Megawati Tabur Bunga di Monumen Kudatuli, Doakan Korban Tragedi
Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarnoputri memimpin langsung prosesi tabur bunga di Monumen Perjuangan Rakyat Kudatuli, Jakarta Pusat, Senin (27/7/2026). Upacara kh...
Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarnoputri memimpin langsung prosesi tabur bunga di Monumen Perjuangan Rakyat Kudatuli, Jakarta Pusat, Senin (27/7/2026). Upacara khidmat tersebut digelar untuk memperingati tiga dekade peristiwa penyerbuan Kantor Dewan Pimpinan Pusat PDI di Jalan Diponegoro Nomor 58 yang menewaskan sejumlah kader dan simpatisan partai.
Ribuan Kader Padati Lokasi Peringatan
Sejak pagi, lebih dari tiga ribu kader PDIP dari berbagai daerah telah memadati area sekitar monumen yang terletak di Kompleks Taman Ismail Marzuki. Mereka mengenakan seragam partai berwarna merah lengkap dengan atribut resmi. Pengamanan dari Kepolisian Resor Metro Jakarta Pusat diterjunkan sebanyak 850 personel untuk mengawal jalannya acara. Arus lalu lintas di sekitar Jalan Cikini Raya dan Jalan Diponegoro dialihkan mulai pukul 06.00 WIB hingga prosesi selesai.
Megawati tiba di lokasi pada pukul 08.15 WIB dengan pengawalan ketat Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres) mengingat statusnya sebagai presiden kelima Republik Indonesia. Ia didampingi oleh Ketua DPP PDIP Puan Maharani, Sekretaris Jenderal Hasto Kristiyanto, serta sejumlah tokoh senior partai seperti Djarot Saiful Hidayat dan Olly Dondokambey. Kehadiran para petinggi partai berlambang banteng moncong putih itu menandakan bobot historis peringatan ini.
Prosesi Tabur Bunga dan Doa Lintas Agama
Prosesi dimulai dengan mengheningkan cipta selama 60 detik yang dipimpin langsung oleh Megawati. Seluruh peserta menundukkan kepala sebagai bentuk penghormatan kepada para korban. Setelah itu, Megawati melangkah menuju monumen utama dan menaburkan aneka bunga—mawar merah, putih, melati, dan sedap malam—ke atas prasasti bertuliskan nama-nama korban. Tampak raut wajah haru sekaligus tegar dari putri Proklamator Bung Karno tersebut.
Doa lintas agama kemudian dipanjatkan secara bergantian oleh enam pemuka agama. Dimulai dari Romo Antonius Suyono dari Keuskupan Agung Jakarta yang memimpin doa Katolik, dilanjutkan oleh Pendeta Henriette Lebang dari Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia, lalu perwakilan Majelis Ulama Indonesia, Parisada Hindu Dharma Indonesia, Perwakilan Umat Buddha Indonesia, dan Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia. Rangkaian doa berlangsung selama sekitar 25 menit.
Pernyataan Tegas Megawati Soekarnoputri
Dalam pidato singkatnya setelah prosesi, Megawati menyampaikan refleksi mendalam mengenai arti penting peristiwa 27 Juli 1996. "Hari ini, tepat 30 tahun, kita berkumpul bukan untuk membangkitkan luka lama. Kita berkumpul untuk menegaskan bahwa demokrasi di republik ini dibangun di atas darah dan air mata para pejuang. Mereka yang gugur di Kudatuli adalah syuhada demokrasi Indonesia," tegas Megawati di hadapan massa yang menyambut dengan tepuk tangan membahana.
Megawati juga menyinggung konteks sejarah yang melatarbelakangi penyerbuan tersebut. Menurutnya, peristiwa Kudatuli merupakan upaya sistematis untuk membungkam kekuatan politik oposisi yang sah. Ia menekankan bahwa bangsa Indonesia tidak boleh melupakan sejarah kelam tersebut sebagai pelajaran berharga. "Melupakan sejarah berarti mengkhianati masa depan. Maka dari itu, setiap 27 Juli kita wajib hadir di sini, bukan sekadar seremonial, melainkan sebagai komitmen moral untuk terus menjaga demokrasi," ucapnya dengan suara bergetar.
