Megawati Resmikan Monumen Kudatuli di DPP PDIP Bersama Prananda

JAKARTA — Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri meresmikan Monumen Kudatuli di halaman Kantor Dewan Pimpinan Pusat partai, Jalan Diponegoro, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu pagi. Peresmian ...

Megawati Resmikan Monumen Kudatuli di DPP PDIP Bersama Prananda

JAKARTA — Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri meresmikan Monumen Kudatuli di halaman Kantor Dewan Pimpinan Pusat partai, Jalan Diponegoro, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu pagi. Peresmian digelar tepat pada puncak peringatan 30 tahun tragedi penyerbuan kantor yang ketika itu menjadi markas PDI.

Prosesi peresmian berlangsung khidmat sejak pukul 08.30 WIB. Megawati hadir didampingi putranya yang juga menjabat sebagai Ketua DPP Bidang Ekonomi Kreatif dan Ekonomi Digital, Prananda Prabowo. Keduanya berjalan bersama menuju lokasi monumen yang terletak di sisi timur kompleks kantor DPP setelah sebelumnya mengikuti upacara peringatan di aula utama.

Monumen itu dibangun sebagai penanda sejarah bahwa pada 27 Juli 1996, kantor DPP PDI di Jalan Diponegoro diserang oleh massa yang diduga dikerahkan oleh kekuatan politik tertentu pada masa Orde Baru. Peristiwa yang dikenal dengan sebutan Kudatuli—kependekan dari Dua Tujuh Juli—menewaskan sedikitnya lima orang dan melukai puluhan lainnya. Serangan tersebut menjadi salah satu titik paling gelap dalam perjalanan demokrasi Indonesia sekaligus menjadi katalis bagi gelombang reformasi dua tahun kemudian.

Desain Monumen dan Simbolisme Historis

Monumen Kudatuli didesain dalam bentuk tugu perunggu setinggi enam meter yang dikelilingi relief naratif. Relief tersebut menggambarkan kronologi peristiwa mulai dari masa menjelang penyerbuan, detik-detik penyerangan, hingga dampak politik yang mengikutinya. Di bagian puncak tugu terdapat ornamen api abadi berlapis emas sebagai lambang semangat yang tidak pernah padam.

Arsitek monumen, yang namanya dirahasiakan oleh panitia, menjelaskan bahwa material perunggu dipilih untuk merepresentasikan ketahanan dan keabadian ingatan kolektif. Di sekeliling dasar tugu terukir nama-nama korban meninggal dunia dalam tragedi tersebut. Posisi monumen ditata menghadap langsung ke gerbang utama sebagai pesan terbuka kepada setiap orang yang memasuki kompleks DPP bahwa ingatan akan peristiwa itu tidak akan pernah dilenyapkan.

Di area monumen juga disediakan ruang kontemplasi seluas 120 meter persegi yang dilengkapi panel digital interaktif. Pengunjung dapat mengakses arsip foto, rekaman video, dan dokumen-dokumen terkait tragedi Kudatuli melalui panel tersebut. Panitia menyatakan bahwa seluruh konten diarsipkan secara permanen di server internal partai sebagai bagian dari upaya pelestarian memori sejarah.

Pernyataan Megawati: Jangan Pernah Lupakan Sejarah

Dalam sambutannya sebelum peresmian, Megawati menyampaikan pesan tegas kepada seluruh kader dan simpatisan yang memadati kompleks DPP. Ia menekankan bahwa monumen tersebut tidak sekadar menjadi ornamen fisik, tetapi juga menjadi pengingat bahwa demokrasi yang dinikmati saat ini dibayar dengan darah dan air mata para pendahulu.

“Monumen ini adalah suara dari masa lalu yang tidak boleh dibungkam. Setiap lekuk dan ukirannya berbicara tentang luka, tetapi juga tentang keberanian untuk bangkit. Saya ingin anak-cucu kita tahu bahwa demokrasi Indonesia lahir dari rahim penderitaan,”

Megawati mengucapkan pernyataan itu dengan suara lantang di hadapan sekitar dua ribu kader yang hadir dari berbagai daerah. Ia juga menyinggung pentingnya mentransformasikan ingatan sejarah menjadi kekuatan politik yang membangun, bukan meruntuhkan. Menurutnya, generasi muda harus memahami konteks tragedi tanpa terjebak dalam kebencian yang berkepanjangan.

Prananda Prabowo yang turut memberikan sambutan mewakili generasi penerus partai menyatakan bahwa monumen tersebut adalah jawaban atas upaya sistematis untuk menghapus narasi Kudatuli dari catatan sejarah nasional.

“Kami membangun monumen ini bukan untuk merayakan duka, melainkan untuk memastikan bahwa fakta tidak bisa diputarbalikkan. Ini adalah arsip yang berdiri kokoh menantang waktu,”

Prananda menegaskan bahwa generasi penerus memiliki tanggung jawab untuk menjaga narasi sejarah tetap autentik. Ia juga menyampaikan bahwa partai akan mendorong kurikulum pendidikan politik berbasis sejarah bagi seluruh kader baru yang dimulai pada tahun 2027 mendatang.

Rangkaian Acara dan Kehadiran Tokoh Nasional

Peresmian monumen menjadi puncak dari rangkaian acara peringatan 30 tahun Kudatuli yang telah berlangsung selama satu pekan penuh. Sebelumnya, DPP PDIP menggelar diskusi kebangsaan, pameran foto dokumenter, serta doa bersama lintas agama. Pada puncak acara, sejumlah tokoh nasional dan perwakilan partai politik hadir memberikan penghormatan.

Tampak hadir di antaranya mantan Wakil Presiden Try Sutrisno, mantan Ketua MPR Amien Rais, serta sejumlah mantan aktivis 1998 yang kini menduduki jabatan publik. Perwakilan dari partai-partai koalisi juga terlihat mengirimkan delegasi resmi mereka. Kehadiran lintas spektrum politik tersebut menjadi simbol bahwa ingatan terhadap Kudatuli melampaui batas-batas ideologi dan kepentingan elektoral.

Upacara ditutup dengan peletakan karangan bunga oleh Megawati, Prananda, dan keluarga korban di bawah tugu utama. Prosesi berlangsung dalam keheningan panjang selama tiga menit yang diiringi lagu “Gugur Bunga” yang dimainkan oleh korps musik TNI. Sejumlah kader senior yang merupakan saksi langsung peristiwa 1996 tidak kuasa menahan air mata saat prosesi berlangsung.

Monumen Kudatuli kini berdiri permanen dan dibuka untuk kunjungan publik dengan sistem registrasi daring melalui laman resmi partai. Panitia menyatakan bahwa kunjungan akan diatur dalam jadwal-jadwal tertentu untuk menjaga keamanan dan keutuhan fasilitas. Dengan diresmikannya monumen ini, PDI Perjuangan menegaskan posisinya sebagai partai yang tidak akan membiarkan ingatan sejarah dilupakan oleh perjalanan waktu.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User