Oct 10, 2026
Politik

Krisis Air Bersih di Bantul, Warga dan Siswa Gelar Salat Istisqa

BANTUL — Ratusan siswa Sekolah Dasar Muhammadiyah Geger bersama warga Kapanewon Pundong, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, menggelar Salat Istisqa berjamaah pada Selasa, 15 Juli 2025. Ib...

Krisis Air Bersih di Bantul, Warga dan Siswa Gelar Salat Istisqa

BANTUL — Ratusan siswa Sekolah Dasar Muhammadiyah Geger bersama warga Kapanewon Pundong, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, menggelar Salat Istisqa berjamaah pada Selasa, 15 Juli 2025. Ibadah tersebut dilaksanakan sebagai ikhtiar spiritual untuk memohon kepada Allah SWT agar menurunkan hujan di tengah krisis air bersih yang melanda wilayah selatan Bantul. Kegiatan ini berlangsung di halaman sekolah dan diikuti oleh pelajar, guru, serta masyarakat setempat sejak pukul 07.00 WIB.

Krisis Air Melanda Sejumlah Kapanewon

Berdasarkan data yang dihimpun, kekeringan yang melanda Bantul tahun ini berdampak pada ribuan warga di sejumlah kapanewon, termasuk Pundong, Srandakan, Sanden, dan Bambanglipuro. Sumur-sumur warga dilaporkan mengalami penurunan debit air secara signifikan, sementara pasokan air dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) belum sepenuhnya menjangkau seluruh permukiman. Kondisi ini memaksa sebagian warga membeli air tangki secara swadaya dengan biaya yang tidak sedikit.

"Kami sudah hampir dua bulan kesulitan mendapatkan air bersih. Sumur di rumah kami kering, jadi setiap hari harus membeli air dari tangki," ujar Suparjo, seorang warga Pundong, saat ditemui di lokasi kegiatan. Ia menyatakan bahwa kebutuhan air untuk konsumsi, mandi, dan mencuci menjadi beban ekonomi tersendiri bagi keluarga dengan penghasilan terbatas.

Salat Istisqa sebagai Ikhtiar Bersama

Kepala SD Muhammadiyah Geger, Ahmad Fauzi, menyatakan bahwa pelaksanaan Salat Istisqa merupakan bentuk pendidikan spiritual sekaligus kepedulian sosial terhadap persoalan yang dihadapi masyarakat. Menurutnya, siswa dilibatkan agar memahami pentingnya menjaga lingkungan dan mendekatkan diri kepada Tuhan dalam menghadapi musibah. "Kami menegaskan bahwa ikhtiar lahir dan batin harus berjalan seiring. Anak-anak kami ajak berdoa, tetapi kami juga mengajarkan pentingnya hemat air," ujarnya.

"Kami mengajak seluruh warga untuk memperbanyak istighfar, meninggalkan perbuatan yang merusak alam, serta menghidupkan sedekah air bagi tetangga yang membutuhkan," kata Ustaz Muhammad Ridwan, penceramah dalam kegiatan tersebut.

Dalam khutbahnya, Ridwan mengingatkan bahwa kekeringan merupakan peringatan agar manusia tidak mengeksploitasi alam secara berlebihan. Ia mengutip dalil yang menganjurkan umat Islam untuk melaksanakan Salat Istisqa ketika hujan tidak turun dalam waktu lama, seraya memperbaiki hubungan dengan sesama dan lingkungan.

Pemerintah Daerah Diminta Bergerak Cepat

Anggota Komisi B Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Bantul, Siti Nurhayati, mendesak pemerintah daerah mempercepat distribusi air bersih ke wilayah terdampak. Menurutnya, penanganan darurat perlu dilakukan mengingat dampak kekeringan telah merambah sektor pendidikan dan kesehatan. "Kami meminta Dinas Sosial dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah untuk melakukan pendataan dan penyaluran air secara berkala. Jangan sampai warga menunggu terlalu lama," tegasnya saat dihubungi melalui sambungan telepon.

Sementara itu, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bantul menyatakan bahwa pihaknya telah menyiapkan armada tangki air dan berkoordinasi dengan pemerintah kapanewon. Berdasarkan laporan sementara, sejumlah titik droping air bersih telah ditetapkan, termasuk di Kapanewon Pundong, Sanden, dan Srandakan. "Kami menindaklanjuti laporan masyarakat dengan melakukan asesmen di lapangan. Prioritas diberikan kepada wilayah dengan tingkat kekeringan tertinggi," ujarnya.

Imbauan Hemat Air dan Mitigasi Jangka Panjang

Pengamat lingkungan dari Universitas Gadjah Mada, Dr. Bambang Sutrisno, menilai bahwa kekeringan di Bantul tidak dapat diselesaikan hanya dengan penambahan pasokan air. Menurutnya, diperlukan konservasi daerah resapan air, pembangunan embung, serta pengendalian alih fungsi lahan di kawasan perbukitan. Ia menyatakan bahwa pola curah hujan yang berubah akibat dinamika iklim global menuntut perencanaan sumber daya air yang lebih adaptif.

"Pemerintah kabupaten perlu menyusun rencana induk air bersih berbasis daerah aliran sungai. Selama ini penanganan lebih bersifat responsif, bukan preventif," kata Bambang. Ia juga mengingatkan pentingnya edukasi kepada masyarakat mengenai pemanenan air hujan dan penggunaan kembali air domestik.

Hingga berita ini diturunkan, kegiatan Salat Istisqa di Pundong berjalan tertib dan diakhiri dengan doa bersama. Warga berharap hujan segera turun sehingga krisis air bersih dapat teratasi. Pemerintah daerah dijadwalkan menggelar rapat koordinasi lanjutan guna menetapkan langkah mitigasi kekeringan untuk periode berikutnya.

Kegiatan serupa dilaporkan juga digelar di sejumlah masjid dan sekolah di wilayah selatan Bantul. Pengurus Muhammadiyah setempat menyatakan akan menginstruksikan seluruh amal usaha untuk menggelar Salat Istisqa hingga kondisi membaik. Mereka menegaskan bahwa doa bukan pengganti kerja nyata, melainkan penguat ikhtiar dalam menghadapi persoalan kekeringan yang berdampak luas bagi kehidupan warga.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS tania-sari

Reporter Hukum. Meliput Mahkamah Konstitusi, judicial review, dan dinamika legislasi.

Comments (0)

User