Literasi Digital Perempuan Jadi Kunci Keamanan Anak di Ruang Digital

JAKARTA — Kecakapan perempuan Indonesia di ruang digital menjadi faktor penentu bagi keamanan anak-anak dalam mengakses internet, seiring penetrasi internet nasional yang kini menembus 81,7 persen d...

Literasi Digital Perempuan Jadi Kunci Keamanan Anak di Ruang Digital

JAKARTA — Kecakapan perempuan Indonesia di ruang digital menjadi faktor penentu bagi keamanan anak-anak dalam mengakses internet, seiring penetrasi internet nasional yang kini menembus 81,7 persen dari total populasi. Sejumlah survei nasional mencatat keterlibatan perempuan di dunia maya terus meningkat dari tahun ke tahun, sehingga peran mereka sebagai garda terdepan pendampingan literasi digital generasi muda dipandang kian strategis.

Anak-anak Indonesia dewasa ini lahir dan tumbuh sebagai generasi digital native, yakni generasi yang sejak usia dini berinteraksi dengan gawai dan jaringan internet. Kondisi tersebut membuka akses terhadap berbagai kemudahan serta informasi yang tersaji secara instan. Namun, di balik peluang itu, dunia digital juga menyimpan ancaman serius, mulai dari paparan konten negatif, perundungan siber atau cyberbullying, hingga risiko kecanduan gawai. Tidak seluruh anak dibekali pengetahuan memadai untuk menghadapi kompleksitas ruang siber, sehingga pendampingan orang dewasa, khususnya perempuan, menjadi kebutuhan mendesak.

Penetrasi Internet Nasional Terus Meningkat

Berdasarkan hasil survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), jumlah pengguna internet di Tanah Air pada awal 2022 tercatat sebanyak 204,7 juta jiwa atau setara 73,7 persen dari total penduduk. Angka tersebut terus merangkak naik. Dalam Survei Profil Internet Indonesia 2026, jumlah pengguna internet nasional tercatat menembus 235,26 juta jiwa, setara 81,7 persen dari total populasi.

Meski demikian, tingkat partisipasi perempuan di ruang digital masih tertinggal dibandingkan laki-laki. Survei APJII 2026 mencatat penetrasi internet pada kelompok laki-laki mencapai 83,95 persen, sementara pada kelompok perempuan sebesar 79,79 persen. Kesenjangan tersebut menunjukkan tren mengecil dari tahun ke tahun, namun belum sepenuhnya tertutup.

Indeks Literasi Digital Perempuan Masih Tertinggal

Kesenjangan gender di ruang digital tidak semata-mata persoalan akses, melainkan juga menyangkut kecakapan. Survei Status Literasi Digital Indonesia 2022 yang dilaksanakan Kementerian Komunikasi dan Informatika, yang kini bertransformasi menjadi Kementerian Komunikasi dan Digital, bersama Katadata Insight Center mencatat skor indeks literasi digital perempuan berada pada level 3,52 dari skala 1 hingga 5. Angka itu sedikit lebih rendah ketimbang skor laki-laki yang mencapai 3,56.

Pengukuran dalam survei tersebut mencakup empat pilar, yakni kecakapan digital, etika digital, keamanan digital, dan budaya digital. Skor perempuan tercatat sedikit di bawah laki-laki pada hampir seluruh pilar, kecuali pilar budaya digital yang menunjukkan capaian setara. Data ini menegaskan bahwa penguatan kapasitas perempuan di ruang siber masih menjadi pekerjaan rumah bersama.

Dari sisi pemanfaatan platform, media sosial menjadi kanal digital yang paling banyak diakses perempuan. Kelompok perempuan usia produktif, yakni 18 hingga 34 tahun, mendominasi penggunaan platform seperti Instagram, TikTok, dan Facebook. Dominasi tersebut menunjukkan besarnya keterlibatan perempuan usia produktif dalam aktivitas di ruang digital.

Peran Strategis Perempuan bagi Generasi Digital

Tingginya keterlibatan perempuan usia produktif di media sosial membuka peluang besar, mengingat kelompok usia tersebut umumnya berada pada fase membangun keluarga dan mengasuh anak. Dengan posisi itu, perempuan berada pada garis terdepan dalam membimbing anak mengenali, memilah, dan memanfaatkan konten digital secara sehat dan aman.

"Penguatan kecakapan digital perempuan tidak hanya berdampak pada diri mereka sendiri, tetapi juga menentukan kualitas pendampingan terhadap anak-anak Indonesia di ruang siber."

Pendampingan yang dilakukan perempuan terhadap anak dinilai efektif apabila diikuti pemahaman memadai mengenai seluk-beluk ruang digital. Pengetahuan mengenai pengaturan privasi, pengenalan konten layak anak, serta pengelolaan waktu penggunaan gawai menjadi bekal penting yang perlu dikuasai. Tanpa bekal tersebut, anak berpotensi menghadapi berbagai risiko siber tanpa perlindungan yang memadai.

Sejumlah kalangan menilai peningkatan literasi digital perempuan perlu ditindaklanjuti melalui program edukasi yang terstruktur dan berkelanjutan, baik oleh pemerintah, lembaga pendidikan, maupun komunitas masyarakat. Upaya tersebut sejalan dengan agenda pemerintah mempercepat transformasi digital nasional yang inklusif dan aman bagi seluruh warga, termasuk anak-anak.

Dengan jumlah pengguna internet yang terus bertumbuh dan kesenjangan gender yang perlahan menipis, penguatan literasi digital perempuan dipandang sebagai investasi jangka panjang bagi masa depan generasi penerus bangsa. Perempuan yang melek digital diyakini mampu menjadi kiblat bagi tumbuhnya anak-anak Indonesia yang cerdas, beretika, dan aman di ruang siber.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
tania-sari

Reporter Hukum. Meliput Mahkamah Konstitusi, judicial review, dan dinamika legislasi.

Comments (0)

User