Korban Tewas Gempa Ganda Venezuela Capai 4.333 Jiwa
Caracas — Jumlah korban tewas akibat gempa bumi ganda yang mengguncang Venezuela pada 24 Juni 2025 terus bertambah. Berdasarkan data resmi yang dirilis Pusat Operasi Darurat Nasional (COEN) pada Sen...
Caracas — Jumlah korban tewas akibat gempa bumi ganda yang mengguncang Venezuela pada 24 Juni 2025 terus bertambah. Berdasarkan data resmi yang dirilis Pusat Operasi Darurat Nasional (COEN) pada Senin (30/6), angka kematian mencapai 4.333 orang. Sementara itu, korban luka tercatat lebih dari 12.500 orang dan sekitar 2.100 warga masih dinyatakan hilang. Bencana ini menjadi salah satu tragedi seismik terburuk dalam sejarah Venezuela modern.
Gempa pertama berkekuatan 7,8 magnitudo terjadi pukul 15.11 waktu setempat dengan pusat di kedalaman 10 kilometer di lepas pantai negara bagian Sucre. Hanya berselang 37 menit, gempa susulan berkekuatan 7,4 magnitudo kembali mengguncang dari episentrum yang berdekatan. Kedua guncangan memicu longsor di kawasan pegunungan pesisir serta gelombang tsunami setinggi tiga meter yang menyapu permukiman di sepanjang Teluk Cariaco.
Kronologi dan Dampak di Lapangan
Data dari Badan Survei Geologi Venezuela (Ingeomin) menunjukkan bahwa gempa pertama menghancurkan 70 persen infrastruktur di kota Cumaná, ibu kota Sucre, dalam hitungan menit. Rumah-rumah berlantai dua ambruk, jaringan listrik terputus total, dan sejumlah fasilitas kesehatan lumpuh. Gelombang tsunami yang menyusul memperparah kehancuran di pesisir, menenggelamkan desa-desa nelayan seperti San Juan de Las Galdonas dan Mariguitar.
Kepala COEN, Mayor Jenderal Antonio Rivero, menyatakan bahwa tim penyelamat bekerja tanpa henti. “Kami menghadapi medan yang sangat sulit. Longsor menutup akses jalan utama ke zona terdampak. Hingga hari ketujuh, kami masih menemukan jasad korban di bawah reruntuhan,” ujarnya dalam konferensi pers di Caracas. Jumlah 4.333 korban tewas itu, kata Rivero, masih berpotensi meningkat karena banyak laporan warga hilang di daerah terpencil.
Upaya Pencarian dan Pertolongan
Operasi SAR melibatkan lebih dari 8.000 personel gabungan dari militer, pemadam kebakaran, Palang Merah, dan relawan. Helikopter dikerahkan untuk menjangkau desa-desa yang terisolasi di Pegunungan Turimiquire. Namun, hujan deras yang turun sejak 26 Juni memicu banjir bandang dan memperlambat evakuasi. Di Güiria, puluhan korban selamat ditemukan dalam kondisi kritis setelah empat hari terperangkap di bawah beton tanpa makanan.
Rumah Sakit Antonio Patricio de Alcalá di Cumaná, yang sempat lumpuh, kini beroperasi di tenda darurat. “Kami kekurangan obat antibiotik dan perban. Ruang operasi bergerak hanya cukup untuk menangani 30 persen pasien luka berat,” kata dr. Elena Cabello, koordinator medis lapangan. Tim forensik juga kesulitan mengidentifikasi jenazah yang membusuk akibat cuaca tropis.
Respons Pemerintah dan Bantuan Internasional
Presiden Venezuela, dalam pidato kenegaraan darurat, menetapkan masa berkabung nasional selama dua pekan dan menginstruksikan mobilisasi anggaran rekonstruksi sebesar 2 miliar dolar AS. “Negara akan hadir untuk setiap keluarga yang kehilangan. Kita akan bangkit dari puing-puing ini,” tegasnya di hadapan parlemen.
Komunitas internasional merespons cepat. Perserikatan Bangsa-Bangsa melalui OCHA mengucurkan dana darurat 50 juta dolar AS untuk logistik dan tenda pengungsian. Brasil, Kolombia, dan Meksiko mengirim tim USAR (Urban Search and Rescue) lengkap dengan anjing pelacak. Kapal rumah sakit Angkatan Laut Amerika Serikat, USNS Comfort, juga dijadwalkan tiba di perairan Venezuela pada 3 Juli. Sementara itu, Palang Merah Internasional membuka posko pengungsian di Puerto La Cruz yang menampung 20.000 warga.
Tantangan Rekonstruksi Jangka Panjang
Di luar korban jiwa, gempa ganda ini menghancurkan 85.000 unit rumah dan memutus jalur distribusi bahan bakar di wilayah timur. Pelabuhan utama di Guanta dan Pertigalete rusak parah sehingga pasokan bantuan laut terhambat. Menteri Perumahan, dalam jumpa pers, menyampaikan bahwa pemerintah menargetkan pembangunan 15.000 hunian sementara dalam 90 hari ke depan, tetapi keterbatasan lahan datar di zona pesisir menjadi kendala.
Ahli seismologi dari Universitas Simón Bolívar, Prof. Armando Lozada, menjelaskan bahwa gempa ini dipicu aktivitas Sesar El Pilar yang merupakan bagian dari batas lempeng Karibia-Amerika Selatan. “Kami sudah memetakan potensi gempa susulan dengan magnitudo di bawah 6,0 masih akan terjadi dalam beberapa minggu ini. Masyarakat harus tetap waspada,” katanya. Bencana 24 Juni ini, menurut Lozada, melebihi magnitudo gempa Caracas 1967 yang menewaskan sekitar 300 orang.
Di tingkat akar rumput, solidaritas warga menjadi tumpuan. Jaringan radio komunitas di Sucre mengoordinasikan distribusi air bersih dan makanan siap saji. Namun, trauma mendalam menyelimuti para penyintas. Di barak pengungsian, anak-anak menolak masuk bangunan permanen karena takut reruntuhan. Psikolog dari Universitas Central Venezuela telah membuka layanan konseling kelompok. “Luka fisik bisa disembuhkan, tetapi luka batin butuh waktu lebih panjang,” ungkap psikolog klinis Martha Sanoja.
Seiring berjalannya waktu, fokus penanganan bergeser dari pencarian darurat ke pemulihan. Pemerintah provinsi Sucre dan Monagas membentuk satuan tugas inventarisasi kerusakan agar bantuan tepat sasaran. Komisi Nasional Gempa Bumi akan melakukan audit keselamatan gedung-gedung publik yang selamat. Meski duka masih pekat, tekad untuk membangun kembali dengan standar tahan gempa menjadi benang merah di setiap rapat koordinasi. 4.333 nama yang telah pergi tercatat sebagai pengingat bahwa mitigasi bencana bukan pilihan, melainkan keharusan.
Baca juga:
Comments (0)