New York — Wall Street Melonjak Dipicu Data Inflasi AS Melandai

Lantai Bursa Efek New York (NYSE) bergairah pada perdagangan Rabu (10/8/2022) waktu setempat setelah rilis data inflasi Amerika Serikat periode Juli 2022 y

Jul 08, 2026 - 23:47
0 0
New York — Wall Street Melonjak Dipicu Data Inflasi AS Melandai

Lantai Bursa Efek New York (NYSE) bergairah pada perdagangan Rabu (10/8/2022) waktu setempat setelah rilis data inflasi Amerika Serikat periode Juli 2022 yang menunjukkan pelandaian lebih tajam dari perkiraan. Indeks harga konsumen (CPI) inti tahunan tercatat 8,5%, turun dari 9,1% pada Juni dan di bawah konsensus pasar sebesar 8,7%. Sentimen positif langsung membakar aksi beli, mendorong tiga indeks utama Wall Street menghijau signifikan. Pedagang yang sebelumnya waswas terhadap kenaikan suku bunga agresif Federal Reserve mulai mengakumulasi saham teknologi dan siklikal, menciptakan reli terbesar dalam dua pekan terakhir.

Dow Jones Industrial Average (DJIA) ditutup melesat 535 poin atau 1,63% ke level 33.309,51. S&P 500 menguat 2,13% ke 4.210,24, sementara Nasdaq Composite yang sarat saham teknologi melonjak 2,89% menjadi 12.854,80. Volume transaksi mencapai 11,8 miliar saham, di atas rata-rata harian 10,9 miliar saham. Sektor energi dan teknologi informasi memimpin kenaikan dengan masing-masing bertambah 3,2% dan 3,1%, menurut data FactSet. Semua 11 sektor S&P 500 berhasil mengakhiri sesi di zona positif, fenomena broad-based rally yang belum terjadi sejak awal Agustus.

Sentimen juga ditopang oleh penurunan ekspektasi inflasi jangka pendek konsumen yang dirilis oleh Federal Reserve Bank of New York. Survei menunjukkan ekspektasi inflasi satu tahun ke depan turun menjadi 6,2% dari sebelumnya 6,8%, level terendah dalam empat bulan. Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) yang bergerak di bawah US$90 per barel turut meredam kecemasan tekanan biaya energi. Obligasi pemerintah AS bertenor 10 tahun sempat terangkat ke 2,79% sebelum kembali ke 2,74%, mencerminkan tarik-menarik antara optimisme inflasi mereda dan kehati-hatian terhadap jalur kebijakan The Fed.

Analisis Sektor dan Data Inflasi

Rilis CPI menjadi katalis utama pergerakan karena mengindikasikan bahwa efek kenaikan suku bunga The Fed sebesar 225 basis poin sepanjang tahun 2022 mulai termaterialisasi. Indeks harga konsumen bulanan Juli tidak mengalami perubahan (0,0%) setelah naik 1,3% pada Juni, terutama didorong penurunan harga bensin sebesar 7,7% month-to-month. Harga makanan masih naik 1,1% secara bulanan, namun laju kenaikan melambat. “Data ini adalah sinyal pertama yang meyakinkan bahwa inflasi mungkin telah mencapai puncaknya. Pasar sedang menghitung ulang probabilitas kenaikan 75 bps pada September,” ujar Quincy Krosby, kepala strategi pasar LPL Financial, dalam catatan analisisnya.

Perbandingan Indeks Wall Street – 10 Agustus 2022
IndeksPenutupanPerubahan (Poin)Perubahan (%)
Dow Jones33.309,51+535,10+1,63
S&P 5004.210,24+87,77+2,13
Nasdaq12.854,80+360,88+2,89

Pergeseran probabilitas kenaikan suku bunga langsung tercermin di FedWatch Tool CME. Sehari sebelum data CPI, probabilitas kenaikan 75 basis poin pada rapat FOMC 21 September berada di 68%. Setelah rilis, angka itu turun menjadi 39%, sementara peluang kenaikan 50 basis poin naik dari 32% menjadi 61%. Ekspektasi terminal rate Fed funds untuk akhir 2022 juga turun dari kisaran 3,75%-4,00% menjadi 3,50%-3,75%. Efek domino ini mendorong pelemahan indeks dolar AS (DXY) ke 105,2, level terendah dalam sepekan, dan memberi nafas pada mata uang emerging market.

Secara teknikal, penutupan S&P 500 di atas level psikologis 4.200 dianggap penting oleh analis teknikal karena berhasil menembus resistance yang terbentuk sejak akhir Juli. Namun, beberapa pengamat mengingatkan agar tidak terbawa euforia. “Kita masih berada di era inflasi tinggi secara historis. Satu data tidak mengubah narasi besar bahwa The Fed harus menjaga suku bunga restriktif setidaknya hingga akhir 2023,” kata Chris Zaccarelli, chief investment officer Independent Advisor Alliance. Indikator volatilitas VIX turun 9,5% ke 19,7, menandakan berkurangnya ketakutan pasar dalam jangka pendek.

Konteks Kebijakan dan Prospek Pasar

Reli juga terjadi di tengah ekspektasi bahwa Kongres AS akan mengesahkan paket belanja iklim dan kesehatan senilai US$430 miliar, yang berpotensi menggenjot laba korporasi sektor energi bersih dan farmasi. Saham Tesla melonjak 5,2%, sementara Apple dan Microsoft masing-masing naik 2,6% dan 2,3%. Bank-bank besar seperti JPMorgan Chase dan Goldman Sachs ikut menguat sekitar 2% sejalan dengan harapan bahwa ekonomi AS masih bisa menghindari resesi berat. Namun, sentimen itu rapuh mengingat yield curve obligasi 2-10 tahun masih inverted di minus 44 basis poin, yang secara historis adalah sinyal resesi 12-18 bulan mendatang.

Pidato Gubernur The Fed Jerome Powell pada simposium Jackson Hole akhir Agustus diperkirakan akan menjadi pengarah kebijakan berikutnya. Hingga saat itu, pasar akan terus memantau data ekonomi lanjutan, termasuk klaim pengangguran mingguan dan indeks manufaktur Empire State. Reli 10 Agustus setidaknya memberi jeda bagi investor setelah S&P 500 sempat menyentuh level terendah 3.636 pada Juni lalu, mengingatkan bahwa volatilitas masih tinggi dan diversifikasi tetap menjadi kunci strategi portofolio di sisa tahun 2022.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User