Sep 01, 2026
Politik

Kurir Difabel di Medan Raih Penghasilan Sendiri Tanpa Bantuan Pemerintah

Iqbal Marqori (32) harus kehilangan kaki kanannya setelah mengalami kecelakaan pada 2015. Meskipun demikian, pria asal Medan, Sumatera Utara, itu tidak pernah menyerah. Ia kini menjalani hidup sebagai...

Kurir Difabel di Medan Raih Penghasilan Sendiri Tanpa Bantuan Pemerintah

Iqbal Marqori (32) harus kehilangan kaki kanannya setelah mengalami kecelakaan pada 2015. Meskipun demikian, pria asal Medan, Sumatera Utara, itu tidak pernah menyerah. Ia kini menjalani hidup sebagai kurir pengantar makanan secara mandiri dan berhasil masuk kategori Desil 6-10 berdasarkan tingkat kesejahteraan ekonomi rumah tangganya.

Jalan Berliku Menuju Medan

Sebelum menetap di Kota Medan, Iqbal terlebih dahulu merintis kehidupan di Padang, Sumatera Barat. Pada 2020, ia mencoba keberuntungan dengan berjualan kerupuk setelah tidak mendapat pekerjaan layak di sana.

"Dikasih pekerjaan, cuma kita cari pekerjaan di sana tidak dapat. Cari kerja susah, apalagi keadaan kita seperti ini. Makanya saya bersyukur waktu itu ada yang menawari kerjaan jualan kerupuk. Tidak apa-apa, asal tidak minta-minta," tutur Iqbal saat ditemui di kediamannya, Senin (31/8).

Keberhasilan Iqbal berjualan kerupuk di Padang tidak berlangsung lama. Ia kemudian memutuskan untuk pindah ke Kota Medan dengan harapan memperoleh peluang pekerjaan yang lebih luas. Di Medan, ia menetap di rumah kontrakan milik saudara iparnya yang dibanderol sewa Rp 7 juta per tahun.

Menjadi Kurir Pengantar Makanan

Di Kota Medan, Iqbal memutuskan bergabung menjadi kurir online pengantar makanan. Kondisi fisiknya yang terbatas tidak menyurutkan semangatnya dalam bekerja. Ia menggunakan tongkat untuk membantu mobilitasnya sehari-hari.

Hasil kerja kerasnya sebagai kurir membuahkan penghasilan rata-rata Rp 150.000 per hari. Namun, Iqbal mengakui bahwa pendapatannya tidak selalu stabil. Ada kalanya seluruh penghasilannya hanya cukup untuk meng-cover biaya bahan bakar kendaraan.

"Pernah sehari tidak dapat gaji. Cuma cukup untuk biaya BBM, kadang kalau sepi orderannya gitu," jelas Iqbal.

Selain penghasilan dari pesanan, Iqbal juga menerima uang tip serta bahan pokok seperti beras dari beberapa pelanggan yang simpatik. Hal tersebut sangat membantu dalam memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari.

Ujian di Tengah Pekerjaan

Kehidupan sebagai kurir tidak selalu berjalan mulus bagi Iqbal. Ia pernah mengalami kecelakaan di jalan yang menyebabkan barang pesanan pelanggan rusak. Iqbal menanggung sendiri kerugian tersebut.

"Saya pegang handphone sambil lihat maps itu. Jadi tidak tahu tiba-tiba jatuh dari gantungan sampai pecah. Waktu sampai ke customer saya bilang 'Ya sudah kita ganti ya kak'. Namanya kesalahan kita kan," papar Iqbal.

Insiden tersebut tidak membuat Iqbal patah semangat. Ia terus bekerja dan berusaha meningkatkan pelayanannya kepada pelanggan.

Tidak Pernah Menerima Bantuan Pemerintah

Meskipun menyandang disabilitas dan telah melewati berbagai keterbatasan, Iqbal mengaku tidak pernah menerima bantuan apa pun dari pemerintah. Ia memilih untuk menempuh jalan mandiri dalam menghidupi dirinya.

Berdasarkan data kesejahteraan ekonomi rumah tangganya, Iqbal masuk dalam Desil 6-10 yang tergolong kelompok menengah ke atas. Hal ini menunjukkan bahwa hasil kerja kerasnya sebagai kurir pengantar makanan telah mampu mengangkat taraf hidupnya secara ekonomi.

Keberhasilan Iqbal Marqori menjadi bukti bahwa keterbatasan fisik bukanlah penghalang untuk berkontribusi secara ekonomi. Dengan semangat pantang menyerah, ia membuktikan bahwa setiap individu memiliki hak dan kemampuan untuk meraih kemandirian finansial.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS bagus-nugroho

Reporter Kebijakan Publik. Fokus pada APBN, otonomi daerah, dan reformasi birokrasi.

Comments (0)

User