Megawati Terima Dubes Korsel dan UEA, Bahas Upaya Perdamaian Kawasan
Jakarta, Senin (13/7/2026) — Presiden ke-5 Republik Indonesia sekaligus Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri menerima kunjungan kehormatan dua duta besar secara terpisah di kediamannya, ...
Jakarta, Senin (13/7/2026) — Presiden ke-5 Republik Indonesia sekaligus Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri menerima kunjungan kehormatan dua duta besar secara terpisah di kediamannya, Menteng, Jakarta Pusat. Duta Besar Korea Selatan untuk Indonesia Yoon Soon-gu dan Duta Besar Uni Emirat Arab (UEA) Abdulla Salem Obaid Al Dhaheri hadir dalam agenda diplomatik yang menyoroti situasi keamanan Semenanjung Korea serta dinamika Timur Tengah. Pertemuan ini menegaskan posisi Megawati sebagai tokoh nasional yang terus diperhitungkan dalam upaya menjembatani dialog perdamaian di tingkat regional.
Dialog Tanpa Prasyarat untuk Semenanjung Korea
Dalam pertemuan dengan Dubes Yoon Soon-gu, Megawati didampingi oleh putranya sekaligus Ketua DPP PDI Perjuangan M. Prananda Prabowo, Ketua DPP bidang Kemaritiman Rokhmin Dahuri, serta Wakil Sekretaris Jenderal DPP Ahmad Basarah. Suasana kekeluargaan terasa ketika Yoon menyampaikan apresiasi atas sambutan di rumah bersejarah yang sarat dengan jejak perjuangan Presiden Soekarno.
“Saya terhormat dapat bertemu langsung dengan Ibu Megawati di ruangan yang merekam napas sejarah bangsa Indonesia. Di sini saya melihat banyak foto Bung Karno dan jejak perjalanan Ibu,”
ungkap Yoon mengawali diskusi.
Pembicaraan bergerak mendalam ke isu Semenanjung Korea. Dubes Yoon menyebut Megawati memiliki modal diplomatik yang langka karena kedekatan dan pengalaman langsung dengan Korea Selatan maupun Korea Utara. Menurutnya, figur Megawati dapat menjadi perantara strategis yang mendorong kedua negara duduk di meja perundingan damai.
“Ibu Mega punya pengalaman, keahlian, serta hubungan baik dengan Korea Utara dan Korea Selatan. Itu menjadi modal penting sebagai jembatan dialog damai tanpa syarat apa pun,”
tegas Yoon. Ia menekankan bahwa langkah paling krusial saat ini adalah membuka komunikasi dengan Pyongyang tanpa menetapkan prasyarat, sebuah pendekatan yang sejalan dengan semangat keterbukaan.
Menanggapi itu, Megawati menceritakan perannya sebagai utusan khusus perdamaian pada era Presiden Kim Dae Jung. Ia mengenang usulan konkret yang pernah ia sampaikan, yakni menginisiasi pertemuan dan reuni antarkeluarga yang terpisah akibat pembelahan Korea di garis demarkasi Pamunjon. Pengalaman tersebut menunjukkan komitmen panjang Megawati terhadap rekonsiliasi Semenanjung Korea. Megawati juga menegaskan bahwa pendekatan kemanusiaan harus menjadi pijakan utama sebelum negosiasi politik formal digelar, karena penderitaan rakyat yang terbelah adalah luka yang tak boleh diabaikan.
Merespon Ketegangan Timur Tengah
Seusai menerima Dubes Korea Selatan, Megawati melanjutkan pertemuan dengan Dubes UEA Abdulla Salem Obaid Al Dhaheri. Agenda utama adalah perkembangan keamanan di Timur Tengah dan penguatan kerja sama bilateral Indonesia-UEA. Al Dhaheri menyampaikan pandangan Abu Dhabi terhadap eskalasi geopolitik di kawasan, sembari menekankan pentingnya stabilitas bagi kelangsungan hubungan ekonomi dan perdagangan kedua negara.
Megawati menyatakan keprihatinan mendalam atas konflik berkepanjangan yang berdampak pada krisis kemanusiaan. Ia mengapresiasi langkah diplomatik UEA yang aktif mencari solusi damai melalui jalur multilateral, serta mendorong agar Indonesia dan UEA semakin mempererat koordinasi dalam mendorong perdamaian. Di tengah pembicaraan, Megawati juga menekankan pentingnya solidaritas global untuk menangani akar masalah ketidakstabilan, termasuk persoalan kemerdekaan Palestina yang tetap menjadi perhatian serius.
“Perdamaian di Timur Tengah tidak bisa dilepaskan dari penyelesaian yang adil terhadap hak-hak rakyat Palestina. Indonesia dan UEA memiliki posisi moral untuk terus menyuarakan hal ini,”
ujar Megawati, menegaskan konsistensi sikap politik luar negeri Indonesia.
Pertemuan dengan Al Dhaheri juga menyentuh potensi investasi dan kerja sama energi bersih, sejalan dengan agenda transformasi ekonomi kedua negara. Dubes UEA menyebut bahwa stabilitas kawasan menjadi prasyarat mutlak bagi kemitraan jangka panjang, dan ia menilai peran tokoh seperti Megawati dalam membangun saling pengertian antarnegara sangat relevan.
Nilai Strategis Diplomasi Tokoh Bangsa
Kedua kunjungan yang berlangsung di rumah pribadi Megawati di Menteng itu bukan sekadar seremoni protokoler. Rumah tersebut sering menjadi ruang perbincangan pemikiran strategis, melanjutkan tradisi diplomatik era Presiden Soekarno. Dubes Yoon secara khusus menyoroti nilai historis tempat itu, yang mempertemukan masa lalu dan masa depan diplomasi Indonesia.
Keterlibatan aktif Megawati dalam isu-isu global memperlihatkan bahwa kapasitas diplomatik Indonesia tidak hanya bertumpu pada pemerintah, tetapi juga pada jaringan dan kredibilitas pribadi para pemimpinnya. Pengalaman menjadi presiden dan kedekatan emosional dengan sejumlah pemimpin dunia membuat Megawati kerap menjadi rujukan informal dalam perbincangan perdamaian. Pertemuan dengan dua duta besar ini semakin mengukuhkan peran tersebut di tengah situasi global yang penuh ketidakpastian.
Melalui dialog hari itu, Megawati kembali menegaskan bahwa Indonesia akan selalu terbuka menjadi bagian dari solusi, dengan mengedepankan prinsip bebas aktif dan rasa kemanusiaan. Kediamannya di Menteng pun, setidaknya pada Senin yang bersejarah itu, kembali menjadi saksi bisik-bisik diplomasi yang menjangkau kedua ujung benua.
Baca juga:
Comments (0)