Megawati Soroti Relevansi Asia Afrika di Tengah Gejolak Geopolitik

Jakarta — Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri menegaskan prinsip Dasasila Bandung dan semangat Gerakan Asia Afrika kian relevan untuk merespons krisis geopolitik global yang semakin mem...

Megawati Soroti Relevansi Asia Afrika di Tengah Gejolak Geopolitik

Jakarta — Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri menegaskan prinsip Dasasila Bandung dan semangat Gerakan Asia Afrika kian relevan untuk merespons krisis geopolitik global yang semakin memanas. Pernyataan tersebut disampaikan Megawati dalam seminar bertajuk “Relevansi Gerakan Asia Afrika dalam Krisis Geopolitik Saat Ini” di Sekolah Partai, Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Rabu (22/5/2024).

Seminar itu dihadiri oleh jajaran pengurus DPP PDIP, kader partai, sejumlah akademisi, serta perwakilan komunitas internasional yang tengah berada di Jakarta. Megawati yang juga menjabat sebagai Presiden ke-5 Republik Indonesia hadir sebagai pembicara utama dan menyampaikan pandangan strategis mengenai posisi Indonesia dalam percaturan politik global.

Relevansi Dasasila Bandung

Megawati mengingatkan bahwa Konferensi Asia Afrika yang melahirkan Dasasila Bandung pada 1955 merupakan tonggak penting dalam sejarah perjuangan negara-negara berkembang melawan kolonialisme dan imperialisme. Ia menekankan, nilai-nilai seperti penghormatan terhadap kedaulatan, non-intervensi, dan penyelesaian sengketa secara damai merupakan fondasi yang tidak boleh ditinggalkan.

“Prinsip-prinsip yang disepakati di Bandung hampir 70 tahun lalu itu bukan sekadar catatan sejarah. Ia adalah kompas moral bagi negara-negara Asia Afrika untuk menghadapi dunia yang kian retak oleh egoisme kekuatan besar,”

ujar Megawati.

Tantangan Krisis Geopolitik Kontemporer

Dalam paparannya, Megawati menguraikan sejumlah tantangan geopolitik yang mendesak, mulai dari perang di Ukraina, eskalasi konflik di Timur Tengah pasca-invasi Israel ke Gaza, hingga rivalitas antara Amerika Serikat dan Tiongkok yang memecah belah kawasan. Ia menyebut fenomena ini sebagai “kemunduran serius multilateralisme” yang menjauhkan dunia dari cita-cita perdamaian.

“Lembaga-lembaga internasional yang dibangun dengan susah payah setelah Perang Dunia Kedua kini kehilangan taring karena negara-negara besar lebih memilih unilateralisme dan pendekatan kekuatan. Dalam situasi ini, negara-negara Selatan Global harus bersatu kembali seperti yang dirintis para pendiri Gerakan Non-Blok,” tegasnya.

Megawati mencontohkan, konflik di Ukraina dan Gaza telah memakan korban jiwa puluhan ribu orang dan memicu krisis pangan serta energi di berbagai belahan dunia. Sementara itu, persaingan antara Washington dan Beijing memicu fragmentasi rantai pasok global yang memukul negara-negara berkembang paling keras. “Ini bukti bahwa dunia gagal belajar dari sejarah. Kita mengulangi pola konflik yang sama, hanya dengan senjata yang lebih canggih,” sesalnya.

Peran Strategis Indonesia

Megawati juga menyoroti peran Indonesia yang diamanatkan konstitusi untuk ikut serta dalam menjaga perdamaian dunia. Ia mengingatkan bahwa politik luar negeri bebas aktif yang digariskan sejak era Presiden Soekarno bukan sekadar slogan, melainkan doktrin yang harus dijalankan secara konsisten. Menurutnya, Indonesia harus berani tampil sebagai penengah yang kredibel di tengah polarisasi global.

“Indonesia tidak boleh menjadi penonton di rumahnya sendiri. Kita punya warisan diplomatik yang luar biasa: Konferensi Asia Afrika, Gerakan Non-Blok, bahkan Deklarasi Djuanda. Semua itu lahir dari keberanian untuk mendefinisikan diri sebagai bangsa yang merdeka penuh, termasuk dalam menentukan sikap terhadap isu-isu global,” ujar Megawati.

Megawati juga menekankan pentingnya konsolidasi di antara negara-negara anggota Gerakan Non-Blok yang kini berjumlah 120 negara. Ia menyayangkan rendahnya intensitas pertemuan puncak GNB dalam satu dekade terakhir. “Sudah waktunya Indonesia, sebagai salah satu pendiri GNB, menginisiasi kembali forum-forum tingkat tinggi untuk merespons krisis global dengan suara yang bulat,” tandasnya.

Respons Positif dari Akademisi

Sejumlah akademisi yang hadir dalam seminar itu menyambut baik paparan Megawati. Guru Besar Hubungan Internasional Universitas Indonesia, Prof. Dr. Riza Noer Arfani, yang turut menjadi panelis, menilai bahwa perspektif yang disampaikan Megawati sangat kontekstual dengan kondisi dunia saat ini. “Apa yang disampaikan Ibu Mega mengingatkan kita bahwa Indonesia memiliki modal historis yang besar untuk memainkan peran global yang lebih signifikan. Sayangnya, dalam beberapa periode terakhir, peran itu cenderung redup,” ujar Riza.

Seminar ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan konsolidasi ideologis yang digelar PDI Perjuangan menjelang tahun politik. Beberapa peserta menyatakan bahwa paparan Megawati memberikan perspektif historis yang jarang dibahas dalam diskusi politik kontemporer. Sejumlah akademisi yang hadir juga mengapresiasi dorongan agar partai politik turut memikirkan isu-isu strategis di luar kepentingan elektoral semata.

Klaim atas Warisan Bung Karno

Dalam beberapa kesempatan, Megawati kerap menegaskan bahwa PDI Perjuangan adalah partai yang paling konsisten merawat api pemikiran Bung Karno. Seminar ini pun menjadi medium bagi partai berlambang banteng moncong putih itu untuk meneguhkan posisi ideologisnya di tengah persaingan politik nasional yang semakin kompetitif.

“Kami tidak akan pernah lelah menyuarakan bahwa dunia yang adil dan damai hanya bisa terwujud jika negara-negara yang pernah dijajah bangkit dan menolak segala bentuk neo-kolonialisme. Itu adalah perjuangan yang belum selesai,” pungkas Megawati.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User