Lebih lanjut, presiden kelima Republik Indonesia itu mendesak agar proses hukum bagi aktor intelektual di balik tragedi Kudatuli terus diupayakan. "Saya masih menunggu keadilan itu datang. Keluarga korban masih menunggu. Rakyat Indonesia masih menunggu. Negara tidak boleh berhenti mencari kebenaran," tandas Megawati. Pernyataan ini merujuk pada rekomendasi Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) yang hingga kini belum sepenuhnya ditindaklanjuti oleh aparat penegak hukum.
Kesaksian dan Harapan Keluarga Korban
Di antara ribuan peserta yang hadir, terlihat sejumlah anggota keluarga korban yang sengaja datang dari berbagai daerah. Mereka duduk di barisan terdepan yang telah disediakan khusus oleh panitia. Beberapa di antaranya tak kuasa menahan tangis saat nama-nama korban dibacakan satu per satu oleh pembawa acara.
Rustam (68), salah satu keluarga korban asal Tegal, Jawa Tengah, mengungkapkan harapannya agar tragedi serupa tidak pernah terulang. "Ini peringatan bagi seluruh anak bangsa. Jangan sampai ada lagi yang kehilangan ayah, suami, atau saudara hanya karena perbedaan pilihan politik," ucapnya lirih. Rustam kehilangan kakak kandungnya, seorang aktivis PDI, dalam insiden tersebut.
Sebagai informasi, Tragedi Kudatuli merupakan peristiwa penyerbuan Kantor DPP PDI pada 27 Juli 1996 oleh sekelompok massa yang diduga dibekingi aparat keamanan. Peristiwa tersebut menewaskan sedikitnya lima orang dan melukai puluhan lainnya. Gedung DPP PDI saat itu dibakar dan dirusak. Peristiwa ini menjadi salah satu titik penting dalam sejarah politik Indonesia yang berujung pada gelombang reformasi 1998.
Rangkaian Acara Berlanjut Hingga Malam
Peringatan 30 tahun Tragedi Kudatuli tidak hanya berisi prosesi tabur bunga dan doa. Panitia telah menyiapkan rangkaian acara yang berlangsung hingga malam hari. Mulai pukul 14.00 WIB, digelar diskusi publik bertajuk "Mengawal Demokrasi Pasca-30 Tahun Kudatuli" yang menghadirkan sejarawan Bonnie Triyana, aktivis HAM Haris Azhar, serta pakar hukum tata negara Refly Harun. Diskusi tersebut membedah akar historis peristiwa dan relevansinya bagi kondisi demokrasi Indonesia kontemporer.
Puncak acara pada malam harinya adalah pagelaran seni budaya yang menampilkan pembacaan puisi oleh W.S. Rendra (almarhum) yang diputar melalui rekaman arsip, serta pertunjukan teaterikal oleh Bengkel Teater pimpinan almarhum Rendra. Selain itu, peluncuran buku "Kudatuli: Saksi Bisu Perjuangan Demokrasi" yang ditulis oleh tim peneliti PDIP juga menjadi bagian dari rangkaian peringatan.
Usai seluruh prosesi, Megawati bersama rombongan meninggalkan lokasi pada pukul 10.35 WIB. Ia menyempatkan diri menyapa para kader dan keluarga korban, berjabat tangan, serta berfoto bersama. "Sampai jumpa tahun depan. Perjuangan belum selesai," demikian pesan singkat Megawati sebelum memasuki kendaraan dinasnya. Para kader membalas dengan yel-yel khas PDIP sebagai simbol soliditas dan militansi yang tetap terjaga.
Comments (0)