Megawati Serukan Kebangkitan Asia-Afrika Hadapi Geopolitik Baru

Jakarta Selatan, 15 Maret 2025 — Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat PDI Perjuangan sekaligus Presiden Kelima Republik Indonesia, Megawati Soekarnoputri, menegaskan urgensi solidaritas negara-negara Asi...

Megawati Serukan Kebangkitan Asia-Afrika Hadapi Geopolitik Baru

Jakarta Selatan, 15 Maret 2025 — Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat PDI Perjuangan sekaligus Presiden Kelima Republik Indonesia, Megawati Soekarnoputri, menegaskan urgensi solidaritas negara-negara Asia dan Afrika dalam merespons krisis geopolitik global yang semakin kompleks. Penegasan itu disampaikan dalam seminar bertajuk “Relevansi Gerakan Asia Afrika dalam Krisis Geopolitik Saat Ini” di Sekolah Partai PDI Perjuangan, Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Sabtu (15/3).

Panggilan Sejarah di tengah Fragmentasi Global

Megawati menyatakan bahwa konstelasi dunia saat ini menunjukkan fragmen-fragmen konflik baru, mulai dari perang dagang antarnegara adidaya, ketegangan di kawasan Indo-Pasifik, hingga krisis pangan dan energi yang membebani negara-negara berkembang. Dalam pandangannya, spirit Konferensi Asia Afrika (KAA) 1955 yang digagas oleh Presiden Soekarno bersama para pemimpin negara lainnya harus dihidupkan kembali sebagai landasan diplomasi alternatif di luar blok-blok kekuatan besar.

“Kita menyaksikan dunia kembali terpolarisasi. Solidaritas Asia-Afrika bukan sekadar romantisme sejarah. Ini adalah kebutuhan strategis agar suara kami tidak ditenggelamkan oleh negara-negara maju yang sedang berebut pengaruh,” tegas Megawati di hadapan ratusan peserta seminar yang terdiri dari kader partai, akademisi, dan diplomat.

Menindaklanjuti Amanat KAA Lewat Kebijakan Nasional

Megawati mendorong pemerintah untuk menindaklanjuti prinsip-prinsip Dasasila Bandung melalui kebijakan luar negeri yang bebas aktif dan berorientasi pada kepentingan nasional serta solidaritas selatan-selatan. Ia mengingatkan bahwa dalam rapat-rapat pleno Perserikatan Bangsa-Bangsa, negara-negara berkembang kerap tersudut apabila tidak membangun koalisi lintas kawasan yang kokoh. Berdasarkan Undang-Undang Dasar 1945, Indonesia memiliki mandat konstitusional untuk ikut serta menciptakan perdamaian dunia dan melawan segala bentuk imperialisme.

“Saya sudah menyampaikan kepada fraksi-fraksi di parlemen agar isu ini menjadi perhatian bersama. Tidak boleh ada kebijakan pemerintah yang mengorbankan kepentingan rakyat demi tekanan dari negara manapun,” tambahnya.

Mewaspadai Perang Dingin Baru

Megawati secara khusus menyoroti fenomena yang ia sebut sebagai “perang dingin baru” antara kekuatan besar yang mengancam stabilitas kawasan. Ia menyatakan bahwa negara-negara Asia Tenggara tidak boleh menjadi ajang proksi bagi kepentingan asing. Menurutnya, keputusan-keputusan strategis ASEAN harus tetap berpegang pada prinsip sentralitas dan non-intervensi sebagaimana dianut sejak KAA. Berdasarkan kajian yang dilakukan oleh Dewan Keamanan Nasional, ketegangan di Laut China Selatan dan aliansi militer baru di kawasan menjadi ancaman serius yang harus diantisipasi bersama.

“Kami di Fraksi PDI Perjuangan sudah membahas ini dalam rapat internal. Kami akan terus mengawal kebijakan luar negeri agar tidak melenceng dari kepentingan nasional,” ujar Megawati.

Pentingnya Diplomasi Rakyat dan Pendidikan Politik

Seminar yang diselenggarakan di Sekolah Partai itu juga menjadi ajang peluncuran program pendidikan politik bagi kader muda PDIP tentang geopolitik dan hubungan internasional. Megawati menekankan bahwa pengkaderan semacam ini adalah bagian dari upaya menindaklanjuti keputusan Rapat Kerja Nasional V Partai pada tahun lalu. Sekretaris Jenderal DPP PDIP, Hasto Kristiyanto, yang turut hadir, menyatakan bahwa partai siap menggelar serangkaian diskusi serupa di seluruh Indonesia guna menyosialisasikan kembali semangat KAA.

Lebih lanjut, Megawati mengumumkan bahwa Sekolah Partai akan menyusun modul khusus tentang sejarah Gerakan Non-Blok dan diplomasi Soekarno. Modul ini rencananya akan disahkan sebagai bahan ajar wajib bagi kader dan disebarluaskan melalui platform digital. Ia juga meminta kepada Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk menggandeng partai dalam mengkaji dampak geopolitik bagi ekonomi kerakyatan. Keputusan ini, kata Megawati, diambil dalam Rapat Koordinasi tingkat pusat yang mempertemukan para pengurus harian partai.

Kerja Sama Konkret di Tengah Geopolitik Baru

Megawati juga mengungkapkan perlunya inisiatif konkret di bidang ekonomi dan teknologi. Ia mencontohkan pembentukan bank bersama Asia-Afrika, penguatan rantai pasok pangan regional, dan kemandirian energi terbarukan. Menurutnya, pada Rapat Koordinasi dengan sejumlah duta besar negara sahabat yang digelar akhir pekan lalu, ia telah menyampaikan gagasan tersebut. “Relevansi Gerakan Asia Afrika terletak pada kemampuannya beradaptasi dengan isu-isu kontemporer. Kita harus bicara tentang keadilan digital, akses vaksin, dan utang yang menjerat negara miskin,” papar Megawati.

Seminar tersebut dihadiri oleh lebih dari 300 peserta, termasuk perwakilan kedutaan besar negara-negara Afrika dan Asia Tenggara. Para diplomat asing yang hadir menyambut baik inisiatif PDIP untuk terus mengangkat isu solidaritas antar negara berkembang. Kepala Sekolah Partai PDIP, Komarudin Watubun, melaporkan bahwa acara ini merupakan bagian dari seri pendidikan geopolitik yang akan disahkan dalam kurikulum tetap Sekolah Partai.

Megawati menutup sambutannya dengan menegaskan kembali komitmennya untuk memperjuangkan semangat Asia-Afrika. “Dalam rapat pleno partai berikutnya, saya akan meminta agar setiap kader memahami sejarah ini dan mampu menyuarakan di forum internasional. Kami tidak boleh hanya menjadi penonton di negeri sendiri,” tandasnya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User