Korban Jiwa Capai 1.000 Lebih, Mengapa Heatwave di Eropa Mematikan?

Jakarta - Gelombang panas ekstrem yang melanda kawasan Eropa telah menelan lebih dari 1.300 korban jiwa sejak 21 Juni lalu, menurut laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Suhu udara di sejumlah wi

Jul 08, 2026 - 04:58
0 0
Korban Jiwa Capai 1.000 Lebih, Mengapa Heatwave di Eropa Mematikan?

Jakarta - Gelombang panas ekstrem yang melanda kawasan Eropa telah menelan lebih dari 1.300 korban jiwa sejak 21 Juni lalu, menurut laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Suhu udara di sejumlah wilayah bahkan menyentuh angka 40 derajat Celsius, memicu kebakaran hutan massal dan membebani sistem layanan kesehatan secara signifikan. Puluhan juta penduduk Eropa terpaksa bertahan di tengah cuaca ekstrem yang terus bergerak ke arah timur kawasan tersebut.

Fenomena ini memunculkan pertanyaan kritis: mengapa suhu 40 derajat Celsius di Eropa bisa begitu mematikan, sementara banyak negara lain—terutama di kawasan tropis dan subtropis—justru rutin mengalami suhu serupa tanpa lonjakan angka kematian yang signifikan?

Berdasarkan penelusuran Apaberita.com, jawabannya terletak pada kombinasi faktor infrastruktur, adaptasi fisiologis, dan kesiapan sistemik. Eropa secara historis tidak dirancang untuk menghadapi suhu ekstrem berkepanjangan. Mayoritas bangunan dan rumah tinggal di kota-kota Eropa dibangun dengan orientasi menahan hawa dingin—bukan melepaskan panas. Material konstruksi seperti beton tebal dan minimnya ventilasi alami justru menciptakan efek "oven" di dalam ruangan saat suhu luar melonjak.

Kondisi ini diperparah dengan rendahnya tingkat kepemilikan pendingin ruangan (AC) di rumah tangga Eropa—kurang dari 10% di negara seperti Jerman dan Prancis—dibandingkan dengan lebih dari 90% di Amerika Serikat atau negara-negara Asia yang terbiasa dengan suhu tinggi.

Faktor kedua adalah adaptasi fisiologis populasi. Masyarakat Eropa, terutama kelompok lanjut usia dan mereka yang memiliki penyakit penyerta, tidak terbiasa secara biologis dengan tekanan panas ekstrem. Tubuh manusia memerlukan waktu untuk beraklimatisasi—proses yang bisa memakan waktu berminggu-minggu—dan gelombang panas yang datang tiba-tiba tidak memberikan jeda adaptasi yang cukup.

Selain itu, laporan dari media kami mengungkapkan bahwa suhu malam hari di Eropa selama heatwave tidak turun secara signifikan—fenomena yang dikenal sebagai "tropical nights." Suhu malam yang tetap tinggi di atas 25 derajat Celsius membuat tubuh kehilangan kesempatan untuk pulih dari tekanan panas di siang hari. Ini berbeda dengan banyak wilayah tropis di mana suhu malam masih bisa memberikan periode pendinginan alami bagi tubuh.

Dampak sistemik meluas ke sektor kesehatan masyarakat. Rumah sakit di Portugal, Spanyol, dan Italia melaporkan lonjakan pasien dengan gejala heatstroke, dehidrasi berat, dan gangguan kardiovaskular yang dipicu oleh tekanan panas. Otoritas kesehatan setempat mengakui kapasitas penanganan mulai kewalahan, mengingatkan bahwa krisis ini berpotensi melampaui kapasitas infrastruktur medis yang ada.

Faktor lingkungan turut memperburuk situasi. Kebakaran hutan yang dipicu oleh suhu ekstrem dan kekeringan di Prancis, Yunani, dan Portugal telah menghancurkan puluhan ribu hektare lahan, memaksa evakuasi massal, dan memperburuk kualitas udara. Asap dari kebakaran menambah beban pernapasan bagi populasi rentan. Apaberita.com mencatat bahwa kombinasi polusi udara dari kebakaran dan tekanan panas menciptakan "efek sinergis" yang melipatgandakan risiko mortalitas, terutama di kalangan lansia dan anak-anak.

Perubahan iklim diidentifikasi sebagai pendorong utama di balik frekuensi dan intensitas gelombang panas yang kian meningkat di Eropa. Studi terbaru menyebutkan bahwa pemanasan global membuat kejadian heatwave semacam ini menjadi setidaknya 10 kali lebih mungkin terjadi dibandingkan era pra-industri. Kawasan Eropa tercatat memanas dua kali lebih cepat dari rata-rata global, menjadikannya salah satu hotspot perubahan iklim yang paling rentan.

Pemerintah di sejumlah negara Eropa kini berlomba menerapkan langkah-langkah darurat—mulai dari membuka pusat pendinginan publik, mendistribusikan air minum gratis, hingga menerbitkan peringatan dini berbasis kode warna. Namun, pertanyaan besarnya adalah apakah langkah-langkah ini cukup untuk menghadapi musim panas yang diproyeksikan akan semakin brutal di tahun-tahun mendatang.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
hendra-wijaya

Editor Politik. Editor politik dan dinamika kekuasaan.

Comments (0)

User