi katalis signifikan bagi pertumbuhan ekonomi kreatif nasional. Dalam pidatonya di Jakarta, Kamis (19/6), ia menguraikan sinergi antara gelaran olahraga dan geliat sektor kreatif yang kian memperkuat fondasi ekonomi kerakyatan.

Menekraf menekankan, era baru olahraga telah bergeser dari sekadar aktivitas fisik menjadi ekosistem bisnis yang lengkap. Mulai dari maraton komunitas, balap sepeda urban, hingga turnamen e-sports, seluruh kegiatan tersebut memicu gelombang konsumsi produk kreatif—dari merchandise, fesyen fungsional, konten digital, hingga kuliner lokal.

Pergeseran Paradigma: Olahraga Bukan Hanya Kompetisi

Riefky mengamati transformasi besar dalam cara masyarakat memaknai olahraga. “Kita tidak lagi membicarakan olahraga sebagai arena prestasi semata. Ia telah menjadi ruang ekspresi personal, ajang sosial, sekaligus etalase industri kreatif yang hidup. Setiap fun run, setiap car free day, adalah mesin penggerak ekonomi yang melibatkan desainer, fotografer, pelaku kuliner, hingga pengembang aplikasi,” tuturnya.

Menurut data yang dirujuk Kemenekraf, dampak langsung kegiatan olahraga terhadap ekonomi kreatif pada 2025 tercatat mencapai lebih dari Rp42 triliun, dengan kontribusi terbesar dari subsektor mode, kriya, dan kuliner. Angka itu diyakini akan terus bertambah seiring semakin maraknya event berbasis partisipasi publik.

Pemerintah, lanjut Riefky, kini memprioritaskan pengembangan infrastruktur pendukung seperti creative hub di kawasan sport center, revitalisasi ruang publik, dan digitalisasi akses pendaftaran event agar ekosistem ini tumbuh inklusif.

Dampak Berantai pada Usaha Mikro dan Kecil

Riefky merinci, efek domino dari satu acara olahraga berskala sedang—misalnya lomba lari dengan 10.000 peserta—mampu menciptakan ribuan jam kerja kreatif. “Desain jersey, produksi medali, dekorasi panggung, dokumentasi video, hingga penjualan produk UMKM di area race village adalah kepingan rantai nilai yang selama ini mungkin tidak terlihat di permukaan,” jelasnya.

Kemenekraf telah menghitung bahwa pada penyelenggaraan serangkaian city run di lima kota besar selama triwulan pertama 2026, omzet pelaku kreatif lokal melonjak rata-rata 34 persen. Subsektor fesyen olahraga, khususnya, mencatat kenaikan pasokan hingga 22 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya, yang sebagian besar diproduksi oleh industri konveksi skala rumahan.

Ia pun mendorong pemerintah daerah untuk mengintegrasikan kalender olahraga dengan strategi pengembangan ekonomi kreatif, sehingga setiap daerah memiliki ciri khas yang bisa diangkat, baik melalui batik edisi khusus lomba lari tematik maupun kemasan pangan khas yang disesuaikan dengan tren sehat.

Arah Strategis Kemenekraf

Untuk mengoptimalkan momentum ini, Kemenekraf tengah menyusun cetak biru National Sports-Creative Roadmap yang akan menyelaraskan program Kementerian Pemuda dan Olahraga, Kementerian Pariwisata, serta Kementerian Koperasi dan UKM. “Kita tidak lagi bekerja sendiri. Sinergi antarlembaga menjadi kunci agar setiap rupiah yang berputar di arena olahraga bisa sampai ke tangan pelaku kreatif,” tegas Riefky.

Selain itu, Kemenekraf berencana meningkatkan kapasitas sumber daya manusia melalui pelatihan khusus perancangan produk olahraga, manajemen event, dan pemasaran digital. Program percontohan akan diluncurkan di Bandung dan Yogyakarta pada September mendatang, melibatkan minimal 500 pelaku kreatif per kota.

Riefky menutup paparannya dengan optimisme. “Olahraga adalah panggung emosi yang menyatukan manusia. Di situlah letak kekuatannya sebagai lokomotif ekonomi kreatif. Jika kita mampu mengelola antusiasme publik, bukan tidak mungkin Indonesia menjadi rujukan global ekonomi kreatif berbasis gaya hidup sehat,” pungkasnya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User