Memilih Pangan Sehat: Sebuah Mitos di Tengah Keterbatasan?

Jakarta - Setiap hari, miliaran orang di dunia bergulat dengan pertanyaan yang tampak remeh namun sarat implikasi: "Apa yang akan kita santap hari ini?" Bagi sebagian kalangan, pertanyaan ini mungkin

Jul 08, 2026 - 05:10
0 0
Memilih Pangan Sehat: Sebuah Mitos di Tengah Keterbatasan?

Jakarta - Setiap hari, miliaran orang di dunia bergulat dengan pertanyaan yang tampak remeh namun sarat implikasi: "Apa yang akan kita santap hari ini?" Bagi sebagian kalangan, pertanyaan ini mungkin hanya soal selera. Namun bagi sebagian besar lainnya, pertanyaan itu menjelma menjadi dilema kompleks yang dibatasi oleh tebalnya dinding ekonomi. Pangan segar nan bergizi semakin menjelma menjadi komoditas mahal yang menjauh dari jangkauan, sementara produk ultra-proses yang murah dan minim nutrisi justru membanjiri setiap sudut permukiman dengan harga yang bersahabat di kantong.

Realitas pahit ini terkonfirmasi melalui laporan terbaru The State of Food Security and Nutrition in the World (SOFI) 2025. Data yang berhasil dihimpun oleh media kami menunjukkan sebuah potret ketimpangan yang mengkhawatirkan: sekitar 43,5 persen penduduk Indonesia dinyatakan tidak memiliki kemampuan finansial untuk membeli pangan sehat. Bukan lantaran mereka tidak ingin hidup lebih bugar atau tidak paham akan pentingnya gizi seimbang. Namun, akses yang terbatas serta harga per kalori yang relatif lebih tinggi untuk pangan segar telah menjadi tembok kokoh yang menghalangi langkah mereka menuju hidup yang lebih berkualitas.

Dalam situasi seperti ini, menuding seseorang karena "salah memilih makanan" bukan hanya naif, melainkan juga bentuk ketidakadilan sosial yang terlampau disederhanakan.

Pilihan makanan yang kita anggap sebagai cerminan preferensi personal sejatinya adalah ilusi yang telah lama kita yakini. Faktanya, apa yang masuk ke dalam piring kita tidak sepenuhnya ditentukan oleh keinginan lidah atau kesadaran individu. Ada sebuah "arsitektur lingkungan pangan" yang bekerja secara senyap namun sistematis dalam membentuk keputusan kita sehari-hari. Arsitektur ini mencakup berbagai dimensi: bagaimana makanan disediakan oleh sistem distribusi, berapa harga yang dibanderol, di mana titik penjualan itu ditempatkan secara geografis, hingga pesan persuasif apa yang terus-menerus dihujamkan lewat iklan dan kemasan produk yang menarik.

Sistem yang tercipta dari arsitektur tersebut begitu kuat membentuk konteks sosial dan ekonomi. Ketika gempuran iklan produk cepat saji jauh lebih masif dibandingkan kampanye konsumsi sayur dan buah, ketika makanan kemasan berkalori tinggi lebih mudah ditemukan di lingkungan tempat tinggal dibandingkan pasar yang menjual bahan segar, maka di situlah pilihan masyarakat mulai dikonstruksi secara tidak sadar. Mengasumsikan bahwa setiap orang memiliki kebebasan dan keleluasaan yang setara dalam memilih makanan adalah sebuah mitos yang justru turut melanggengkan rantai ketidakadilan struktural.

Oleh karena itu, apabila kita serius ingin membenahi pola konsumsi masyarakat dan menekan laju penyakit tidak menular yang dipicu oleh pola makan buruk, pendekatan yang digunakan tidak boleh lagi sebatas menggurui individu lewat edukasi gizi semata. Pendekatan personal itu penting, namun tidak akan pernah cukup. Intervensi fundamental harus diarahkan untuk membongkar dan merombak ulang arsitektur lingkungan pangan yang ada. Memastikan pangan sehat hadir dengan harga terjangkau di setiap lapisan masyarakat, mengendalikan ekspansi produk ultra-proses, serta menciptakan ekosistem yang memudahkan pilihan sehat adalah langkah konkret yang jauh lebih berkeadilan. Pada akhirnya, akses terhadap pangan sehat bukan sekadar urusan piring dan selera, melainkan cermin dari keadilan sosial yang harus diperjuangkan bersama.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
putri-anggraini

Fact Checker. Memverifikasi klaim publik dan informasi viral.

Comments (0)

User